π Bab 1: Jalur Terlarang
Gunung Mawar adalah gunung yang indah namun jarang didaki. Konon, ada jalur lama di sisi timur yang ditutup sejak kejadian hilangnya dua pendaki tahun 1997. Namun Fadil dan tiga temannya—Raka, Santi, dan Deni—nekat mengambil jalur itu demi sensasi dan ketenaran di media sosial.
Mereka mulai pendakian pagi hari. Jalur terasa sunyi, terlalu sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada hembusan angin. Bahkan pepohonan pun terlihat terlalu diam, seperti sedang mengintai.
π Bab 2: Makam Daun Kering
Saat malam turun, mereka menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Di sana, Santi menemukan tumpukan daun yang membentuk pola aneh, menyerupai lingkaran dengan simbol di tengahnya.
Deni iseng menginjak tumpukan itu. Angin langsung bertiup kencang dari arah atas gunung, padahal sebelumnya sangat tenang.
“Tutup tenda! Cepat!” teriak Raka, entah kenapa merasa cemas.
Malam itu mereka tidak bisa tidur. Suara langkah kaki terdengar mengelilingi tenda—namun saat dilihat ke luar, tidak ada siapa-siapa. Bahkan jejak pun tak ada.
π Bab 3: Mereka yang Tak Bernama
Pagi berikutnya, Deni menghilang. Tidak ada suara, tidak ada jejak. Hanya bekas tidur yang kosong, dan bau wangi menyengat seperti bunga kenanga.
Fadil menyarankan turun, tapi jalan turun kini berubah bentuk. Pohon-pohon tidak lagi berada di tempat semula, dan kompas hanya berputar-putar.
Lalu mereka bertemu dengan seorang pendaki yang mengaku dari tahun 1997. Bajunya lusuh, wajahnya pucat, dan ia terus berbisik:
“Kalian melewati jalur yang tak pernah diampuni... yang kalian injak bukan tanah, tapi perut penjaga...”
Ia lalu menghilang di balik kabut.
π Bab 4: Puncak yang Tak Pernah Ada
Akhirnya mereka sampai di sebuah puncak, tapi tidak ada salib, tidak ada bendera, tidak ada tanda manusia pernah sampai. Hanya batu besar dengan ukiran aksara tua, dan di sekelilingnya berdiri puluhan orang diam, mengenakan pakaian pendaki dari berbagai zaman.
Raka mulai menjerit. Santi pingsan.
Fadil memejamkan mata dan membaca doa.
Saat membuka mata, ia berada di bawah, di pos pendakian. Sendirian.
π Bab 5: Catatan Terakhir
Saat ditemukan oleh petugas, Fadil dalam keadaan linglung. Ia hanya mengatakan:
“Puncaknya tak pernah ada... itu cuma peralihan dunia... mereka... menunggu kita di atas...”
Mayat Deni, Santi, dan Raka tidak pernah ditemukan.
Namun seminggu kemudian, seorang pendaki baru mengaku melihat tiga orang berdiri di kejauhan, di jalur terlarang Gunung Mawar, melambai... dengan wajah kosong dan pucat.
No comments:
Post a Comment