Bagian 1: Pendakian yang Salah
Ronald, mahasiswa pencinta alam, memutuskan untuk melakukan pendakian solo ke gunung yang belum banyak dikenal: Gunung Telaga Hitam. Warga sekitar percaya bahwa di sana ada gua yang tak boleh dimasuki, terutama menjelang malam. Tapi Ronald, yang skeptis terhadap cerita mistis, malah menjadikannya tantangan.
Setelah menyusuri hutan selama 4 jam, ia menemukan celah besar di sisi tebing batu. Mulutnya gelap dan penuh semak—jelas tidak biasa dilewati orang.
Di atas celah itu ada coretan samar:
"Yang masuk, tak selalu bisa keluar."
Alih-alih mundur, Ronald menyalakan headlamp dan masuk.
Bagian 2: Gua Tanpa Ujung
Begitu masuk beberapa meter, Ronald menyadari gua itu lebih panjang dari dugaannya. Ia menandai dinding dengan kapur agar tak tersesat. Tapi setelah 20 menit berjalan… tak ada satupun tanda kapur yang ia buat. Bahkan jejak kaki di tanah pun hilang.
Ia mulai panik, berbalik, dan mencoba keluar. Tapi jalurnya berubah seperti tak berujung. Headlamp-nya mulai redup. Hanya suara tetesan air dan nafasnya sendiri yang terdengar.
Lalu... muncul suara dari arah belakang.
"Ronald..."
Ia membeku. Tak pernah memberi tahu namanya pada siapa pun. Ia menoleh. Kosong. Tapi ketika ia menyorot langit-langit gua, terlihat bekas cakaran berdarah yang membentuk kata:
“Jangan menyebut namamu di dalam sini.”
Bagian 3: Bayangan di Dalam Kegelapan
Lampunya padam total. Ronald menyalakan ponsel—tak ada sinyal. Tapi sorotan lampu dari ponsel memperlihatkan sesuatu berdiri jauh di lorong—makhluk tinggi, kurus, dengan mata putih menatap tanpa kedip.
Makhluk itu tidak bergerak... sampai Ronald mundur satu langkah. Saat itu, makhluk itu meloncat ke dinding dan merayap cepat seperti laba-laba raksasa!
Ronald berlari sekuat tenaga, tapi gua seolah terus memutar. Ia jatuh, kakinya terkilir. Di depannya, ada cermin retak… entah kenapa bisa ada di dalam gua. Ia mendekat.
Di cermin, ia melihat dirinya sendiri—tapi versi yang pucat, berdarah, dan tersenyum miring. Refleksi itu bicara:
“Kamu sudah masuk. Aku yang akan keluar.”
Bagian 4: Gua yang Menyimpan Jiwa
Beberapa hari kemudian, tim SAR menemukan gua itu. Tapi mereka hanya menemukan ponsel Ronald, dan coretan terakhir di catatan digitalnya:
“Kalau kalian menemukan ini… tolong bilang pada dunia: gua ini bukan hanya gua. Ini mulut makhluk tua. Dan aku… sudah ditelan.”
Hingga hari ini, setiap pendaki yang lewat dekat sana kadang melihat bayangan seseorang berdiri di mulut gua, berusaha keluar. Tapi jika didekati, ia menghilang.
Dan terkadang… mereka mendengar bisikan dari balik celah gua:
“Ronald… Ronald… sudah ganti tempat…”
