Di kota tempat Andi tinggal, ada sebuah rumah sakit tua yang sebagian bangunannya sudah tidak dipakai. Konon, lorong belakang rumah sakit itu dulunya adalah tempat penyimpanan jenazah sebelum dikirim ke kamar mayat.
Andi adalah seorang perawat magang. Suatu malam, ia mendapat shift malam pertamanya. Saat sedang bertugas, ia diminta mengambil berkas lama yang katanya disimpan di gudang belakang—melewati lorong tua yang sudah jarang dilewati orang.
Dengan senter di tangan, Andi menyusuri lorong yang gelap dan dingin. Di sepanjang lorong, lampu-lampu berkedip, dan ada bau menyengat seperti daging busuk. Tapi ia tetap melangkah.
Ketika sampai di tengah lorong, Andi mendengar suara langkah kaki di belakangnya, padahal ia tahu pasti tidak ada siapa-siapa di sana.
Ia menoleh. Kosong.
Namun saat ia kembali berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang berbisik:
"Tolong... aku belum mati..."
Andi langsung membalik badan. Masih kosong. Tapi senter yang ia pegang mulai berkedip dan mati total. Dalam kegelapan, ia bisa merasakan ada seseorang berdiri sangat dekat... napasnya terasa di leher.
Lalu, tiba-tiba ada tangan dingin mencengkeram pundaknya.
"Kamu bisa lihat aku, kan?"
Andi berlari tanpa menoleh. Ia jatuh dan menyeret lututnya di lantai, tapi tetap memaksa bangkit dan lari kembali ke ruang perawat.
Besoknya, ia demam tinggi selama dua hari. Saat sadar, ia baru tahu bahwa... tidak ada siapa pun yang pernah menyuruh dia ke lorong belakang malam itu.
Dan sejak malam itu, Andi selalu melihat sosok perempuan berpakaian pasien berdiri di lorong rumah sakit, menatapnya dengan mata kosong.

No comments:
Post a Comment