Latar:
Sebuah rumah sakit tua yang masih beroperasi di pinggiran kota. Bangunannya sebagian sudah direnovasi, tapi lantai 3—yang katanya pernah jadi ruang isolasi jiwa—ditutup dan kosong sejak 2004.
Amel baru satu minggu magang, tapi sudah merasa tidak nyaman. Setiap malam jaga, ia selalu mendengar langkah kaki dari atas plafon. Padahal atap rumah sakit itu langsung menghadap langit, tak ada ruangan lagi.
“Mungkin tikus,” kata rekan sejawat.
Tapi suaranya seperti sepatu rumah sakit yang terseret pelan.
Pada malam ketiga, Amel diminta mengantar berkas ke ruang arsip. Ia salah naik lift. Bukan ke lantai 2… tapi ke lantai 3, yang katanya sudah tidak dipakai.
πͺ Ruang yang Tak Boleh Dibuka
Lorong lantai 3 gelap, bau kaporit dan jamur menyengat. Semua ruangan kosong… kecuali satu: A3.13.
Tanpa sadar, Amel mendekat. Tangan gatal ingin membuka gagang pintu tua itu.
Tiba-tiba, suara perawat lewat interkom:
“Amel… kamu di mana? Jangan buka A3.13! Turun sekarang juga!”
Amel kaget. Tak ada CCTV di sana. Siapa yang tahu dia sedang berdiri di depan ruangan itu?
π©Έ Suara dari Dalam
Saat Amel berbalik untuk kabur, terdengar ketukan… dari dalam ruangan.
Tok… tok… tok…
Lalu suara anak kecil:
“Kak… bukain dong… aku sakit…”
Tangannya gemetar. Tapi rasa penasaran mengalahkan logika. Ia dorong pintu itu perlahan.
Di dalam… gelap. Tapi ada kasur. Ada guling. Dan… ada seseorang duduk membelakangi.
Rambut panjang menjuntai ke lantai. Badannya kurus. Bajunya seperti seragam pasien.
Suaranya pelan, parau:
“Kamu gantian ya. Aku udah capek dikurung di sini…”
π―️ Kembali ke Dunia Bawah
Amel pingsan.
Ia ditemukan dua jam kemudian oleh Bu Sari di dalam lift, gemetar, memeluk diri sendiri, dan terus mengulang:
“Aku nggak mau gantiin dia… aku nggak mau tinggal di A3.13…”
Setelah malam itu, Amel dirawat seminggu. Ia tidak pernah kembali ke rumah sakit itu. Dan sejak kejadian itu, pintu lift sering terbuka sendiri… hanya untuk menurunkan orang ke lantai 3… tanpa ada yang menekan tombolnya.
❗ Catatan Penutup
Menurut arsip lama, ruangan A3.13 memang pernah digunakan sebagai ruang pasien jiwa bernama Saras. Ia dikurung bertahun-tahun tanpa keluarga. Meninggal karena kelaparan. Dan menurut legenda...
Arwahnya tidak akan tenang… sampai ada yang bersedia menggantikannya.

No comments:
Post a Comment