π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Sunday, June 29, 2025

Lorong Kos Blok C

 


Episode 1: Suara dari Kamar Kosong

Di sebuah kota kecil, ada kompleks kos tua bernama Blok C, yang terkenal di kalangan mahasiswa karena murahnya. Namun, hampir semua penghuni tahu satu hal: jangan tempati kamar nomor 7.

Dita, mahasiswi rantau dari luar pulau, baru saja pindah ke kota itu. Karena kepepet dana, ia menerima tawaran kamar paling murah — kamar nomor 7. Ia tak tahu bahwa kamar itu sudah lama kosong. Penjaga kos hanya berkata, “Kalau malam, jangan buka pintu, ya. Walau ada yang ketuk.”

Awalnya semua normal. Tapi malam pertama, tepat jam 2 pagi, Dita terbangun karena suara ketukan pelan di pintu.

Tok... Tok... Tok...

Ia mengintip melalui lubang kecil — tak ada siapa-siapa. Ia berpikir itu hanya suara dari kamar sebelah. Tapi ketukan itu terjadi lagi di malam kedua... dan ketiga. Suaranya makin keras, dan kali ini... terdengar bisikan.

"Buka... Aku kedinginan..."
"Buka... Aku sudah kembali..."

Dita mulai takut dan mencoba menanyakan ke penghuni lain. Seorang tetangga akhirnya memberitahu:

“Dulu, ada gadis yang tinggal di kamar itu. Ia hilang tanpa jejak. Malam sebelum hilang, ia mengeluh selalu ada yang mengetuk pintunya jam 2 pagi. Sama persis seperti kamu.”

Dita kini sadar… ia tinggal di kamar yang menyimpan jejak arwah penasaran.


🩸 Episode 2: Jangan Buka Pintu Itu...

Malam keempat.

Jam 2 pagi.

Suara ketukan itu kembali, lebih keras. Kali ini, Dita mendekat perlahan ke pintu. Jantungnya berpacu cepat. Tangannya gemetar ketika ia mengintip.

Kosong.

Tapi... suara bisikan itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas dan menyerupai tangisan seorang perempuan:

"Aku... terkunci di sini... bukakan pintunya... Aku masih di dalam kamar ini..."

Dita mundur. Tapi tiba-tiba, pintu terbuka sendiri perlahan. Celah pintu menganga, memperlihatkan lorong gelap di luar.

Dari balik bayangan, sesosok tubuh perempuan berdiri — pucat, rambut panjang menutupi wajah, mengenakan baju tidur lusuh. Matanya hitam pekat. Ia menatap Dita dan berkata:

"Kamu yang gantikan aku... sekarang."

Dita berteriak dan berusaha menutup pintu. Tapi seolah tak punya tenaga, tubuhnya berat. Ia pingsan di lantai.

🩸 Episode 3 (Akhir): Kamar 7 Tak Pernah Kosong

Dita terbangun pagi harinya di puskesmas. Tetangga kos menemukan ia tak sadarkan diri dengan cakar panjang di lengan dan lehernya.

Ia segera memutuskan pindah. Namun sebelum keluar, Dita melihat kamar nomor 7... kini tertutup rapat dan dipaku dari luar. Di pintunya, tertulis tulisan baru yang mengerikan:

Sudah ada yang baru. Jangan diganggu.

Beberapa minggu kemudian, seorang mahasiswa baru datang, tertarik dengan harga murah kos Blok C...

Dan penjaga kos kembali berkata:

“Yang penting, jangan buka pintu kalau malam, ya... Walau ada yang ketuk.”


Laut Masih Menyimpan

 


πŸ“ Latar:

Desa Lambaro, Aceh Besar — lima bulan setelah tsunami, 2005.


πŸ‘§ Tokoh:

  • Rika, 18 tahun, relawan medis dari Medan.

  • Bu Yun, janda yang selamat tapi kehilangan seluruh keluarganya.

  • Rumah Tepi Pantai, tempat relawan menginap, dulunya bekas rumah kepala dusun.


🌊 Awal Cerita

Rika tiba di Lambaro sebagai relawan medis. Banyak bangunan rata dengan tanah. Yang tersisa hanya beberapa rumah beton—sepi, basah, dan berlumut.

Ia ditempatkan di sebuah rumah besar yang dulunya rumah kepala dusun. Rumah itu tidak terlalu rusak, tapi orang lokal menolak tinggal di sana.

“Kalau malam, ada suara air naik. Tapi bukan air beneran,” kata Bu Yun dengan suara pelan.


πŸ•―️ Suara Malam

Pada malam ketiga, Rika terbangun pukul 2 dini hari. Ia mendengar suara:

"Tolong... aku di sini..."

Suaranya serak, seperti tenggelam. Lalu terdengar air menetes, meskipun di luar sedang kering.

Ia menyalakan senter, tapi tidak menemukan siapa pun. Di ruang tamu, lantai yang tadi kering sekarang basah seperti habis terkena ombak.


πŸ“Έ Foto yang Tertinggal

Keesokan harinya, Rika menemukan foto keluarga di bawah laci meja tua—lima orang, salah satunya anak kecil yang mengenakan baju merah cerah. Ia simpan foto itu di tasnya.

Namun setelah itu, setiap malam ia melihat bayangan anak kecil berlari di lorong rumah, meninggalkan jejak basah, dan kadang terdengar:

“Ibu… aku ketinggalan…”


🧳 Warga Takut Kembali

Rika bertanya ke Bu Yun soal rumah itu.

Bu Yun terdiam. Kemudian berbisik:

“Kepala dusun dan keluarganya... rumah itu yang terakhir mereka tempati. Istrinya sempat teriak minta tolong. Tapi air datang lebih cepat.”

“Kadang anaknya... masih cari ibunya. Yang pakai baju merah itu…”

Rika kaget. Itu persis foto yang ia temukan. Ia buka kembali tasnya. Foto itu sudah hilang. Yang tertinggal hanya bercak air asin.


🌊 Malam Terakhir

Malam itu, suara ombak terdengar dari dalam rumah. Bukan dari luar.

Air mulai muncul dari celah lantai, seolah-olah rumah itu sedang ditelan laut. Bayangan hitam menari di dinding, dan suara tangisan menggema dari arah kamar mandi.

“Kami belum pulang... Tolong bantu kami pulang…”

Rika pingsan.


πŸ› Epilog

Paginya, warga menemukan Rika tergeletak dengan mata terbuka dan tangan menggenggam sesuatu: sebuah cangkang kerang, dan potongan foto sobek.

Ia dipindahkan ke penginapan lain. Rumah itu akhirnya diratakan, lalu dijadikan monumen kecil bertuliskan:

"Di sini pernah berdiri rumah. Laut sudah membawa, semoga jiwa-jiwa di dalamnya tenang."

Friday, June 27, 2025

Lorong Rumah Sakit

 


Latar:

Sebuah rumah sakit tua yang masih beroperasi di pinggiran kota. Bangunannya sebagian sudah direnovasi, tapi lantai 3—yang katanya pernah jadi ruang isolasi jiwa—ditutup dan kosong sejak 2004.


Amel baru satu minggu magang, tapi sudah merasa tidak nyaman. Setiap malam jaga, ia selalu mendengar langkah kaki dari atas plafon. Padahal atap rumah sakit itu langsung menghadap langit, tak ada ruangan lagi.

“Mungkin tikus,” kata rekan sejawat.
Tapi suaranya seperti sepatu rumah sakit yang terseret pelan.

Pada malam ketiga, Amel diminta mengantar berkas ke ruang arsip. Ia salah naik lift. Bukan ke lantai 2… tapi ke lantai 3, yang katanya sudah tidak dipakai.


πŸšͺ Ruang yang Tak Boleh Dibuka

Lorong lantai 3 gelap, bau kaporit dan jamur menyengat. Semua ruangan kosong… kecuali satu: A3.13.

Tanpa sadar, Amel mendekat. Tangan gatal ingin membuka gagang pintu tua itu.

Tiba-tiba, suara perawat lewat interkom:
“Amel… kamu di mana? Jangan buka A3.13! Turun sekarang juga!”

Amel kaget. Tak ada CCTV di sana. Siapa yang tahu dia sedang berdiri di depan ruangan itu?


🩸 Suara dari Dalam

Saat Amel berbalik untuk kabur, terdengar ketukan… dari dalam ruangan.

Tok… tok… tok…

Lalu suara anak kecil:

“Kak… bukain dong… aku sakit…”

Tangannya gemetar. Tapi rasa penasaran mengalahkan logika. Ia dorong pintu itu perlahan.

Di dalam… gelap. Tapi ada kasur. Ada guling. Dan… ada seseorang duduk membelakangi.

Rambut panjang menjuntai ke lantai. Badannya kurus. Bajunya seperti seragam pasien.
Suaranya pelan, parau:
“Kamu gantian ya. Aku udah capek dikurung di sini…”


πŸ•―️ Kembali ke Dunia Bawah

Amel pingsan.

Ia ditemukan dua jam kemudian oleh Bu Sari di dalam lift, gemetar, memeluk diri sendiri, dan terus mengulang:

“Aku nggak mau gantiin dia… aku nggak mau tinggal di A3.13…”

Setelah malam itu, Amel dirawat seminggu. Ia tidak pernah kembali ke rumah sakit itu. Dan sejak kejadian itu, pintu lift sering terbuka sendiri… hanya untuk menurunkan orang ke lantai 3… tanpa ada yang menekan tombolnya.


❗ Catatan Penutup

Menurut arsip lama, ruangan A3.13 memang pernah digunakan sebagai ruang pasien jiwa bernama Saras. Ia dikurung bertahun-tahun tanpa keluarga. Meninggal karena kelaparan. Dan menurut legenda...

Arwahnya tidak akan tenang… sampai ada yang bersedia menggantikannya.

Cermin di Gudang Belakang







 Awal Cerita

Setelah neneknya meninggal, Laras memutuskan pindah ke rumah warisan di desa Wonosari. Rumah itu tua, beraroma kayu lapuk, dan banyak bagian tidak terurus—termasuk sebuah gudang kecil di belakang rumah yang selalu dikunci.

Warga sekitar bilang, “Kalau malam, jangan dekat-dekat gudang itu ya, Nduk. Kadang ada suara orang nangis dari dalam.”

Laras menganggapnya hanya cerita kampung biasa.


πŸ”“ Gudang Terkunci

Suatu siang, karena ingin membersihkan halaman belakang, Laras iseng membuka kunci gudang. Di dalamnya berdebu, penuh rak kayu, dan satu benda mencolok: sebuah cermin besar berbingkai kayu jati ukiran lawas, tertutup kain putih.

Saat ia menarik kain itu…

Sesuatu terasa tidak biasa.
Udara menjadi dingin.
Dan di cermin itu… pantulan dirinya tersenyum, padahal ia tidak.


πŸŒ™ Teror Dimulai

Malamnya, Laras mulai mengalami kejadian aneh:

  • Mendengar langkah kaki dari arah gudang, meski tak ada siapa-siapa.

  • Cermin di kamarnya berembun dari dalam, padahal lampu dimatikan.

  • Bayangan di dalam cermin berjalan lebih lambat dari dirinya.

Ia mulai mimpi buruk tentang wanita tua dengan rambut panjang yang selalu berkata:

“Cermin itu bukan untuk manusia biasa…”


πŸ“œ Naskah Tua

Laras menemukan buku catatan milik neneknya. Di dalamnya, tertulis:

“Jangan biarkan pantulan itu memandang lebih dari tiga kali. Jika dia tersenyum… maka waktu di sini dan di sana mulai menyatu.”

Laras mulai menyadari: cermin itu bukan sekadar benda mati, tapi gerbang.


🩸 Puncak Teror

Pada malam Jumat Kliwon, Laras terbangun dan melihat dirinya sendiri berdiri di luar cermin, sementara tubuhnya tak bisa bergerak.

Cermin itu bergetar. Sosok “dirinya” di dalam cermin mulai tersenyum lebar, matanya merah, dan perlahan…

Ia keluar dari cermin.

Sosok itu mendekat, berbisik:

“Sekarang giliranmu… kamu tinggal di sini. Aku bebas.”

Tuesday, June 24, 2025

Bukan Oleh-Oleh dari Bangkok



Jakarta - Seorang wanita yang bernama Lia, 28 tahun, karyawan swasta di Jakarta .

“Setiap negara punya kepercayaan masing-masing. Tapi kalau kamu bawa pulang sesuatu yang bukan milikmu... hati-hati, bisa jadi itu ingin pulang.”

Bangkok, Awalnya Hanya Liburan

Lia baru saja kembali dari liburan tiga hari di Bangkok bersama dua sahabatnya. Ia mengunjungi pasar Chatuchak, kuil Wat Arun, dan sempat membeli oleh-oleh unik: sebuah boneka kecil berpakaian tradisional Thailand, duduk bersila dan tersenyum aneh. Ia membelinya dari kios kecil yang dijaga oleh wanita tua bermata kosong.

"Ini Guman Thong," kata penjual itu.

"Rawat dia baik-baik... dia akan ikut kamu."

Lia mengira itu hanya gimmick turis. Ia tertawa, membayar 300 baht, dan membawanya pulang sebagai hiasan rak.

Jakarta: Awal Gangguan

Malam pertama di apartemennya, Lia merasa ada yang aneh. Boneka itu ia taruh di meja dekat TV, tapi saat ia bangun esok paginya, boneka itu sudah berpindah ke rak buku.

Ia pikir mungkin ia lupa. Tapi kejadian itu terus berulang — berpindah tempat, menghadap ke arah tempat tidurnya, bahkan ditemukan duduk di depan pintu kamar mandi.

Mimpi Buruk & Suara Bisikan

"C̄hαΊ‘n xyāk klαΊ‘b b̂ān (Aku ingin pulang...)

Lia tak mengerti maksudnya. Tapi tiap bangun, dadanya sesak, dan boneka itu selalu berpindah tempat.

Puncaknya: malam itu, ia terbangun karena ada tangan kecil mencakar pintu kamarnya dari dalam.

Konsultasi ke Paranormal

Saking takutnya, Lia menghubungi seorang teman yang kenal dukun spiritual. Dukun itu langsung bertanya:

“Kamu bawa pulang Guman Thong, ya?”

Lia terdiam.

Paranormal itu menjelaskan, Guman Thong bukan boneka biasa. Dalam tradisi okultisme Thailand, Guman Thong adalah wadah arwah anak kecil yang meninggal tidak wajar. Mereka bisa diberi "tempat tinggal" dalam boneka dan harus dipuja, diberi makanan, dupa, dan doa.

Kalau diabaikan… mereka marah.

Puncak Teror: Malam Berdarah

Lia memutuskan membuang boneka itu ke tempat sampah tengah malam. Tapi saat ia pulang ke kamar...

Boneka itu sudah ada di tempat tidur.

Tangannya kotor, penuh tanah. Dan di dinding kamarnya, tercoret tulisan darah:

"AKU BILANG... AKU INGIN PULANG."

Lia menjerit. Lampu padam. Dari balik cermin, sosok anak kecil muncul perlahan — bukan boneka — tapi wujud nyata, dengan mata hitam, kulit hangus, dan mulut menganga.

“Kau membawaku ke sini. Kau yang harus memulangkanku... atau kau yang akan tinggal bersamaku selamanya.”

Ritual Pemulangan

Dengan bantuan dukun, Lia akhirnya melakukan ritual pemulangan arwah ke Thailand. Boneka itu harus dibawa kembali ke tanah asalnya — dibakar di bawah pohon suci, dan diberikan persembahan susu serta dupa.

Ia kembali ke Bangkok sendirian.

Di kuil kecil terpencil, dukun lokal membakar boneka itu sambil membaca mantra. Api menyala hebat, dan suara anak kecil menangis terdengar dari dalam api.

Lia pingsan.

Penutup

Sejak saat itu, hidup Lia tenang. Tapi ia tidak pernah lagi membeli oleh-oleh mistik. Ia percaya — ada hal yang tak boleh dibawa pulang, meski hanya seharga 300 baht.

Dan kadang, kalau malam terlalu sunyi, ia masih bermimpi...

anak itu berdiri di bandara, tersenyum, dan berkata:

“Terima kasih... sudah mengantarku pulang.”

Catatan: Guman Thong adalah kepercayaan nyata di Thailand. Meski tidak selalu negatif, jika tidak dirawat sesuai ritual, dipercaya bisa menimbulkan gangguan.


Pintu di Lorong Sunyi

 Jakarta, Mei 1998

Langit berwarna kelabu. Asap hitam membumbung dari kejauhan. Kota ini seperti luka yang baru saja disayat—panas, lengket, dan bergetar oleh kemarahan. Semua orang takut, kecuali lelaki tua penjaga gedung ruko tua di ujung Glodok, yang tetap duduk di kursi rotannya, memandangi sebuah pintu besi di ujung lorong.

Namanya Pak Anwar. Ia sudah tinggal di sana sejak era Presiden Soekarno. Ia tahu gedung itu lebih baik dari siapa pun—termasuk tentang pintu besi yang tak pernah dibuka sejak kerusuhan besar tahun 1998.

“Kalau kau mendengar suara ketukan dari pintu itu, jangan dijawab. Kalau kau dengar suara gadis kecil memanggil-manggil ibunya dari dalam… lari.”

Begitu katanya pada siapa pun yang menginap.


Cerita dimulai...

Tahun 2023, seorang mahasiswa sejarah bernama Arvin datang untuk meneliti sisa-sisa tragedi kerusuhan Mei 1998. Ia menginap di lantai dua ruko yang disewa murah. Di malam pertama, ia sudah merasa ada yang aneh.

Lorong menuju kamarnya selalu gelap, meski lampu menyala. Setiap malam, tepat jam 2:00 dini hari, ia mendengar suara berbisik dalam bahasa Mandarin, lalu disusul ketukan pelan... tiga kali.

Tok... tok... tok...

Awalnya ia kira halusinasi. Tapi suara itu terlalu nyata. Bahkan semakin hari, suara itu semakin jelas: suara anak kecil perempuan.

"Mama... buka pintunya, gelap di dalam sini..."


Rasa ingin tahu

Arvin tidak tahan. Suatu malam, ia memberanikan diri menyusuri lorong itu. Di ujung lorong, ada pintu besi tua penuh karat, dengan tulisan pudar:
"Toko Emas Sinar Baru"

Ia memegang gagang pintu. Dingin seperti es. Saat ia nyaris memutarnya...
tiba-tiba suara tua membentaknya dari belakang.

“JANGAN dibuka! Kalau kamu buka, kamu tak akan bisa keluar!”
Itu suara Pak Anwar.


Pengakuan Penjaga Tua

Pak Anwar akhirnya bercerita. Saat kerusuhan 1998, ruko itu menjadi tempat persembunyian satu keluarga Tionghoa: sepasang suami istri dan anak perempuan mereka bernama Xiao Mei, berumur 7 tahun. Saat massa menyerbu dan membakar, hanya ayahnya yang sempat melarikan diri. Ibu dan Xiao Mei terkunci dalam toko.

Mereka tak pernah ditemukan. Hanya sisa arang dan potongan boneka panda yang terbakar. Setelah itu, warga sering mendengar suara tangisan dan jeritan dari balik pintu itu. Tapi pintu itu tak bisa dibuka. Bahkan oleh tukang kunci.


Malam Terakhir

Arvin, yang tetap penasaran, memasang kamera dan alat perekam suara. Ia ingin membuktikan bahwa semuanya hanya efek psikologis, trauma kolektif.

Tapi malam itu, kameranya menangkap sesuatu yang mengerikan:
bayangan kecil berdiri di depan pintu besi.
Wajahnya tidak punya mata, hanya cekungan hitam mengalir darah.
Tangan kecilnya menempel ke pintu, dan terdengar jelas dari alat perekam:

“Aku masih di sini. Mama belum pulang...”

Ketika Arvin melihat rekaman itu, ia muntah. Dan keesokan harinya, ia hilang.


Penutup

Pak Anwar menemukan kamar Arvin kosong. Tapi di lorong, di depan pintu besi itu, ada jejak kaki kecil berwarna hitam terbakar, mengarah ke pintu… lalu lenyap di bawahnya.

Tak ada yang pernah melihat Arvin lagi. Tapi sejak hari itu, ketukan dari balik pintu datang lebih sering.

Tok... Tok... Tok...

“Mama... mereka belum datang kan…?”

Sunday, June 22, 2025

Arwah di Bawah Masjid Tua Palestina

Di sebuah desa kecil di wilayah Palestina yang telah lama hancur akibat perang, berdiri sebuah masjid tua — nyaris runtuh, dengan menara yang miring dan cat yang mengelupas. Warga menyebutnya Masjid Al-Maut, atau Masjid Kematian. Tak seorang pun berani mendekatinya setelah matahari terbenam.

Konon, di bawah masjid itu terdapat lorong rahasia yang dulunya digunakan pejuang untuk bersembunyi. Namun setelah sebuah serangan udara menghancurkan bagian bawah tanahnya, lorong itu tertimbun... dan bersama dengannya terkuburlah puluhan tubuh syuhada dan warga sipil yang tidak sempat keluar.

Awal Teror

Suatu malam, seorang remaja yatim bernama Yassir, yang kehilangan keluarganya dalam konflik, mencari tempat berteduh. Ia nekat bermalam di dalam masjid tua itu. “Tak ada tempat lain, dan Tuhan akan melindungiku,” ucapnya lirih sambil membuka pintu kayu yang sudah reot.

Namun sejak ia melangkah masuk, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Jam dinding tua yang tak berdetik sejak bertahun-tahun, tiba-tiba berdentang dua kali. Lalu azan terdengar… tapi suara itu serak dan pelan, seperti berasal dari dalam tanah.

Saat malam makin larut, Yassir mendengar suara langkah kaki… tapi tak ada siapa-siapa. Lalu terdengar tangisan anak kecil, memanggil “Abi… Abi…” dari ruang bawah mihrab. Saat ia mencoba memeriksa, lantai tiba-tiba retak, dan tanah di bawahnya ambruk sedikit.

Yassir melihat sebuah ruang gelap berisi tulang-tulang manusia, sebagian masih memakai baju tempur, sebagian lainnya seperti wanita dan anak-anak. Tapi yang membuatnya gemetar adalah wajah-wajah mereka yang perlahan menoleh ke arahnya, tanpa mata, namun seolah melihat langsung ke jiwanya.

Arwah yang Belum Tenang

Yassir terjatuh dan tak sadarkan diri. Dalam mimpinya, para arwah itu berbicara padanya. Mereka tidak marah, tapi mereka menangis, meminta dibacakan doa dan menyampaikan pesan kepada keluarga mereka yang masih hidup.

Salah satu dari mereka, seorang gadis kecil bernama Leena, memegang tangan Yassir dan berbisik:
"Katakan pada dunia… kami bukan hantu. Kami hanya ingin dikenang, bukan dilupakan."

Ketika Yassir bangun keesokan paginya, ia berada di luar masjid, dengan debu dan darah mengering di pakaiannya. Tapi anehnya, lorong tempat ia jatuh tidak ditemukan lagi, seolah-olah tertutup sepenuhnya oleh bumi.

Akhir yang Tak Tuntas

Sejak malam itu, Yassir mulai mengumpulkan warga dan membacakan doa bersama setiap malam Jumat di halaman masjid tua itu. Anehnya, tiap kali mereka selesai berdoa, suara tangisan dan jeritan yang biasanya terdengar dari dalam masjid... menghilang satu demi satu.

Namun, hingga kini… satu suara masih terdengar jelas setiap malam:
"Abi… Abi… pulanglah..."
Dan siapa pun yang tidur di dekat masjid itu, pasti akan bermimpi tentang Leena... gadis kecil dengan mata hitam kosong yang terus mencari ayahnya di tengah reruntuhan.

Jalan Sunyi Alas Roban

Malam itu, Egy memacu motornya melewati jalan berkelok di tengah hutan Alas Roban. Udara lembab menusuk kulit, dan kabut tipis mulai turun meski jarum jam belum menyentuh tengah malam. Ia baru pulang dari rumah temannya di Kendal, dan memilih jalan pintas melewati Alas Roban—sebuah keputusan yang segera ia sesali. Hutan itu terkenal angker. Banyak cerita tentang truk yang tiba-tiba rem blong, penampakan tanpa kepala, dan suara wanita menangis yang menggema dari balik pohon jati. Tapi Egy bukan tipe yang percaya begituan. “Itu cuma sugesti orang kampung,” pikirnya sambil menyalakan rokok. Saat sampai di tikungan tajam, mesinnya tiba-tiba brebet. Lampu motor berkedip sebentar, lalu padam. Rem mendadak berat, dan suara jangkrik menghilang begitu saja. Egy turun dan mencoba menghidupkan kembali motornya. Seketika itu juga, ia mendengar langkah kaki… pelan… berat… seakan seseorang menyeret kakinya di atas tanah berkerikil. Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Tapi hawa dingin menyeruak, seperti ada yang berdiri tepat di belakangnya. “Maaf, saya cuma lewat,” katanya pelan. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Bajunya lusuh dan compang-camping. Ia menatap Egy dari kejauhan. Tapi yang membuat darah Egy beku—wanita itu melayang. Egy berusaha menyalakan motornya. Berkali-kali ia mengengkol, tapi sia-sia. Sosok itu semakin dekat… lalu terdengar suara berbisik: "Kau juga akan tinggal di sini..." Egy menjerit dan akhirnya berhasil menyalakan motor. Ia langsung tancap gas, tak berani menoleh. Tapi sepanjang perjalanan keluar dari hutan, kaca spionnya memperlihatkan bayangan wanita itu duduk di jok belakangnya. Ia tak berhenti hingga fajar menyingsing dan mendapati dirinya di pom bensin seberang alas. Sudah tiga hari sejak Egy melewati Alas Roban. Tubuhnya masih lelah, tapi yang lebih parah adalah pikirannya. Ia selalu merasa diikuti. Setiap kali berkaca, ada perasaan seperti seseorang mengawasinya. Bahkan saat tidur pun, ia kerap terbangun karena mimpi buruk—selalu mimpi yang sama: sosok wanita itu berdiri di ujung tempat tidurnya, memanggil namanya perlahan... “Egy…” Ia mulai merasa kehilangan akal. Malam keempat, saat ia mencuci motornya di halaman, ia menyadari sesuatu yang mengerikan—di kaca spion kanan, ada bekas tangan… seperti telapak yang menempel dari dalam. Tapi saat ia menyentuhnya, tidak ada bekas apapun. Kaca bersih. Keesokan harinya, Egy memutuskan untuk bertanya ke seorang dukun tua di desa sebelah, yang dikenal bisa “melihat” yang tak kasat mata. Dukun itu hanya menatap motor Egy lama. Wajahnya mulai pucat. “Kamu tidak sendirian waktu pulang dari Alas Roban itu, Nak,” gumamnya lirih. “Dia ikut… dan sekarang dia belum mau pergi.” Egy gemetar. “Siapa dia, Mbah?” Dukun itu kemudian menyuruh Egy duduk dan membakar dupa. Asap tebal memenuhi ruangan, dan tiba-tiba terdengar suara tangisan… lirih, seperti dari dalam kepalanya sendiri. “Namanya Sri. Ia meninggal di tikungan Alas Roban, dijatuhkan kekasihnya dari motor karena hamil di luar nikah. Arwahnya tak diterima bumi, dan dia masih mencari ‘teman’ agar tidak sendirian.” Egy merasakan tubuhnya dingin seperti es. Dukun itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, “Kalau kamu tidak mengembalikan dia ke tempat dia berasal… kamu akan digantikan.” Malam itu, langit tertutup awan. Egy kembali ke Alas Roban, ditemani dukun tua bernama Mbah Parto. Di tangannya tergenggam seikat bunga kantil dan segenggam tanah dari kuburan Sri—yang ternyata tak jauh dari tikungan tempat Egy berhenti malam itu. Motor Egy berjalan pelan, lampunya menyinari jalan berkelok dan sunyi. Kabut turun perlahan, seolah menyambut mereka kembali. “Ingat, jangan menoleh… apa pun yang kamu dengar atau lihat,” pesan Mbah Parto sambil meletakkan bunga kantil di jok belakang motor. Mereka berhenti di tikungan maut itu. Angin berhenti. Suara malam hilang. Mbah Parto mulai membaca doa. Asap kemenyan membumbung. Lalu terdengar suara langkah… seperti malam itu. Berat. Pelan. Diikuti suara tangisan perempuan. Egy menggenggam erat stang motor, jantungnya berdetak liar. Tiba-tiba, dari arah belakang, suara perempuan itu kembali memanggil: “Egy…” Tapi kali ini, ia tak menoleh. Ia hanya menunduk, menahan napas. Tubuhnya gemetar, tapi ia terus mendengarkan doa dari Mbah Parto yang semakin cepat dan berat. Suara tangisan itu berubah jadi jeritan. Lalu senyap. Bunga kantil di jok belakang terbakar dengan sendirinya, lalu menghitam. Kemenyan padam. Mbah Parto berdiri perlahan. “Dia sudah pergi…” Egy perlahan menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi udara terasa jauh lebih ringan. Sudah setahun sejak malam itu. Egy tak pernah melihat bayangan di spion lagi. Mimpi buruknya berhenti. Tapi ia tak pernah lagi lewat Alas Roban, bahkan di siang hari. Motor lamanya sudah ia jual. Setiap kali ada yang tanya kenapa, ia hanya tersenyum tipis dan berkata: “Kadang, yang menumpang… tidak selalu terlihat.” Dan di dalam laci kamarnya, masih tersimpan selembar foto lama yang diberikan Mbah Parto. Wajah seorang gadis muda, tersenyum tipis di pinggir jalan. Di balik foto itu tertulis: "Sri – Tikungan Alas Roban, 1987." Sejak hari itu, Egy tak pernah mau menyebut kata “Alas Roban” lagi—bahkan untuk bercanda.

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...