π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Sunday, July 6, 2025

Suara dari Loteng



Di sebuah desa kecil di Jawa Barat, hiduplah seorang wanita tua bernama Mbah Sarni. Rumahnya tua dan lapuk, berdiri sejak zaman kolonial. Orang-orang di desa menghindari rumah itu karena kabarnya sering terdengar suara tangisan dari loteng saat malam tiba.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Arif, yang baru saja pindah dari kota, menyewa rumah itu karena harga sewanya sangat murah. Warga desa memperingatkannya, tapi Arif hanya menertawakan cerita-cerita mistis itu. Ia percaya segala hal bisa dijelaskan dengan logika.

Malam pertama berjalan biasa. Tapi saat jam menunjukkan pukul 2 pagi, Arif mendengar suara…
"Tok… tok… tok…"
dari atas loteng.

Ia bangun dan menatap langit-langit rumahnya. Suara itu berhenti. Saat ia kembali berbaring—
"Hehehe… aku lapar…"
suara pelan seperti bisikan anak kecil terdengar dari loteng.

Arif langsung bangkit, mengambil senter, dan memutuskan untuk memeriksa. Tangga ke loteng berderit ketika diinjak. Udara terasa dingin dan lembab. Saat senter menyapu sudut loteng, Arif melihat boneka kecil tergeletak di pojok.

Boneka itu sangat tua, mata kacanya retak, dan… mulutnya terbuka lebar.
Tiba-tiba senter Arif mati. Gelap gulita.

Kemudian…
"Aku tahu kamu di sini… Arif…"
suara bocah itu kini tepat di belakangnya.

Arif membalikkan badan…
…dan melihat sepasang mata merah menyala, serta wajah seorang anak kecil yang menghitam, membusuk, dan tersenyum lebar dengan gigi tajam seperti jarum.

Keesokan paginya, warga menemukan rumah itu kosong. Hanya ada senter jatuh di tangga dan bekas cakaran di dinding loteng.
Mbah Sarni, yang melihat dari jauh, hanya bergumam,
"Satu lagi korban mainan si Rara."

No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...