π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Thursday, January 30, 2025

Bayangan di Lorong Sekolah



Malam itu, Fadli terjebak di sekolah karena tugas kelompok yang belum selesai. Semua temannya sudah pulang, tapi ia tertinggal untuk membereskan alat peraga di laboratorium. Sekolah itu sudah sunyi, hanya suara detak jam di lorong yang menemaninya.

Saat ia berjalan menuju pintu keluar, langkah kakinya menggema. Namun, tiba-tiba terdengar langkah kaki lain yang mengikuti dari belakang. Fadli berhenti. Langkah itu juga berhenti.

Ia menoleh, tapi lorong itu kosong. Namun, dari sudut matanya, ia melihat sesuatu—bayangan hitam melintas cepat di ujung lorong. Jantungnya berdetak kencang. Fadli mencoba meyakinkan dirinya kalau itu hanya ilusi, tapi langkah kaki itu terdengar lagi, semakin dekat.

Ketika ia mulai berlari, pintu utama sekolah terkunci rapat. Di belakangnya, suara berbisik mulai terdengar, menyebut namanya pelan, "Fadliii..."

Fadli mencoba menenangkan diri sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat ia meraba-raba kunci di sakunya, berharap salah satu bisa membuka pintu utama. Tapi setiap kunci yang dicobanya tak berhasil. Pintu itu tetap terkunci, seperti sengaja menjebaknya.

Tiba-tiba, lampu di lorong mulai berkedip. Dalam keremangan cahaya, Fadli melihat bayangan itu lagi—kali ini lebih jelas. Sosoknya tinggi, dengan wajah yang tidak sepenuhnya terlihat, seolah tertutup kabut gelap. Tubuhnya melayang tanpa kaki, dan matanya... hanya rongga hitam pekat.

Sosok itu berdiri diam di ujung lorong, menatap lurus ke arah Fadli. Detik demi detik berlalu, dan tanpa peringatan, sosok itu mulai bergerak ke arahnya, perlahan tapi pasti.

"Siapa kau?! Apa maumu?!" teriak Fadli dengan suara yang bergetar.

Namun sosok itu tidak menjawab. Sebaliknya, lorong mulai dipenuhi suara tawa pelan, seperti suara anak-anak kecil. Suara itu menggema, makin lama makin keras, hingga membuat telinga Fadli terasa berdenging.

Ketika sosok itu semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya, suara seorang gadis berbisik, "Jangan lihat ke matanya... kalau kau ingin keluar dari sini hidup-hidup."

Fadli tersentak dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan di dinding. Tapi bisikan itu cukup membuatnya kembali berpikir jernih. Ia menunduk, menahan napas, dan mencoba mengingat jalan keluar lain di sekolah.

Namun langkah bayangan itu semakin cepat...

Fadli memutuskan untuk berlari ke arah tangga menuju lantai dua, berharap menemukan tempat untuk bersembunyi atau jalan keluar lain. Langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menarik tubuhnya ke bawah, tapi ia memaksakan diri terus berlari.


Di tengah jalan, suara tawa anak-anak kecil itu berubah menjadi tangisan pilu. Fadli melihat ke sekeliling, tapi lorong-lorong itu kini tampak berbeda—seperti bukan lagi sekolah yang ia kenal. Dinding-dindingnya berubah menjadi kusam, penuh coretan dan noda merah yang menyerupai darah.

Sampai di lantai dua, ia menemukan sebuah ruangan tua yang sebelumnya tidak pernah ia lihat, pintunya terbuka sedikit. Dari dalam ruangan, terdengar suara berbisik, "Masuklah... semua jawabannya ada di sini."

Fadli ragu, tapi kakinya seolah bergerak sendiri. Ia mendorong pintu itu perlahan. Ruangan itu kosong, hanya ada papan tulis tua dan sebuah meja besar di tengah. Di atas meja, ada foto hitam-putih dari sebuah kelompok anak-anak yang mengenakan seragam sekolah, wajah mereka tersenyum kaku. Tapi yang paling mengejutkan, salah satu wajah anak itu terlihat sangat mirip dengan dirinya.

"Fadli... kau kembali..." suara itu terdengar lagi, kali ini jelas dari belakangnya. Fadli membalikkan badan dengan cepat, tapi tidak ada siapa pun.

Ketika ia kembali melihat foto itu, anak-anak di dalamnya sudah tidak tersenyum lagi. Wajah mereka berubah muram, dengan mata yang hitam kosong, seperti sosok yang ia lihat sebelumnya. Foto itu terasa hidup, dan seolah-olah mereka sedang menatap langsung ke arahnya.

Lalu, tangan dingin tiba-tiba menyentuh bahunya. Fadli melonjak dan menoleh. Di belakangnya, sosok bayangan hitam itu kini berdiri lebih dekat, dengan suara yang parau berkata, "Kau tidak pernah benar-benar pergi dari sini..."

Fadli panik, tubuhnya terasa kaku, seolah terperangkap dalam mimpi buruk yang tak bisa ia hentikan. Ketika ia mundur beberapa langkah, matanya menangkap sesuatu di sudut meja—sebuah buku tua yang terbuka, tampaknya sangat usang. Halamannya penuh dengan simbol aneh dan tulisan yang hampir tak terbaca.

Tanpa pikir panjang, Fadli mendekat dan mengambil buku itu. Begitu tangannya menyentuh sampulnya, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, dan suara-suara itu semakin keras, berteriak, "Jangan baca itu!"

Namun, Fadli merasa seolah ada kekuatan lain yang memaksanya untuk membalik halaman buku itu. Di halaman terakhir, ia melihat sebuah gambar simbol berbentuk lingkaran dengan garis-garis yang menyambung, di tengahnya ada tulisan dalam bahasa yang tidak ia kenali. Ada satu kata yang ia bisa baca, "Hentikan."

Di bawah gambar itu, ada petunjuk: "Hanya dengan mengucapkan nama yang hilang, kamu bisa keluar dari sini. Tetapi ingat, harga yang harus dibayar sangat besar."

Fadli menatap buku itu dengan hati berdebar. "Nama yang hilang?" gumamnya. Ia teringat sesuatu—ketika pertama kali datang ke sekolah ini, teman-temannya selalu membicarakan tentang sejarah sekolah yang dulunya adalah kuburan. Ada cerita tentang seorang anak yang hilang, seorang siswa bernama Arief yang tidak pernah ditemukan lagi.

Sekarang, ia tahu apa yang harus dilakukan. Fadli menutup mata, memusatkan pikirannya pada nama itu, dan dengan suara gemetar, ia berteriak, "Arief!"

Begitu kata itu keluar dari mulutnya, ruangan tiba-tiba terdiam. Suara tawa dan tangisan berhenti. Semua lampu di lorong sekolah kembali menyala dengan terang. Fadli merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, seolah beban yang menekan dirinya hilang.

Namun, saat ia hendak berbalik untuk keluar, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih lembut dan penuh peringatan, "Kamu belum selesai, Fadli... kamu belum tahu konsekuensinya."

Fadli berlari keluar dari ruangan itu, tangan masih menggenggam buku tua yang berat. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, seolah langit-langit sekolah yang penuh bayangan itu mulai mencair. Lorong yang sebelumnya gelap dan menyeramkan kini terang benderang, seperti tak ada apa-apa yang terjadi.

Namun, saat ia sampai di pintu utama dan meraih pegangan pintu untuk keluar, ada rasa dingin yang kembali menyentuh punggungnya. Ia menoleh dengan cepat.

Di depan pintu, berdiri sosok bayangan hitam yang dikenalnya—bukan sosok yang pertama kali mengejarnya, tapi Arief. Wajahnya tampak pucat, matanya kosong, seperti wajah anak dalam foto di meja tadi. Arief tersenyum, tapi senyum itu mengerikan, penuh dengan kekecewaan dan kebingungan.

"Aku terperangkap di sini... karena kau." Suaranya terdengar seperti bisikan yang penuh penyesalan. "Kau mungkin keluar, Fadli. Tapi aku... tetap di sini."

Fadli terdiam, menyadari bahwa ia belum benar-benar bebas. Walaupun ia mengucapkan nama yang hilang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arief—atau apakah Arief memang benar-benar bisa bebas. Sebelum sempat merespon, sosok itu menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Fadli dengan pertanyaan tak terjawab.

Begitu Fadli akhirnya berhasil membuka pintu dan melangkah keluar, ia merasa dunia sekitarnya kembali normal. Namun, dalam hati, ia tahu: sebuah bagian dari dirinya masih tertinggal di sekolah itu, dan mungkin, sekolah itu sendiri tak akan pernah benar-benar bisa lepas dari bayangan masa lalu yang gelap.

Di luar, malam tetap sunyi. Semua tampak seperti biasa. Tapi Fadli tidak akan pernah bisa melupakan wajah Arief yang mengerikan itu, dan suara bisikan yang terus terngiang di kepalanya, "Aku terperangkap karena kau..."


Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...