Di sebuah desa terpencil yang terletak di tengah hutan lebat, ada sebuah rumah tua yang telah lama ditinggalkan. Konon, rumah itu adalah tempat tinggal seorang wanita tua yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Nenek Sulastri. Semua orang di desa itu tahu bahwa Nenek Sulastri memiliki kekuatan aneh yang bisa mempengaruhi banyak hal, dan seringkali mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang dirinya. Namun, pada suatu hari, Nenek Sulastri menghilang tanpa jejak, dan rumahnya pun ditinggalkan begitu saja, seakan-akan diabaikan oleh waktu.
Beberapa tahun kemudian, Dina, seorang gadis muda yang baru saja pindah ke desa itu bersama keluarganya, mendengar cerita tentang rumah tersebut dari teman-temannya di sekolah. Mereka memperingatkan Dina untuk tidak mendekati rumah itu, karena menurut mereka, tempat itu dihuni oleh roh-roh jahat yang tidak bisa tenang.
Namun, rasa penasaran Dina tak bisa dibendung. Malam itu, setelah semua orang tidur, Dina memutuskan untuk mengunjungi rumah tua itu. Dengan senter di tangan dan langkah hati-hati, ia berjalan melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan gelap menuju rumah itu.
Saat Dina sampai di depan pintu rumah yang sudah berdebu, ia merasakan udara dingin yang menyelimuti tubuhnya. Pintu yang sudah usang itu terbuka dengan sendirinya, seolah-olah rumah itu menantangnya untuk masuk. Dina pun melangkah ke dalam dengan rasa takut yang semakin menggelayuti hatinya.
Di dalam rumah, segala sesuatu terasa terhenti dalam waktu yang sangat lama. Suasana yang sunyi, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema. Dinding-dinding rumah itu penuh dengan noda-noda hitam, seolah ada darah yang sudah lama mengering. Semua jendela tertutup rapat, membiarkan ruangan itu terasa semakin pengap. Namun, Dina merasa matanya tertarik pada sesuatu yang mengilat di salah satu sudut ruangan.
"Apa itu?" pikir Dina, mendekati benda yang mencuri perhatiannya. Ternyata itu adalah sebuah cermin besar yang sudah retak-retak di beberapa bagian. Namun yang paling mencengangkan adalah apa yang terlihat di dalam cermin tersebut—bayangan seorang wanita tua dengan mata yang kosong menatapnya dari balik kaca.
Dina terkejut dan mundur beberapa langkah, tetapi bayangan itu tetap ada, mengamati gerak-geriknya. Dengan gugup, Dina berbalik untuk berlari keluar, tetapi tiba-tiba pintu rumah yang tadi terbuka lebar kini tertutup dengan keras, mengunci dirinya di dalam.
Ketakutan Dina semakin menjadi-jadi. Suara-suara aneh mulai terdengar dari seluruh penjuru rumah. Suara langkah kaki berat, seolah ada sesuatu yang mendekatinya. Tiba-tiba, di antara suara itu, terdengar suara wanita tua yang lemah memanggil namanya. "Dina... kenapa kamu datang?"
Dina menoleh ke sekitar, tetapi tidak ada siapa-siapa. Hanya kegelapan yang memenuhi ruangan. Saat ia berlari menuju jendela untuk mencari jalan keluar, sebuah tangan keriput yang kasar muncul dari belakang cermin, meraih tangannya dengan kekuatan yang luar biasa.
Dengan penuh teriakan ketakutan, Dina berusaha untuk melepaskan diri. Namun tangan itu semakin erat mencengkeramnya, membuatnya semakin sulit bergerak. Ketika ia menoleh lagi, bayangan wanita tua itu kini tampak lebih jelas. Wajahnya penuh keriput dan mata kosong tanpa pupil menatap tajam ke arahnya. Dari mulut wanita itu keluar suara berbisik, "Kamu tidak akan bisa keluar, anak muda. Rumah ini adalah penjara bagi jiwa yang penasaran."
Saat itu, Dina merasakan tubuhnya mulai terasa lemah dan bingung. Wanita tua itu mulai mengangkat tubuhnya ke udara, dan Dina bisa merasakan seolah jiwanya terhisap oleh kekuatan yang mengerikan.
Namun, sebelum semuanya berakhir, Dina berteriak sekuat mungkin, "Tidak! Aku tidak akan menjadi seperti kalian!" Tiba-tiba, cermin itu pecah berkeping-keping, dan tangan yang mencengkeramnya pun terlepas.
Dengan susah payah, Dina berhasil melarikan diri keluar dari rumah tersebut. Begitu keluar, udara malam yang segar menyambutnya. Ia berlari menuju rumahnya tanpa menoleh lagi. Tetapi saat ia menoleh ke belakang, rumah itu sudah hilang, hanya menyisakan tanah kosong dan reruntuhan yang tidak terlihat sebelumnya.
Dina berlari pulang, bertekad untuk tidak pernah kembali lagi ke tempat itu. Tetapi, saat ia berada di kamarnya, ia memandang ke kaca di meja rias. Di dalam cermin itu, tampak bayangan wanita tua dengan mata kosong yang menatapnya, tersenyum lebar, dan bisikannya terdengar di telinganya: "Kamu sudah menjadi milikku."
Sejak saat itu, Dina tak pernah terlihat lagi di desa itu. Beberapa penduduk mengatakan bahwa mereka mendengar langkah kaki di rumah tua itu pada malam-malam tertentu, dan cermin besar itu kembali mengeluarkan cahaya yang menakutkan. Banyak yang mengatakan bahwa rumah itu kini bukan lagi rumah kosong, melainkan tempat para roh yang penasaran berkumpul, menunggu jiwa baru yang berani mendekat...







