Ceritaseramdulu,Magelang - Malam itu, Raka, seorang mahasiswa arkeologi, bersama tiga temannya, memutuskan untuk mengunjungi Candi Borobudur dalam rangka penelitian tugas akhir. Mereka diberi izin khusus oleh pengelola candi untuk menginap di area sekitar candi karena mereka harus mempelajari relief-relief yang hanya dapat terlihat jelas saat diterangi cahaya tertentu. Raka merasa antusias, tetapi ada perasaan aneh yang tak bisa ia abaikan sejak sore.
“Jangan terlalu jauh dari kelompok, ya,” kata Pak Darma, penjaga candi, sebelum meninggalkan mereka. “Borobudur itu bukan cuma tempat sejarah. Ada banyak hal yang tak bisa kita jelaskan di sini.”
Raka dan teman-temannya tertawa kecil, menganggap peringatan itu sebagai cerita untuk menakut-nakuti mereka. Namun, malam itu, mereka segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa di sekitar candi.
Penampakan Pertama
Saat malam semakin larut, Raka dan teman-temannya memutuskan untuk berjalan ke puncak candi. Di sana, mereka ingin melihat stupa utama yang menjadi pusat perhatian. Ketika mereka mencapai puncak, udara tiba-tiba menjadi sangat dingin. Angin berembus kencang, meskipun sebelumnya malam itu terasa hangat.
Saat sedang mengamati relief, salah satu temannya, Nina, tiba-tiba berhenti. “Hei, kalian dengar nggak?” bisiknya.
Semua terdiam. Di tengah keheningan, mereka mendengar suara langkah kaki. Suara itu terdengar jelas, tetapi tidak ada siapa pun di sekitar mereka.
“Pasti cuma hewan,” kata Dito, mencoba menenangkan. Namun, suara langkah itu semakin mendekat, hingga akhirnya mereka melihat bayangan seseorang muncul dari balik stupa besar.
Bayangan itu berbentuk seperti seorang biksu dengan jubah panjang, tetapi… tanpa kepala.
Teror di Puncak Candi
Nina berteriak, tetapi suaranya langsung terhenti ketika bayangan itu mulai bergerak mendekat. Raka mencoba memanggil keberanian dan melangkah maju. “Siapa Anda?” tanyanya, suaranya bergetar.
Bayangan itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia mengangkat tangannya yang bergetar seolah-olah sedang menunjuk sesuatu. Raka dan teman-temannya mengikuti arah telunjuk itu, yang mengarah ke salah satu relief di dinding stupa.
Relief itu menggambarkan seorang biksu yang sedang bermeditasi, tetapi di sebelahnya ada sosok bayangan gelap dengan senjata tajam. Raka merasa ada sesuatu yang salah. “Ini… seperti cerita kematian biksu,” gumamnya.
Tiba-tiba, bayangan itu lenyap, meninggalkan hawa dingin yang menusuk. Teman-temannya berlari turun, tetapi Raka tetap di tempatnya, merasa ada sesuatu yang harus ia pahami.
Pesan dari Masa Lalu
Keesokan paginya, Raka berbicara dengan Pak Darma tentang apa yang ia alami. Pak Darma terdiam lama sebelum akhirnya menjawab, “Kamu melihatnya. Itu bukan sekadar bayangan. Itu adalah roh seorang biksu yang mati di sini, ratusan tahun lalu.”
Menurut cerita, biksu itu dihukum mati karena dituduh melanggar aturan suci. Kepalanya dipenggal di area candi, dan sejak saat itu, rohnya tidak pernah tenang. Ia sering muncul di malam hari, terutama kepada mereka yang dianggap mampu memahami pesan dari masa lalu.
“Relief yang kamu lihat tadi malam adalah petunjuk. Mungkin dia ingin mengungkapkan sesuatu,” kata Pak Darma.
Akhir yang Menghantui
Raka tidak pernah melupakan pengalaman itu. Ia mendalami relief yang ia lihat malam itu dan menemukan bahwa cerita tentang biksu tanpa kepala memang ada dalam catatan sejarah, meskipun sangat jarang dibicarakan.
Hingga hari ini, mereka yang berani mengunjungi Borobudur di malam hari sering melaporkan melihat bayangan biksu tanpa kepala. Ada yang percaya bahwa roh itu ingin menyampaikan pesan, sementara yang lain yakin bahwa ia adalah penjaga candi yang tidak pernah meninggalkan tempat sucinya.
Namun, satu hal yang pasti: keheningan malam di Candi Borobudur menyimpan misteri yang tak akan pernah terungkap sepenuhnya.
Cerita ini adalah pengingat bahwa sejarah dan mistis sering berjalan berdampingan, terutama di tempat-tempat suci seperti Candi Borobudur.

