Di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah sawah luas yang tak pernah ditanami. Padahal tanahnya subur, dekat sungai, dan cukup datar. Tapi warga desa selalu menghindarinya, terutama pohon besar yang tumbuh di ujung sawah itu. Konon, pohon itu bukan pohon biasa.
Namanya Pohon Beringin Ibu Menangis.
Dulu, puluhan tahun lalu, seorang perempuan hamil dituduh menyantet anak kepala desa. Dia dibakar hidup-hidup oleh warga di bawah pohon itu, padahal belum tentu bersalah. Sejak saat itu, pohon itu tak pernah ditebang dan tanah di sekitarnya dibiarkan kosong.
Penduduk percaya, setiap malam Jumat Kliwon, terdengar suara tangisan dari arah pohon. Tak ada yang berani mendekat.
Tapi pada suatu malam, seorang pemuda bernama Raga, pendatang dari kota, menganggap cerita itu cuma takhayul. Ia ingin membuka usaha pertanian dan memilih lahan itu karena harga sewanya sangat murah.
Warga desa sudah memperingatkan, tapi Raga nekat. Ia mulai membersihkan semak-semak dan menggali tanah. Tapi ketika hendak menebang pohon itu, kapak yang digunakan patah sendiri. Berkali-kali ia coba, tapi selalu gagal.
Malam itu, Raga tinggal di gubuk kecil dekat sawah. Tengah malam, ia terbangun karena mendengar suara tangisan wanita dari luar.
Awalnya pelan... lalu makin jelas.
Tangisan itu diiringi suara langkah kaki... tap… tap… tap…
Pintu gubuknya berderit. Terbuka pelan sendiri.
Raga beranjak bangun dan melihat wanita hamil berdiri di ambang pintu, tubuhnya hangus, matanya merah menyala.
“Kembalikan… tanahku…” bisiknya dengan suara tercekik.
Raga menjerit.
Keesokan harinya, warga menemukan gubuk itu kosong. Raga menghilang tanpa jejak. Di bawah pohon beringin, hanya ada jejak kaki berlumpur menuju sawah, tapi tak ada jejak keluar.
Dan sejak hari itu, suara tangisannya terdengar lebih sering...
No comments:
Post a Comment