π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Tuesday, July 15, 2025

PENUMPANG TERAKHIR

 


πŸ•―️ Lokasi: Terminal bus tua di kota kecil, pukul 01.30 dini hari.

Malam itu hujan turun deras. Petir menyambar sekali-sekali di kejauhan, membuat langit tampak seperti membuka mata sesaat lalu kembali gelap. Di sebuah terminal tua yang sudah hampir tidak beroperasi, seorang sopir bus malam bernama Pak Tamin duduk di balik kemudi sambil menyeruput kopi dari termos plastik. Busnya kosong. Ia menunggu satu penumpang terakhir yang katanya sudah memesan via online.

“Nama: Ratna. Tujuan: Terminal Gading. Kursi: 3A.”

Pak Tamin melirik ke pintu masuk terminal. Hanya ada satu lampu neon berkedip yang menerangi area itu. Jam tangannya menunjukkan pukul 01.40. Harusnya penumpang itu sudah naik sejak 01.30.

Tiba-tiba, dari balik bayangan tiang, muncul sosok perempuan berpayung hitam, mengenakan baju putih panjang seperti daster. Rambutnya basah dan menutupi sebagian wajah. Ia berjalan lambat, seakan kakinya tidak menyentuh tanah.

Pak Tamin membuka pintu bus.

“Bu Ratna ya?”

Perempuan itu hanya mengangguk pelan tanpa suara. Ia naik, berjalan ke kursi 3A, lalu duduk diam menghadap jendela. Pak Tamin sempat merasa bulu kuduknya meremang. Tapi ia mencoba tetap profesional.

Bus pun melaju menembus hujan malam.


🚌 Perjalanan yang Tak Wajar

Selama perjalanan, Pak Tamin merasa aneh. Jalan yang biasa ia lalui kini terasa jauh lebih sepi. Tak ada kendaraan lain. Bahkan lampu-lampu jalan pun seperti padam semua.

Ia melirik ke kaca spion dalam.

Kosong.

Kursi 3A kosong.

Pak Tamin mengerutkan dahi. Ia menoleh sebentar. Tak ada siapa-siapa. Ia menepikan bus, bangkit, dan berjalan ke kursi 3A. Memang benar kosong, tapi joknya basah.

Seolah seseorang yang sangat basah baru saja duduk di situ.


πŸ•³️ Terminal Gading

Akhirnya ia sampai di Terminal Gading—tapi tempat itu tidak seperti biasanya. Gelap. Sunyi. Semua bangunan tampak terbengkalai. Temboknya dipenuhi lumut dan papan informasi sudah roboh.

Tiba-tiba, pintu bus terbuka sendiri.

Pak Tamin duduk diam, tubuhnya gemetar. Dari kaca spion, ia melihat sosok perempuan tadi turun perlahan dari pintu belakang.

Tapi... kakinya tidak menapak lantai.

Ia melayang. Meninggalkan jejak air di lantai lorong bus.

Sebelum benar-benar menghilang ke kegelapan terminal, perempuan itu menoleh ke arah Pak Tamin.

Wajahnya pucat, mata kosong, dan bibirnya hanya berkata pelan:

“Terima kasih sudah mengantarkan saya… pulang.”

Lalu menghilang dalam gelap dan hujan.


πŸ“œ Epilog

Keesokan harinya, Pak Tamin menceritakan kejadian itu ke pengelola terminal. Saat mereka mengecek data pemesanan, tidak ditemukan nama Ratna di daftar penumpang.

Dan yang lebih mengerikan...

Terminal Gading sudah ditutup sejak lima tahun lalu, setelah sebuah kecelakaan bus besar menewaskan seluruh penumpang—termasuk seorang wanita bernama Ratna, yang duduk di kursi 3A.

No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...