Ceritaseramdulu,Banten - Setelah kejadian malam itu, ketua kelas, Andi, merasa terguncang. Wajah dosen dengan tatapan tajam dan senyum dingin terus menghantui pikirannya. Andi mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi, mungkin efek dari terlalu lelah. Namun, teman-temannya yang berada di kelas malam itu juga merasakan hal yang sama: hawa dingin, suasana aneh, dan kehadiran yang tidak biasa.
Beberapa hari kemudian, Andi mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang Pak Darmawan, dosen yang mereka temui malam itu. Ia pergi ke perpustakaan kampus, berharap bisa menemukan arsip atau dokumen tentang dosen-dosen lama.
Saat sedang mencari di rak buku tua, ia menemukan sebuah buku catatan yang tampak berbeda dari yang lain. Buku itu berdebu, dengan sampul hitam polos tanpa judul. Ketika ia membukanya, ia terkejut melihat bahwa itu adalah jurnal pribadi milik seseorang bernama Darmawan.
Catatan di dalam jurnal:
"Hari ini, aku merasa ada yang mengawasiku. Sejak kecelakaan di ruang 404, aku tidak bisa tidur nyenyak. Suara langkah kaki, bisikan, dan bayangan hitam terus menghantuiku. Aku takut, tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus bercerita. Mereka bilang itu hanya halusinasi, tapi aku tahu ada sesuatu di gedung ini yang tidak bisa dijelaskan."
Andi merinding membaca tulisan itu. Ia mencoba membalik halaman lebih jauh, tetapi beberapa halaman terlihat seperti terbakar, meninggalkan bekas gosong di ujungnya. Di halaman terakhir yang utuh, ia membaca satu kalimat yang membuat bulu kuduknya berdiri:
"Jika kau membaca ini, aku sudah pergi. Tapi ingatlah, aku tidak pernah benar-benar meninggalkan ruang itu."
Tiba-tiba, lampu perpustakaan berkedip-kedip. Andi merasa suhu ruangan menjadi lebih dingin. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat, meskipun tidak ada orang lain di sana. Perlahan, ia menoleh, dan di ujung lorong rak buku, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya—Pak Darmawan.
"Kenapa kamu mencari saya, Andi?" suara itu bergema, rendah dan menyeramkan.
Andi terdiam, tubuhnya kaku. Ia ingin berlari, tetapi kakinya terasa seperti terpaku di lantai. Sosok itu mendekat, langkahnya tanpa suara, dan wajahnya yang pucat tampak semakin jelas. Mata Pak Darmawan memancarkan sinar merah yang sama seperti malam di ruang 404.
"Jangan ganggu aku lagi... atau kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruang itu," bisiknya dengan suara yang mengerikan.
Andi jatuh pingsan.
πΏLANJUT KE EPISODE 3πΏ


No comments:
Post a Comment