π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT
Showing posts with label Bayangan. Show all posts
Showing posts with label Bayangan. Show all posts

Thursday, January 30, 2025

Bayangan di Lorong Sekolah



Malam itu, Fadli terjebak di sekolah karena tugas kelompok yang belum selesai. Semua temannya sudah pulang, tapi ia tertinggal untuk membereskan alat peraga di laboratorium. Sekolah itu sudah sunyi, hanya suara detak jam di lorong yang menemaninya.

Saat ia berjalan menuju pintu keluar, langkah kakinya menggema. Namun, tiba-tiba terdengar langkah kaki lain yang mengikuti dari belakang. Fadli berhenti. Langkah itu juga berhenti.

Ia menoleh, tapi lorong itu kosong. Namun, dari sudut matanya, ia melihat sesuatu—bayangan hitam melintas cepat di ujung lorong. Jantungnya berdetak kencang. Fadli mencoba meyakinkan dirinya kalau itu hanya ilusi, tapi langkah kaki itu terdengar lagi, semakin dekat.

Ketika ia mulai berlari, pintu utama sekolah terkunci rapat. Di belakangnya, suara berbisik mulai terdengar, menyebut namanya pelan, "Fadliii..."

Fadli mencoba menenangkan diri sambil menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat ia meraba-raba kunci di sakunya, berharap salah satu bisa membuka pintu utama. Tapi setiap kunci yang dicobanya tak berhasil. Pintu itu tetap terkunci, seperti sengaja menjebaknya.

Tiba-tiba, lampu di lorong mulai berkedip. Dalam keremangan cahaya, Fadli melihat bayangan itu lagi—kali ini lebih jelas. Sosoknya tinggi, dengan wajah yang tidak sepenuhnya terlihat, seolah tertutup kabut gelap. Tubuhnya melayang tanpa kaki, dan matanya... hanya rongga hitam pekat.

Sosok itu berdiri diam di ujung lorong, menatap lurus ke arah Fadli. Detik demi detik berlalu, dan tanpa peringatan, sosok itu mulai bergerak ke arahnya, perlahan tapi pasti.

"Siapa kau?! Apa maumu?!" teriak Fadli dengan suara yang bergetar.

Namun sosok itu tidak menjawab. Sebaliknya, lorong mulai dipenuhi suara tawa pelan, seperti suara anak-anak kecil. Suara itu menggema, makin lama makin keras, hingga membuat telinga Fadli terasa berdenging.

Ketika sosok itu semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya, suara seorang gadis berbisik, "Jangan lihat ke matanya... kalau kau ingin keluar dari sini hidup-hidup."

Fadli tersentak dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya bayangan di dinding. Tapi bisikan itu cukup membuatnya kembali berpikir jernih. Ia menunduk, menahan napas, dan mencoba mengingat jalan keluar lain di sekolah.

Namun langkah bayangan itu semakin cepat...

Fadli memutuskan untuk berlari ke arah tangga menuju lantai dua, berharap menemukan tempat untuk bersembunyi atau jalan keluar lain. Langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menarik tubuhnya ke bawah, tapi ia memaksakan diri terus berlari.


Di tengah jalan, suara tawa anak-anak kecil itu berubah menjadi tangisan pilu. Fadli melihat ke sekeliling, tapi lorong-lorong itu kini tampak berbeda—seperti bukan lagi sekolah yang ia kenal. Dinding-dindingnya berubah menjadi kusam, penuh coretan dan noda merah yang menyerupai darah.

Sampai di lantai dua, ia menemukan sebuah ruangan tua yang sebelumnya tidak pernah ia lihat, pintunya terbuka sedikit. Dari dalam ruangan, terdengar suara berbisik, "Masuklah... semua jawabannya ada di sini."

Fadli ragu, tapi kakinya seolah bergerak sendiri. Ia mendorong pintu itu perlahan. Ruangan itu kosong, hanya ada papan tulis tua dan sebuah meja besar di tengah. Di atas meja, ada foto hitam-putih dari sebuah kelompok anak-anak yang mengenakan seragam sekolah, wajah mereka tersenyum kaku. Tapi yang paling mengejutkan, salah satu wajah anak itu terlihat sangat mirip dengan dirinya.

"Fadli... kau kembali..." suara itu terdengar lagi, kali ini jelas dari belakangnya. Fadli membalikkan badan dengan cepat, tapi tidak ada siapa pun.

Ketika ia kembali melihat foto itu, anak-anak di dalamnya sudah tidak tersenyum lagi. Wajah mereka berubah muram, dengan mata yang hitam kosong, seperti sosok yang ia lihat sebelumnya. Foto itu terasa hidup, dan seolah-olah mereka sedang menatap langsung ke arahnya.

Lalu, tangan dingin tiba-tiba menyentuh bahunya. Fadli melonjak dan menoleh. Di belakangnya, sosok bayangan hitam itu kini berdiri lebih dekat, dengan suara yang parau berkata, "Kau tidak pernah benar-benar pergi dari sini..."

Fadli panik, tubuhnya terasa kaku, seolah terperangkap dalam mimpi buruk yang tak bisa ia hentikan. Ketika ia mundur beberapa langkah, matanya menangkap sesuatu di sudut meja—sebuah buku tua yang terbuka, tampaknya sangat usang. Halamannya penuh dengan simbol aneh dan tulisan yang hampir tak terbaca.

Tanpa pikir panjang, Fadli mendekat dan mengambil buku itu. Begitu tangannya menyentuh sampulnya, ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, dan suara-suara itu semakin keras, berteriak, "Jangan baca itu!"

Namun, Fadli merasa seolah ada kekuatan lain yang memaksanya untuk membalik halaman buku itu. Di halaman terakhir, ia melihat sebuah gambar simbol berbentuk lingkaran dengan garis-garis yang menyambung, di tengahnya ada tulisan dalam bahasa yang tidak ia kenali. Ada satu kata yang ia bisa baca, "Hentikan."

Di bawah gambar itu, ada petunjuk: "Hanya dengan mengucapkan nama yang hilang, kamu bisa keluar dari sini. Tetapi ingat, harga yang harus dibayar sangat besar."

Fadli menatap buku itu dengan hati berdebar. "Nama yang hilang?" gumamnya. Ia teringat sesuatu—ketika pertama kali datang ke sekolah ini, teman-temannya selalu membicarakan tentang sejarah sekolah yang dulunya adalah kuburan. Ada cerita tentang seorang anak yang hilang, seorang siswa bernama Arief yang tidak pernah ditemukan lagi.

Sekarang, ia tahu apa yang harus dilakukan. Fadli menutup mata, memusatkan pikirannya pada nama itu, dan dengan suara gemetar, ia berteriak, "Arief!"

Begitu kata itu keluar dari mulutnya, ruangan tiba-tiba terdiam. Suara tawa dan tangisan berhenti. Semua lampu di lorong sekolah kembali menyala dengan terang. Fadli merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, seolah beban yang menekan dirinya hilang.

Namun, saat ia hendak berbalik untuk keluar, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih lembut dan penuh peringatan, "Kamu belum selesai, Fadli... kamu belum tahu konsekuensinya."

Fadli berlari keluar dari ruangan itu, tangan masih menggenggam buku tua yang berat. Setiap langkahnya terasa lebih ringan, seolah langit-langit sekolah yang penuh bayangan itu mulai mencair. Lorong yang sebelumnya gelap dan menyeramkan kini terang benderang, seperti tak ada apa-apa yang terjadi.

Namun, saat ia sampai di pintu utama dan meraih pegangan pintu untuk keluar, ada rasa dingin yang kembali menyentuh punggungnya. Ia menoleh dengan cepat.

Di depan pintu, berdiri sosok bayangan hitam yang dikenalnya—bukan sosok yang pertama kali mengejarnya, tapi Arief. Wajahnya tampak pucat, matanya kosong, seperti wajah anak dalam foto di meja tadi. Arief tersenyum, tapi senyum itu mengerikan, penuh dengan kekecewaan dan kebingungan.

"Aku terperangkap di sini... karena kau." Suaranya terdengar seperti bisikan yang penuh penyesalan. "Kau mungkin keluar, Fadli. Tapi aku... tetap di sini."

Fadli terdiam, menyadari bahwa ia belum benar-benar bebas. Walaupun ia mengucapkan nama yang hilang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Arief—atau apakah Arief memang benar-benar bisa bebas. Sebelum sempat merespon, sosok itu menghilang dalam kegelapan, meninggalkan Fadli dengan pertanyaan tak terjawab.

Begitu Fadli akhirnya berhasil membuka pintu dan melangkah keluar, ia merasa dunia sekitarnya kembali normal. Namun, dalam hati, ia tahu: sebuah bagian dari dirinya masih tertinggal di sekolah itu, dan mungkin, sekolah itu sendiri tak akan pernah benar-benar bisa lepas dari bayangan masa lalu yang gelap.

Di luar, malam tetap sunyi. Semua tampak seperti biasa. Tapi Fadli tidak akan pernah bisa melupakan wajah Arief yang mengerikan itu, dan suara bisikan yang terus terngiang di kepalanya, "Aku terperangkap karena kau..."


Wednesday, January 29, 2025

Bayangan di Rumah Tua


Aji baru saja pindah ke rumah tua peninggalan kakeknya yang terletak di pinggiran desa. Rumah itu besar, namun usang. Dindingnya penuh retakan, catnya mengelupas, dan ada aroma lembap yang menyengat begitu ia masuk ke dalam. "Kenapa Ayah pilih rumah ini?" pikirnya, sambil menurunkan ransel.

Hari pertama berjalan biasa saja, meskipun Aji merasa ada yang janggal. Di sudut matanya, ia beberapa kali melihat bayangan hitam bergerak di lorong panjang menuju dapur. Namun, setiap kali ia menoleh, bayangan itu hilang seolah tak pernah ada.

Malamnya, saat semua orang sudah tidur, Aji terbangun oleh suara langkah kaki di atas plafon kamarnya. "Tikus?" gumamnya, mencoba meyakinkan diri. Tapi suara itu terlalu berat untuk seekor tikus, dan yang lebih aneh, langkah-langkah itu berhenti tepat di atas tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit dengan jantung berdebar, tapi tak ada apa-apa.

Keesokan harinya, rasa penasaran membawa Aji menjelajahi rumah. Ia menemukan pintu kecil di bawah tangga yang sebelumnya tak ia sadari. Pintu itu terkunci, tapi ada celah kecil yang cukup untuk mengintip ke dalam. Gelap. Hanya itu yang bisa ia lihat. Namun, ia merasa seperti ada sesuatu yang mengintip balik dari kegelapan itu.

Malam berikutnya, bayangan hitam itu mulai terlihat lebih jelas. Kali ini, bayangan itu berdiri di ujung lorong, menghadap langsung ke kamar Aji. Tingginya hampir mencapai langit-langit, dan bentuknya seperti manusia, tapi tanpa wajah. Aji membeku di tempat tidur, tak mampu mengalihkan pandangannya. Bayangan itu tak bergerak, hanya diam di sana, seperti mengawasinya.

Ketika pagi datang, Aji menceritakan semuanya kepada orang tuanya, tapi mereka hanya menertawakannya. "Mungkin kamu terlalu lelah," kata Ayah. Namun, Aji tahu apa yang ia lihat nyata.

Malam itu, Aji memutuskan untuk menghadapi bayangan tersebut. Dengan senter di tangan, ia berjalan menuju lorong di mana bayangan itu biasa muncul. Lorong itu dingin dan sunyi, seolah menyimpan sesuatu yang tak terlihat. Tiba-tiba, senter Aji berkedip-kedip, lalu mati. Dalam kegelapan total, ia mendengar suara napas berat di belakangnya.

Aji berbalik dengan cepat, tapi ia terlambat. Bayangan itu sudah ada di depannya, sangat dekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat detail dari sosok itu—kulitnya hitam pekat seperti arang, dan matanya kosong, tapi terasa menusuk. Dengan suara berat yang bergema, bayangan itu berbisik, "Kamu tak seharusnya di sini."

Aji berteriak dan berlari sekuat tenaga menuju kamarnya, mengunci pintu di belakangnya. Namun, bayangan itu tetap mengikutinya. Ketika Aji menoleh, ia melihat bayangan itu muncul dari balik pintu, menembus kayu seperti tak ada penghalang. Di detik itu, Aji menyadari bahwa ia tak akan bisa lari.

Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Di meja di sudut kamarnya, ia melihat foto tua kakeknya. Dalam foto itu, kakeknya memegang benda kecil yang terlihat seperti jimat. Dengan cepat, Aji meraih foto itu dan mencoba mencari benda serupa di dalam laci kakeknya yang masih ada di kamar itu. Ia menemukan jimat tersebut—sebuah kain kecil yang diikat dengan benang merah.

Ketika ia menggenggam jimat itu, bayangan tersebut berhenti mendekat. Sosoknya perlahan memudar, dan suara gemuruh menggema di seluruh rumah, sebelum akhirnya semuanya sunyi. Aji terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar hebat.

Keesokan harinya, Aji memutuskan untuk berbicara kepada penduduk desa tentang rumah tua itu. Dari seorang tetua desa, ia mengetahui bahwa rumah tersebut pernah menjadi tempat ritual kuno yang dilakukan oleh kakeknya untuk menjaga desa dari roh jahat. Namun, setelah kakeknya meninggal, roh-roh itu kembali, mencari cara untuk keluar.

Aji menyadari bahwa rumah itu menyimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Dan meskipun ia selamat malam itu, ia tahu bahwa bayangan-bayangan di rumah tua itu belum sepenuhnya hilang. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali.

Thursday, January 23, 2025

Bayangan di Jendela


Rina baru saja pindah ke sebuah rumah kecil di pinggir kota. Rumah itu sederhana, tapi terasa sedikit aneh. Setiap malam, ia merasa seperti ada yang mengawasinya. Tapi karena ia tinggal sendiri, ia selalu meyakinkan dirinya bahwa itu hanya imajinasinya.

Malam itu, hujan turun deras. Petir sesekali menyambar, menerangi ruangan dengan cahaya kilat yang dingin. Rina sedang duduk di sofa, membaca novel horor, ketika tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pelan di jendela ruang tamu.

Tuk… Tuk… Tuk…

Rina menoleh, tapi tidak ada apa-apa. Mungkin ranting pohon, pikirnya. Ia mencoba kembali membaca, tetapi suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras.

TUK… TUK… TUK…

Dengan jantung berdegup kencang, ia melangkah ke arah jendela. Hujan membasahi kaca jendela, membuat pandangannya kabur. Saat ia mencoba mengintip keluar, petir menyambar, dan dalam kilatan cahaya, ia melihatnya—sebuah bayangan hitam berdiri di luar jendela.

Rina tersentak mundur. Ketika petir berikutnya menyala, bayangan itu sudah menghilang. Ia mencoba menenangkan diri dan menutup tirai jendela, berpikir mungkin itu hanya ilusi.

Namun, beberapa saat kemudian, suara ketukan berpindah ke jendela dapur. Kali ini lebih cepat dan berirama tidak beraturan.

Tok tok tok... TOK TOK!

Rina mengumpulkan keberanian untuk berjalan ke dapur, meskipun tubuhnya bergetar. Ia mengintip dari balik tirai dapur yang tipis. Tidak ada siapa-siapa. Tapi saat ia berbalik untuk kembali ke ruang tamu, ia mendengar suara pelan:

“Aku sudah di dalam.”

Rina membeku di tempat. Ia tahu suara itu berasal dari ruang tamu, tempat ia tadi duduk membaca. Ia perlahan berjalan ke ruang tamu dan melihat bukunya masih terbuka di sofa. Namun, di atas buku itu ada jejak tangan basah yang meneteskan air.

Lampu tiba-tiba berkedip-kedip, dan sosok bayangan yang tadi ia lihat di luar jendela kini berdiri di sudut ruangan. Sosok itu tinggi dengan mata merah menyala, dan perlahan-lahan berjalan mendekat.

Rina mundur dengan gemetar, tapi kakinya tersandung meja kecil, membuatnya jatuh terduduk. Bayangan itu semakin dekat, hingga akhirnya berhenti tepat di depannya. Sosok itu menunduk, dan dengan suara parau, berbisik:

“Kamu belum menutup pintu belakang.”

Rina tersadar, pintu belakang memang belum ia kunci. Ia langsung bangkit, berlari ke dapur, dan mencoba menutup pintu itu. Tapi saat ia hendak mengunci, pintu terbuka lebar dengan hantaman angin dingin, dan sesuatu menyeretnya ke dalam kegelapan.

Esok harinya, rumah itu kosong. Tidak ada tanda-tanda Rina. Tetangganya hanya menemukan sebuah buku basah di lantai ruang tamu, dengan halaman terakhir terbuka, bertuliskan:

“Jangan lupa menutup pintu.”

Tuesday, December 31, 2024

Bayangan di Lantai 13

Episode 1: Bayangan di Lantai 13

Di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta, berdiri sebuah apartemen megah bernama "Menara Pelangi". Apartemen ini terkenal dengan fasilitasnya yang lengkap dan pemandangan kota yang menakjubkan. Namun, ada satu lantai yang selalu kosong, lantai 13. Meskipun gedung ini modern, penghuni dan stafnya memiliki aturan tak tertulis: jangan pernah ke lantai 13.

Rini, seorang pekerja kantoran yang baru pindah ke Menara Pelangi, tidak pernah percaya pada hal-hal mistis. Dia menganggap cerita tentang lantai 13 hanya takhayul belaka. Suatu malam, setelah pulang lembur, lift yang dinaikinya berhenti di lantai 13 tanpa perintah. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong gelap dengan lampu yang berkedip-kedip.

"Ah, pasti lift-nya error," pikir Rini. Namun, sebelum pintu lift menutup, ia mendengar suara langkah kaki di lorong itu. Penasaran, ia keluar untuk memeriksa. Lorong itu terasa dingin, lebih dingin dari lantai lainnya. Bau lembap menyeruak di udara. Di ujung lorong, ia melihat sebuah pintu terbuka sedikit, dengan cahaya redup menyala dari dalam.

Saat ia menyentuh pintu itu, suara lirih terdengar dari dalam, seperti seseorang memanggil namanya. "Rini... Rini..." Suara itu membuat bulu kuduknya meremang. Dengan gemetar, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Namun, ia tidak tahu bahwa malam itu adalah awal dari teror yang akan menghantui hidupnya.

Episode 2: Jejak yang Tak Terlihat

Beberapa minggu setelah kejadian di lantai 13, Rini mulai mendapati hal-hal aneh terjadi di apartemennya. Barang-barang kecil seperti kunci dan ponsel sering berpindah tempat tanpa alasan. Kadang-kadang, ia mendengar suara ketukan di dinding, meskipun ia tahu tetangganya sedang tidak ada di rumah.

Pada suatu malam, saat ia sedang tertidur lelap, Rini terbangun karena suara berat seperti seseorang menarik sesuatu yang berat di lantai atas. Dengan kesal, ia menatap jam di ponselnya — pukul 2:13 pagi.

"Siapa sih yang bikin berisik tengah malam begini?" gumamnya. Tapi kemudian ia tersadar: lantai di atas apartemennya adalah lantai 13.

Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Ia mencoba mengabaikan suara itu dan kembali tidur, tetapi suara itu semakin keras, disertai dengan suara ketukan pelan di pintu apartemennya. Dengan gemetar, Rini berjalan menuju pintu. Melalui lubang intip, ia melihat lorong kosong. Namun, ketika ia hendak berbalik, suara ketukan terdengar lagi, kali ini lebih keras. Ia membuka pintu dengan hati-hati, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada secarik kertas kecil yang tergeletak di lantai.

Di atas kertas itu, tertulis dengan tinta merah, "Kamu sudah melihatku. Sekarang, aku akan selalu melihatmu."

Episode 3: Bayangan yang Mengintai

Sejak malam itu, Rini merasa terus diawasi. Di sudut matanya, ia sering melihat bayangan melintas cepat. Ketika ia memeriksa, tidak ada apa-apa. Namun, puncaknya terjadi saat ia sedang mandi suatu malam. Cermin kamar mandinya tiba-tiba berembun, meskipun ia tidak menggunakan air panas. Perlahan, tulisan muncul di cermin itu: "Aku di sini."

Rini menjerit dan keluar dari kamar mandi. Ia memutuskan untuk menginap di rumah temannya malam itu. Namun, bahkan di tempat lain, ia tidak merasa aman. Saat ia mencoba tidur, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk tanpa nomor pengirim: "Tidak ada tempat yang bisa menyelamatkanmu, Rini."

Ketakutan itu memuncak ketika ia kembali ke apartemennya keesokan harinya. Pintu apartemennya terbuka, meskipun ia yakin telah menguncinya. Di dalam, semua barang-barangnya berantakan. Namun, yang paling menyeramkan adalah cermin besar di ruang tamu. Di permukaannya, tertulis dengan tinta merah, "Aku menunggumu di lantai 13."

Episode 4: Kembali ke Lantai 13

Rini tahu ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan. Dengan keberanian yang tersisa, ia memutuskan untuk kembali ke lantai 13 dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Malam itu, ia membawa senter dan memberanikan diri naik lift.

Saat pintu lift terbuka di lantai 13, lorong itu tampak lebih gelap dan suram dari sebelumnya. Bau lembap semakin menusuk hidung. Dengan hati-hati, Rini berjalan menuju pintu yang pernah ia lihat terbuka. Kali ini, pintu itu terkunci. Namun, saat ia menyentuh gagangnya, pintu itu terbuka sendiri, seperti menyambutnya.

Di dalam ruangan, ia menemukan foto-foto lama yang terpajang di dinding. Wajah-wajah dalam foto itu adalah wajah penghuni apartemen, tetapi ada sesuatu yang aneh. Setiap wajah terlihat ketakutan, dan di sudut foto, ada bayangan sosok tinggi dengan mata merah menyala. Rini merasa kakinya lemas. Saat ia hendak keluar, pintu menutup dengan keras, dan suara langkah kaki mendekat dari belakangnya.

Episode 5: Pertemuan dengan Kegelapan

Rini berbalik, dan di hadapannya berdiri sosok tinggi dengan mata merah menyala. Sosok itu menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu tidak seharusnya kembali," katanya dengan suara yang berat dan menggelegar.

Rini mencoba berteriak, tetapi suaranya tercekat. Sosok itu mendekat, dan udara di sekitar mereka semakin dingin. "Semua yang datang ke sini tidak pernah kembali," lanjutnya. Rini mencoba melawan rasa takutnya dan bertanya, "Apa yang kamu inginkan dariku?"

Sosok itu tersenyum dingin. "Aku hanya ingin kamu tinggal di sini... selamanya." Dengan cepat, Rini meraih sebuah benda berat di meja dan melemparkannya ke arah sosok itu. Sosok itu menghilang dalam sekejap, tetapi suara tawanya masih terdengar di seluruh ruangan.

Rini berhasil keluar dari ruangan itu dan berlari menuju lift. Saat pintu lift menutup, ia melihat sosok itu berdiri di lorong, tersenyum. Ketika lift turun, ia merasa lega, tetapi saat pintu lift terbuka, ia tidak berada di lantai apartemennya. Ia kembali di lantai 13.

Cerita Rini berakhir di sana. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Namun, penghuni apartemen lain mulai melaporkan hal-hal aneh. Mereka mendengar suara langkah kaki di lorong lantai 13, dan beberapa mengatakan melihat bayangan di cermin mereka. Lantai 13 tetap menjadi misteri yang tidak terpecahkan.

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...