Tahun 2004, sebuah rumah di sudut gang tua terbakar hebat di tengah malam. Tidak ada yang selamat. Pasangan tua pemilik rumah dan cucunya, bocah perempuan berumur 8 tahun, tewas terperangkap di dalam kamar belakang.
Setelah peristiwa itu, rumah itu dibiarkan kosong — hanya puing-puing hangus dan bau arang membekas di temboknya. Tapi anehnya, kamar belakang tetap utuh, seperti tak tersentuh api.
Lima belas tahun kemudian, seorang pria bernama Reza membeli lahan itu. Ia membangun ulang rumah di atas fondasi lama, dan menjadikannya tempat tinggal bersama istri dan anaknya yang masih balita.
Awalnya biasa saja. Tapi sejak mereka pindah, anaknya yang berumur 3 tahun sering bicara sendiri di kamar belakang. Ia mengaku sedang bermain dengan "kakak berambut gosong."
"Namanya siapa, nak?"
"Namanya Naya. Dia tinggal di sini dulu, katanya."
"Dia tinggal di mana?"
"Di api."
Malam-malam, lampu kamar belakang sering menyala sendiri, dan udara di ruangan itu selalu lebih panas dibanding ruangan lain. Reza, awalnya mengabaikan, sampai suatu malam... ia mencium bau hangus seperti daging terbakar, keluar dari celah pintu kamar.
Ketika ia buka pintu, lampu berkedip. Dinding kamar dipenuhi bekas tangan kecil penuh jelaga, dan di sudut ruangan, ia melihat bayangan anak kecil berdiri, kepalanya terbakar, menatapnya dengan mata kosong.
Terdengar suara lirih, terbakar, pelan:
"Kenapa kalian ambil rumahku..."
Keesokan harinya, keluarga Reza pindah tanpa sempat membawa semua barang. Rumah itu kembali kosong.
Dan malam-malam… orang-orang sekitar masih melihat cahaya merah menyala dari dalam kamar belakang.