Malam itu, Dinda sendirian di rumah warisan neneknya yang sudah lama kosong. Rumah tua dua lantai itu berada di pinggiran kota, dikelilingi pohon-pohon besar yang rimbun dan gelap saat malam tiba.
Sudah jam 11 malam. Dinda sedang rebahan di ruang tamu, lampu remang-remang, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah pelan di lantai atas.
Tok... tok... tok...
Dia mengangkat kepala. Jantungnya berdebar.
"Lantai atas kosong… kan nggak ada siapa-siapa," gumamnya.
Lalu...
Trrrttt... suara kursi diseret.
Tok… tok… tok…
Langkah itu kini terdengar lebih berat.
Dinda mencoba mengabaikannya. Ia menyalakan televisi. Tapi saat itu juga, TV tiba-tiba mati sendiri.
Layar gelap. Suara dari lantai atas makin jelas.
Kemudian... ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Dinda ragu. Tapi dia angkat.
Suara dari seberang... pelan dan berat.
"Jangan turun ke bawah… dia ada di situ…"
Dinda langsung panik. “Apa? Siapa ini??”
"Aku di lantai atas, cepat ke sini sebelum terlambat..."
Seketika... lampu ruang tamu mati.
Semua jadi gelap.
Terdengar suara nafas berat dari arah dapur.
Dinda berlari ke tangga dan naik, seperti yang disuruh suara tadi. Tapi saat ia mencapai lantai atas…
Kosong.
Tak ada siapa-siapa.
Tapi di dinding dekat kamar nenek, dia melihat sebuah tulisan dari goresan kuku:
"JANGAN PERCAYA SUARA DI TELEPON ITU."
Terlambat.
Dari belakangnya, pintu menutup sendiri, dan suara berbisik muncul di telinganya:
"Sekarang kau ikut bersamaku di sini."
No comments:
Post a Comment