Rani dan keluarganya baru pindah ke rumah warisan dari nenek yang sudah lama meninggal. Rumah itu besar dan kuno, berdiri di pinggiran kota dengan halaman belakang yang rimbun dan gelap. Semuanya tampak biasa saja, kecuali satu ruangan.
Kamar belakang.
Kunci kamar itu hilang, dan tidak ada yang tahu apa isinya. Ayah Rani bilang akan mendobrak pintunya nanti, tapi karena sibuk, akhirnya tertunda terus.
Suatu malam, Rani terbangun karena mendengar bunyi pintu diketuk dari arah kamar belakang.
Tok… tok… tok...
Ia diam. Tapi suara itu terus terdengar setiap malam, selalu pada jam 2 pagi.
Sampai malam keempat, pintu kamar Rani tiba-tiba terbuka sendiri. Angin dingin menyeruak masuk. Dan dari lorong gelap, terdengar suara seseorang memanggil lirih:
“Raniii… bantu aku keluar...”
Rani membeku. Itu suara perempuan. Suaranya seperti... suara neneknya.
Tapi... nenek sudah meninggal 5 tahun lalu.
Keesokan harinya, Rani menemukan kunci tua di dalam laci lemari peninggalan nenek. Entah kenapa, tangannya langsung membawa kunci itu ke kamar belakang.
Pelan-pelan, ia masukkan kunci ke lubang dan memutarnya. Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Di dalam kamar yang gelap dan berdebu, ada kursi kayu tua dan cermin besar. Di cermin itu... Rani melihat dirinya sendiri, tapi versi yang sangat pucat dan tersenyum aneh.
Bayangannya berbisik:
“Akhirnya... kamu membebaskan aku.”
Lalu cermin itu retak… dan bayangannya tetap berdiri, meski Rani sudah mundur menjauh.
Saat orangtuanya memanggil, mereka hanya menemukan kamar belakang kosong, dan cermin besar yang kini memantulkan dua bayangan, meski hanya satu orang berdiri di depan.
No comments:
Post a Comment