π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Tuesday, June 24, 2025

Pintu di Lorong Sunyi

 Jakarta, Mei 1998

Langit berwarna kelabu. Asap hitam membumbung dari kejauhan. Kota ini seperti luka yang baru saja disayat—panas, lengket, dan bergetar oleh kemarahan. Semua orang takut, kecuali lelaki tua penjaga gedung ruko tua di ujung Glodok, yang tetap duduk di kursi rotannya, memandangi sebuah pintu besi di ujung lorong.

Namanya Pak Anwar. Ia sudah tinggal di sana sejak era Presiden Soekarno. Ia tahu gedung itu lebih baik dari siapa pun—termasuk tentang pintu besi yang tak pernah dibuka sejak kerusuhan besar tahun 1998.

“Kalau kau mendengar suara ketukan dari pintu itu, jangan dijawab. Kalau kau dengar suara gadis kecil memanggil-manggil ibunya dari dalam… lari.”

Begitu katanya pada siapa pun yang menginap.


Cerita dimulai...

Tahun 2023, seorang mahasiswa sejarah bernama Arvin datang untuk meneliti sisa-sisa tragedi kerusuhan Mei 1998. Ia menginap di lantai dua ruko yang disewa murah. Di malam pertama, ia sudah merasa ada yang aneh.

Lorong menuju kamarnya selalu gelap, meski lampu menyala. Setiap malam, tepat jam 2:00 dini hari, ia mendengar suara berbisik dalam bahasa Mandarin, lalu disusul ketukan pelan... tiga kali.

Tok... tok... tok...

Awalnya ia kira halusinasi. Tapi suara itu terlalu nyata. Bahkan semakin hari, suara itu semakin jelas: suara anak kecil perempuan.

"Mama... buka pintunya, gelap di dalam sini..."


Rasa ingin tahu

Arvin tidak tahan. Suatu malam, ia memberanikan diri menyusuri lorong itu. Di ujung lorong, ada pintu besi tua penuh karat, dengan tulisan pudar:
"Toko Emas Sinar Baru"

Ia memegang gagang pintu. Dingin seperti es. Saat ia nyaris memutarnya...
tiba-tiba suara tua membentaknya dari belakang.

“JANGAN dibuka! Kalau kamu buka, kamu tak akan bisa keluar!”
Itu suara Pak Anwar.


Pengakuan Penjaga Tua

Pak Anwar akhirnya bercerita. Saat kerusuhan 1998, ruko itu menjadi tempat persembunyian satu keluarga Tionghoa: sepasang suami istri dan anak perempuan mereka bernama Xiao Mei, berumur 7 tahun. Saat massa menyerbu dan membakar, hanya ayahnya yang sempat melarikan diri. Ibu dan Xiao Mei terkunci dalam toko.

Mereka tak pernah ditemukan. Hanya sisa arang dan potongan boneka panda yang terbakar. Setelah itu, warga sering mendengar suara tangisan dan jeritan dari balik pintu itu. Tapi pintu itu tak bisa dibuka. Bahkan oleh tukang kunci.


Malam Terakhir

Arvin, yang tetap penasaran, memasang kamera dan alat perekam suara. Ia ingin membuktikan bahwa semuanya hanya efek psikologis, trauma kolektif.

Tapi malam itu, kameranya menangkap sesuatu yang mengerikan:
bayangan kecil berdiri di depan pintu besi.
Wajahnya tidak punya mata, hanya cekungan hitam mengalir darah.
Tangan kecilnya menempel ke pintu, dan terdengar jelas dari alat perekam:

“Aku masih di sini. Mama belum pulang...”

Ketika Arvin melihat rekaman itu, ia muntah. Dan keesokan harinya, ia hilang.


Penutup

Pak Anwar menemukan kamar Arvin kosong. Tapi di lorong, di depan pintu besi itu, ada jejak kaki kecil berwarna hitam terbakar, mengarah ke pintu… lalu lenyap di bawahnya.

Tak ada yang pernah melihat Arvin lagi. Tapi sejak hari itu, ketukan dari balik pintu datang lebih sering.

Tok... Tok... Tok...

“Mama... mereka belum datang kan…?”

No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...