π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Monday, April 28, 2025

Penghuni Rumah Sebelah

Sudah dua minggu Arman pindah ke rumah barunya, sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Lingkungannya tenang, terlalu tenang malah. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tampak tua, dan jarang terlihat orang keluar-masuk. Tapi bagi Arman, itu sempurna. Ia mencari ketenangan setelah patah hati besar yang membuatnya ingin hidup jauh dari keramaian.

Suatu malam, ketika ia sedang membaca buku di ruang tamu, terdengar suara ketukan dari arah rumah sebelah. Pelan, seperti seseorang yang mengetuk kaca jendela dengan ujung jarinya.

Tok... tok... tok...

Arman mengintip dari tirai. Rumah sebelah, yang konon sudah lama kosong, tampak gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia menggelengkan kepala, berpikir mungkin itu hanya suara pohon atau hewan kecil.

Malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Tok-tok-tok, seperti irama aneh, seakan ada pola. Arman merasa bulu kuduknya berdiri. Dengan keberanian setengah hati, ia keluar rumah, membawa senter.

Pintu rumah sebelah sedikit terbuka, berderit pelan tertiup angin malam. Ia menyorotkan senter ke dalam. Debu tebal menutupi lantai, furnitur lama membusuk di sudut-sudut. Tapi ada sesuatu yang membuat Arman terpaku.

Jejak kaki.

Jejak-jejak kecil, seperti jejak kaki anak-anak, tercetak jelas di atas debu, menuju tangga kayu yang mengarah ke lantai dua.

"Siapa di sana?" teriak Arman. Tidak ada jawaban.

Pintu depan tiba-tiba menutup dengan keras. Arman berlari kembali ke rumahnya sendiri, jantung berdegup tak karuan.

Esok paginya, ia menceritakan kejadian itu pada Pak Darto, satu-satunya tetangga yang pernah menyapanya.

Pak Darto menghela napas berat. "Rumah itu... sudah lama kosong, Mas Arman. Pemilik sebelumnya, sepasang suami-istri, meninggal di sana. Tidak wajar."

"Meninggal tidak wajar?"

Pak Darto mengangguk perlahan. "Mereka ditemukan di kamar atas, katanya... seperti dicekik, tapi tidak ada tanda-tanda orang masuk. Lebih aneh lagi, orang-orang bilang mereka sering mendengar suara anak kecil, padahal mereka tidak punya anak."

Arman tertawa gugup. "Mungkin hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang baru."

Pak Darto menatapnya serius. "Kalau malam, jangan keluar. Jangan lihat ke rumah itu terlalu lama."

Arman mengangguk, tapi di dalam hatinya, rasa ingin tahu malah semakin membuncah.

Malam itu, hujan turun deras. Arman sedang berusaha tidur ketika suara ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini, bukan dari rumah sebelah. Suara itu berasal dari jendela kamarnya sendiri.

Tok... tok... tok...

Arman mematung. Suara itu pelan, sabar, seperti menunggu sesuatu. Dengan perlahan, ia menarik selimutnya, berharap suara itu berhenti. Namun, setelah beberapa menit, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Ia membuka matanya dan melirik ke arah jendela.

Seseorang berdiri di luar.

Bukan, lebih tepatnya... sesuatu.

Wajahnya pucat, matanya hitam legam tanpa bola mata, bibirnya tersenyum aneh. Tubuhnya kecil, seperti anak-anak. Sosok itu mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tangannya, yang tampak kurus kering, menggores kaca jendela, meninggalkan bekas putih.

Arman mundur perlahan. Tapi suara ketukan mulai terdengar dari arah pintu depan, pintu belakang, bahkan dari dalam lemari.

Tok... tok... tok...

Seolah-olah seluruh rumah dikepung suara itu.

Dalam kepanikan, Arman mengunci semua pintu dan jendela, lalu bersembunyi di bawah meja. Ia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengabaikan suara-suara itu. Lama sekali ia berdiam diri, sampai akhirnya suara itu perlahan menghilang.

Keesokan harinya, Arman memutuskan untuk pergi. Ia tak peduli dengan uang muka yang sudah dibayarkan untuk rumah itu. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.

Saat berkemas, ia menemukan sesuatu di bawah meja tempat ia bersembunyi semalam. Sebuah foto tua, lusuh dan hampir pudar.

Dalam foto itu, tampak pasangan suami istri tersenyum bahagia, dengan seorang anak kecil di tengah mereka. Anak kecil itu mengenakan pakaian putih, wajahnya... sama persis dengan sosok yang Arman lihat tadi malam.

Di belakang foto, ada tulisan tangan:

"Bersama selamanya, tak akan membiarkanmu pergi."

Arman gemetar. Ia membuang foto itu dan bergegas keluar.

Tapi saat hendak mengunci pintu, ia melihat sesuatu di lantai ruang tamu.

Jejak kaki kecil, basah oleh air hujan, bertebaran ke seluruh rumah, menuju ke belakangnya.

Sebuah bisikan terdengar di telinganya.

"Main... lagi...?"

Arman berbalik, namun dunia gelap seketika.

Rumah itu kembali sunyi, seolah tak pernah ada yang tinggal di dalamnya.

Beberapa minggu kemudian, seorang agen properti memasang tanda "DIJUAL" di depan rumah Arman. Ia tersenyum puas, lalu memandang ke arah rumah sebelah.

Dari jendela lantai dua, sepasang mata kecil memperhatikannya.

Mereka menunggu penghuni baru.

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...