Add Faccebook resmi kami : Horor Yuk dan jangan lupa gabung juga ke group Facebook kami : Cerita Horor & Legenda
Sunday, June 22, 2025
Jalan Sunyi Alas Roban
Malam itu, Egy memacu motornya melewati jalan berkelok di tengah hutan Alas Roban. Udara lembab menusuk kulit, dan kabut tipis mulai turun meski jarum jam belum menyentuh tengah malam. Ia baru pulang dari rumah temannya di Kendal, dan memilih jalan pintas melewati Alas Roban—sebuah keputusan yang segera ia sesali.
Hutan itu terkenal angker. Banyak cerita tentang truk yang tiba-tiba rem blong, penampakan tanpa kepala, dan suara wanita menangis yang menggema dari balik pohon jati. Tapi Egy bukan tipe yang percaya begituan. “Itu cuma sugesti orang kampung,” pikirnya sambil menyalakan rokok.
Saat sampai di tikungan tajam, mesinnya tiba-tiba brebet. Lampu motor berkedip sebentar, lalu padam. Rem mendadak berat, dan suara jangkrik menghilang begitu saja.
Egy turun dan mencoba menghidupkan kembali motornya. Seketika itu juga, ia mendengar langkah kaki… pelan… berat… seakan seseorang menyeret kakinya di atas tanah berkerikil. Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Tapi hawa dingin menyeruak, seperti ada yang berdiri tepat di belakangnya.
“Maaf, saya cuma lewat,” katanya pelan.
Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Bajunya lusuh dan compang-camping. Ia menatap Egy dari kejauhan. Tapi yang membuat darah Egy beku—wanita itu melayang.
Egy berusaha menyalakan motornya. Berkali-kali ia mengengkol, tapi sia-sia. Sosok itu semakin dekat… lalu terdengar suara berbisik:
"Kau juga akan tinggal di sini..."
Egy menjerit dan akhirnya berhasil menyalakan motor. Ia langsung tancap gas, tak berani menoleh. Tapi sepanjang perjalanan keluar dari hutan, kaca spionnya memperlihatkan bayangan wanita itu duduk di jok belakangnya.
Ia tak berhenti hingga fajar menyingsing dan mendapati dirinya di pom bensin seberang alas.
Sudah tiga hari sejak Egy melewati Alas Roban. Tubuhnya masih lelah, tapi yang lebih parah adalah pikirannya. Ia selalu merasa diikuti. Setiap kali berkaca, ada perasaan seperti seseorang mengawasinya. Bahkan saat tidur pun, ia kerap terbangun karena mimpi buruk—selalu mimpi yang sama: sosok wanita itu berdiri di ujung tempat tidurnya, memanggil namanya perlahan...
“Egy…”
Ia mulai merasa kehilangan akal. Malam keempat, saat ia mencuci motornya di halaman, ia menyadari sesuatu yang mengerikan—di kaca spion kanan, ada bekas tangan… seperti telapak yang menempel dari dalam. Tapi saat ia menyentuhnya, tidak ada bekas apapun. Kaca bersih.
Keesokan harinya, Egy memutuskan untuk bertanya ke seorang dukun tua di desa sebelah, yang dikenal bisa “melihat” yang tak kasat mata.
Dukun itu hanya menatap motor Egy lama. Wajahnya mulai pucat.
“Kamu tidak sendirian waktu pulang dari Alas Roban itu, Nak,” gumamnya lirih.
“Dia ikut… dan sekarang dia belum mau pergi.”
Egy gemetar. “Siapa dia, Mbah?”
Dukun itu kemudian menyuruh Egy duduk dan membakar dupa. Asap tebal memenuhi ruangan, dan tiba-tiba terdengar suara tangisan… lirih, seperti dari dalam kepalanya sendiri.
“Namanya Sri. Ia meninggal di tikungan Alas Roban, dijatuhkan kekasihnya dari motor karena hamil di luar nikah. Arwahnya tak diterima bumi, dan dia masih mencari ‘teman’ agar tidak sendirian.”
Egy merasakan tubuhnya dingin seperti es. Dukun itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata,
“Kalau kamu tidak mengembalikan dia ke tempat dia berasal… kamu akan digantikan.”
Malam itu, langit tertutup awan. Egy kembali ke Alas Roban, ditemani dukun tua bernama Mbah Parto. Di tangannya tergenggam seikat bunga kantil dan segenggam tanah dari kuburan Sri—yang ternyata tak jauh dari tikungan tempat Egy berhenti malam itu.
Motor Egy berjalan pelan, lampunya menyinari jalan berkelok dan sunyi. Kabut turun perlahan, seolah menyambut mereka kembali.
“Ingat, jangan menoleh… apa pun yang kamu dengar atau lihat,” pesan Mbah Parto sambil meletakkan bunga kantil di jok belakang motor.
Mereka berhenti di tikungan maut itu. Angin berhenti. Suara malam hilang.
Mbah Parto mulai membaca doa. Asap kemenyan membumbung. Lalu terdengar suara langkah… seperti malam itu. Berat. Pelan. Diikuti suara tangisan perempuan.
Egy menggenggam erat stang motor, jantungnya berdetak liar.
Tiba-tiba, dari arah belakang, suara perempuan itu kembali memanggil:
“Egy…”
Tapi kali ini, ia tak menoleh. Ia hanya menunduk, menahan napas. Tubuhnya gemetar, tapi ia terus mendengarkan doa dari Mbah Parto yang semakin cepat dan berat.
Suara tangisan itu berubah jadi jeritan. Lalu senyap.
Bunga kantil di jok belakang terbakar dengan sendirinya, lalu menghitam. Kemenyan padam.
Mbah Parto berdiri perlahan. “Dia sudah pergi…”
Egy perlahan menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi udara terasa jauh lebih ringan.
Sudah setahun sejak malam itu. Egy tak pernah melihat bayangan di spion lagi. Mimpi buruknya berhenti. Tapi ia tak pernah lagi lewat Alas Roban, bahkan di siang hari.
Motor lamanya sudah ia jual. Setiap kali ada yang tanya kenapa, ia hanya tersenyum tipis dan berkata:
“Kadang, yang menumpang… tidak selalu terlihat.”
Dan di dalam laci kamarnya, masih tersimpan selembar foto lama yang diberikan Mbah Parto. Wajah seorang gadis muda, tersenyum tipis di pinggir jalan. Di balik foto itu tertulis:
"Sri – Tikungan Alas Roban, 1987."
Sejak hari itu, Egy tak pernah mau menyebut kata “Alas Roban” lagi—bahkan untuk bercanda.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Mereka ada dimana-mana
Penghuni Belakang
Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...
-
Jakarta - Seorang wanita yang bernama Lia, 28 tahun, karyawan swasta di Jakarta . “Setiap negara punya kepercayaan masing-masing. Tapi kalau...
-
Awal Cerita Setelah neneknya meninggal, Laras memutuskan pindah ke rumah warisan di desa Wonosari. Rumah itu tua, beraroma kayu lapuk, dan...
-
Rani dan keluarganya baru pindah ke rumah warisan dari nenek yang sudah lama meninggal. Rumah itu besar dan kuno, berdiri di pinggiran kota...

No comments:
Post a Comment