π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Wednesday, December 25, 2024

Episode 4: Ritual di Ruang 404

Ceritaseramdulu,Banten - Setelah keberanian yang tersisa dikumpulkan, Raka memutuskan untuk memasuki Ruang 404. Ruangan itu dipenuhi dengan hawa dingin yang menusuk, meskipun tidak ada jendela yang terbuka. Di tengah ruangan, terdapat lingkaran besar yang dilukis di lantai dengan simbol-simbol aneh yang tak dikenalnya. Aroma dupa menyengat menguar di udara, bercampur dengan bau busuk yang tak terdefinisikan.

Ketika Raka mendekati lingkaran tersebut, ia melihat bayangan seseorang berdiri di sudut ruangan. Bayangan itu semakin jelas, memperlihatkan sosok seorang pria tua dengan pakaian dosen yang rapi, tetapi wajahnya tampak kosong tanpa ekspresi. Mata sosok itu berwarna merah menyala, dan senyumnya yang menyeramkan membuat bulu kuduk Raka berdiri.

"Selamat datang, Raka," suara sosok itu menggema, meskipun mulutnya tidak bergerak.

Raka membeku. Ia tidak pernah menyebutkan namanya kepada siapapun di kampus ini.

"Kenapa... siapa Anda?" tanyanya terbata-bata.

Sosok itu melangkah maju, menunjukkan bahwa ia adalah dosen yang selama ini disebut-sebut dalam rumor kampus. "Aku hanya mencoba menyelesaikan apa yang belum selesai," katanya. "Kamu datang ke sini mencari jawaban, bukan? Jawabannya ada di sini, tapi kamu harus membayar harganya."

Tiba-tiba, lingkaran di lantai mulai bercahaya, dan suara bisikan mulai terdengar di sekitar Raka. Bisikan itu menyebutkan namanya, seolah memanggilnya untuk masuk ke dalam lingkaran. Raka berusaha melawan rasa takutnya, tetapi kakinya terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang menariknya ke dalam.

Sebelum ia sepenuhnya menyerah, suara lain terdengar dari belakangnya. "Raka! Jangan masuk ke dalam lingkaran itu!" Itu adalah suara Ayu, temannya yang ternyata mengikutinya ke kampus malam itu. Ayu memegang secarik kertas yang tampak seperti bagian dari buku ritual.

Ayu membaca sesuatu dengan lantang, dan cahaya di lingkaran itu meredup. Sosok dosen itu mulai berteriak dengan suara yang tidak manusiawi, dan tubuhnya perlahan menghilang seperti asap. Lingkaran di lantai pudar, meninggalkan lantai kosong yang kini penuh dengan debu.

"Kenapa kamu di sini, Ayu?" tanya Raka dengan napas terengah-engah.

"Aku tahu kamu keras kepala, jadi aku mencarimu," jawab Ayu sambil menunjukkan buku ritual yang ia temukan di perpustakaan. "Tapi ini belum selesai. Kita harus menghancurkan ini sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi."

Raka dan Ayu kini menyadari bahwa mereka terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. Lingkaran itu hanyalah awal dari misteri yang lebih gelap di kampus ini.


πŸ‘ΏLANJUT KE EPISODE 5πŸ‘Ώ

Episode 3: Rahasia Gedung Arjuna

Ceritaseramdulu,Banten - Andi terbangun di ruang kesehatan kampus. Kepalanya masih berdenyut, dan tubuhnya terasa lemas. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi di perpustakaan, tetapi bayangan sosok Pak Darmawan masih menghantui pikirannya. Temannya, Rina, duduk di sebelahnya dengan wajah cemas.

"Kamu kenapa, Ndi? Katanya penjaga perpustakaan nemuin kamu pingsan di lorong rak tua. Kamu ngapain di sana?" tanya Rina.

Andi ragu untuk bercerita. Tapi setelah melihat kesungguhan di mata Rina, ia memutuskan untuk membuka diri. Ia menceritakan tentang jurnal Pak Darmawan dan sosok yang muncul di lorong perpustakaan. Wajah Rina berubah pucat saat mendengar cerita itu.

"Jadi, kamu juga tahu soal Pak Darmawan?" tanya Andi.

Rina mengangguk. "Aku pernah dengar cerita dari kakak tingkat. Katanya, dulu Pak Darmawan adalah dosen senior di kampus ini. Tapi dia meninggal secara misterius setelah kecelakaan di ruang 404. Ada yang bilang dia terjatuh dari tangga, tapi beberapa orang percaya ada sesuatu yang lebih menyeramkan."

Andi semakin penasaran. "Apa maksudmu, sesuatu yang menyeramkan?"

Rina melanjutkan dengan suara pelan, seolah takut ada yang mendengar. "Ruang 404 itu sebenarnya bukan ruang biasa. Katanya, dulu itu adalah tempat seorang mahasiswa melakukan ritual aneh. Ada rumor kalau mahasiswa itu mencoba memanggil arwah untuk balas dendam setelah ia gagal lulus karena Pak Darmawan."

Andi merasa bulu kuduknya berdiri. "Dan apa yang terjadi dengan mahasiswa itu?"

"Dia menghilang," jawab Rina singkat. "Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Tapi sejak saat itu, banyak kejadian aneh di ruang 404. Pak Darmawan adalah salah satu korbannya."

Malam harinya, Andi memutuskan untuk kembali ke Gedung Arjuna. Ia merasa harus menyelesaikan misteri ini sebelum menjadi semakin parah. Bersama Rina dan dua teman lainnya, Bima dan Sari, mereka menyelinap masuk ke gedung yang sudah kosong.

Saat mereka mendekati ruang 404, hawa dingin mulai terasa. Pintu ruang itu tampak sedikit terbuka, dan cahaya redup memancar dari dalam. Dengan hati-hati, Andi mendorong pintu tersebut. Ruangan itu kosong, tetapi di tengah-tengahnya ada lingkaran aneh yang tergambar di lantai, seperti simbol ritual.

Di dinding, mereka melihat tulisan besar berwarna merah: "Kamu tidak seharusnya ada di sini."

Tiba-tiba, pintu tertutup dengan keras, dan lampu ruangan mulai berkedip. Suara langkah kaki terdengar, semakin dekat. Sosok Pak Darmawan muncul di sudut ruangan, kali ini dengan wajah yang lebih menyeramkan. Matanya bersinar merah, dan tubuhnya terlihat seperti bayangan yang bergerak tidak wajar.

"Kalian semua sudah terlalu jauh," katanya dengan suara menggema.

Andi mencoba berbicara. "Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Anda terus menghantui kampus ini?"

Pak Darmawan tertawa dingin. "Kalian tidak akan pernah mengerti. Ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang apa yang kalian bangkitkan di tempat ini."

Tiba-tiba, lingkaran di lantai mulai bercahaya, dan suara bisikan terdengar dari segala arah. Rina menjerit, dan Bima mencoba membuka pintu, tetapi pintu itu tidak bergerak. Sosok-sosok bayangan mulai muncul di sekeliling mereka, mengintai dari kegelapan.

πŸ‘ΏLANJUT KE EPISODE 4πŸ‘Ώ

Episode 2: Pertemuan di Perpustakaan

Ceritaseramdulu,Banten - Setelah kejadian malam itu, ketua kelas, Andi, merasa terguncang. Wajah dosen dengan tatapan tajam dan senyum dingin terus menghantui pikirannya. Andi mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi, mungkin efek dari terlalu lelah. Namun, teman-temannya yang berada di kelas malam itu juga merasakan hal yang sama: hawa dingin, suasana aneh, dan kehadiran yang tidak biasa.

Beberapa hari kemudian, Andi mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang Pak Darmawan, dosen yang mereka temui malam itu. Ia pergi ke perpustakaan kampus, berharap bisa menemukan arsip atau dokumen tentang dosen-dosen lama.

Saat sedang mencari di rak buku tua, ia menemukan sebuah buku catatan yang tampak berbeda dari yang lain. Buku itu berdebu, dengan sampul hitam polos tanpa judul. Ketika ia membukanya, ia terkejut melihat bahwa itu adalah jurnal pribadi milik seseorang bernama Darmawan.

Catatan di dalam jurnal:

"Hari ini, aku merasa ada yang mengawasiku. Sejak kecelakaan di ruang 404, aku tidak bisa tidur nyenyak. Suara langkah kaki, bisikan, dan bayangan hitam terus menghantuiku. Aku takut, tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus bercerita. Mereka bilang itu hanya halusinasi, tapi aku tahu ada sesuatu di gedung ini yang tidak bisa dijelaskan."

Andi merinding membaca tulisan itu. Ia mencoba membalik halaman lebih jauh, tetapi beberapa halaman terlihat seperti terbakar, meninggalkan bekas gosong di ujungnya. Di halaman terakhir yang utuh, ia membaca satu kalimat yang membuat bulu kuduknya berdiri:

"Jika kau membaca ini, aku sudah pergi. Tapi ingatlah, aku tidak pernah benar-benar meninggalkan ruang itu."

Tiba-tiba, lampu perpustakaan berkedip-kedip. Andi merasa suhu ruangan menjadi lebih dingin. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat, meskipun tidak ada orang lain di sana. Perlahan, ia menoleh, dan di ujung lorong rak buku, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya—Pak Darmawan.

"Kenapa kamu mencari saya, Andi?" suara itu bergema, rendah dan menyeramkan.

Andi terdiam, tubuhnya kaku. Ia ingin berlari, tetapi kakinya terasa seperti terpaku di lantai. Sosok itu mendekat, langkahnya tanpa suara, dan wajahnya yang pucat tampak semakin jelas. Mata Pak Darmawan memancarkan sinar merah yang sama seperti malam di ruang 404.

"Jangan ganggu aku lagi... atau kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang itu," bisiknya dengan suara yang mengerikan.

Andi jatuh pingsan. 

πŸ‘ΏLANJUT KE EPISODE 3πŸ‘Ώ

Episode 1: Kelas Malam yang Terlupakan

Ceritaseramdulu,Banten - Di sebuah universitas tua yang sudah berdiri lebih dari seabad, terdapat sebuah gedung fakultas yang jarang digunakan. Gedung itu, Gedung Arjuna, terkenal sebagai tempat yang angker. Sebagian besar mahasiswa menghindarinya, terutama saat malam hari. Namun, beberapa kelas malam tetap diadakan di sana karena keterbatasan ruang.

Suatu malam, Rina, seorang mahasiswa tingkat akhir, harus mengikuti kelas tambahan karena absen sebelumnya. Kelas itu dijadwalkan pukul 8 malam di ruangan 404, lantai tertinggi Gedung Arjuna. Saat tiba, gedung itu terasa sunyi, hanya suara langkah kakinya yang bergema di lorong panjang.

Ketika Rina membuka pintu ruangan, ia melihat seorang dosen berpenampilan rapi, mengenakan jas hitam dengan rambut yang disisir rapi. Dosen itu memperkenalkan dirinya sebagai Pak Darmawan, dosen pengganti. "Silakan duduk. Kita mulai tepat waktu," katanya dengan suara tenang namun dingin.

Rina memperhatikan bahwa ia satu-satunya mahasiswa di kelas itu. "Yang lain mana, Pak?" tanyanya. Pak Darmawan hanya tersenyum tipis dan berkata, "Mereka akan datang nanti." Tanpa banyak pikir, Rina duduk di barisan depan.

Pak Darmawan mulai menjelaskan materi dengan sangat detail. Suaranya tenang, tetapi ada sesuatu yang aneh. Setiap kali Rina mencoba mencatat, ia merasa seolah-olah tulisan di papan tulis berubah menjadi simbol-simbol aneh yang tidak ia mengerti. Ruangan itu juga terasa semakin dingin, meskipun semua jendela tertutup rapat.

Tiba-tiba, lampu di ruangan berkedip-kedip. Rina mencoba menenangkan diri, tetapi ia merasa ada sesuatu yang salah. Saat ia menoleh ke belakang, ruangan itu kosong—tidak ada siapa pun selain dirinya dan Pak Darmawan.

"Rina, kamu harus fokus," kata Pak Darmawan sambil menatapnya tajam. Matanya terlihat merah menyala sesaat sebelum kembali normal. Rina terdiam, merasa tubuhnya kaku. Ia ingin lari, tetapi kakinya tidak bisa digerakkan.

Saat jam menunjukkan pukul 9 malam, bel berbunyi. Pak Darmawan tersenyum dan berkata, "Kelas selesai. Sampai jumpa minggu depan." Rina bergegas keluar tanpa menoleh ke belakang. Namun, saat ia melewati lorong, ia mendengar suara langkah kaki lain di belakangnya. Saat menoleh, ia melihat bayangan Pak Darmawan berdiri di ujung lorong, menatapnya tanpa berkedip.

Ketika Rina sampai di pintu keluar, ia bertemu dengan seorang satpam. "Mbak, ngapain di dalam? Gedung ini sudah dikunci sejak pukul 6 tadi," kata satpam itu dengan nada bingung.

Rina pucat. "Tapi saya baru saja selesai kelas di ruangan 404!" jawabnya.

Satpam itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara pelan, "Mbak, ruangan 404 sudah tidak dipakai sejak 10 tahun lalu. Dosen terakhir yang mengajar di sana... Pak Darmawan... sudah meninggal."


πŸ‘ΏLANJUT KE EPISODE 2 πŸ‘Ώ


Ritual di Bukit Terkutuk


Ceritaseramdulu
,Banten - Di sebuah desa terpencil, terdapat sebuah bukit yang dikenal sebagai Bukit Terkutuk. 

Penduduk desa percaya bahwa bukit itu adalah tempat para pemuja setan melakukan ritual gelap. Tidak ada yang berani mendekat, terutama pada malam bulan purnama.

Namun, seorang jurnalis bernama Raka, yang tidak percaya takhayul, memutuskan untuk menyelidiki. Ia mendengar desas-desus bahwa setiap bulan purnama, terdengar suara nyanyian aneh dari arah bukit. 

Bersama kamera dan senter, ia mendaki bukit itu pada malam yang dingin dan sunyi.

Ketika ia mencapai puncak, ia menemukan sebuah lingkaran batu yang dipenuhi simbol-simbol aneh. Di tengah lingkaran itu, terdapat sebuah patung setan dengan tanduk melengkung, matanya seperti hidup, memandang tajam ke arahnya. 

Di sekitar patung, ada lilin-lilin hitam yang masih menyala meskipun tidak ada angin.

Tiba-tiba, Raka mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia bersembunyi di balik batu besar, mengintip ke arah lingkaran. Sekelompok orang berjubah hitam muncul, membawa seorang wanita yang tampak ketakutan. 

Mereka mulai melantunkan mantra dalam bahasa yang tidak dimengerti Raka.

Wanita itu dipaksa berlutut di depan patung, dan salah satu dari mereka mengeluarkan belati berkilauan. 

Raka, yang awalnya hanya ingin meliput, merasa harus menghentikan mereka. Namun, sebelum ia sempat bergerak, salah satu dari mereka menoleh langsung ke tempat persembunyiannya.

Mata orang itu merah menyala, seperti api. "Kita punya tamu," katanya dengan suara yang dalam dan seram. 

Seketika, semua anggota kelompok itu menoleh ke arah Raka. Mereka mulai mendekatinya, sementara suara mantra semakin keras.

Raka mencoba lari, tetapi kakinya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya. Ia berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. 

Dalam sekejap, ia dikelilingi oleh para pemuja itu. Salah satu dari mereka mengangkat belati, dan sebelum Raka sempat memahami apa yang terjadi, semuanya menjadi gelap.

Keesokan harinya, penduduk desa menemukan kamera Raka di puncak bukit, tetapi tubuhnya tidak pernah ditemukan. 

Video terakhir di kameranya menunjukkan pemandangan ritual itu, tetapi bagian akhirnya hanya suara tawa mengerikan dan bisikan, "Kau selanjutnya."

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...