Awal Cerita
Setelah neneknya meninggal, Laras memutuskan pindah ke rumah warisan di desa Wonosari. Rumah itu tua, beraroma kayu lapuk, dan banyak bagian tidak terurus—termasuk sebuah gudang kecil di belakang rumah yang selalu dikunci.
Warga sekitar bilang, “Kalau malam, jangan dekat-dekat gudang itu ya, Nduk. Kadang ada suara orang nangis dari dalam.”
Laras menganggapnya hanya cerita kampung biasa.
π Gudang Terkunci
Suatu siang, karena ingin membersihkan halaman belakang, Laras iseng membuka kunci gudang. Di dalamnya berdebu, penuh rak kayu, dan satu benda mencolok: sebuah cermin besar berbingkai kayu jati ukiran lawas, tertutup kain putih.
Saat ia menarik kain itu…
Sesuatu terasa tidak biasa.
Udara menjadi dingin.
Dan di cermin itu… pantulan dirinya tersenyum, padahal ia tidak.
π Teror Dimulai
Malamnya, Laras mulai mengalami kejadian aneh:
-
Mendengar langkah kaki dari arah gudang, meski tak ada siapa-siapa.
-
Cermin di kamarnya berembun dari dalam, padahal lampu dimatikan.
-
Bayangan di dalam cermin berjalan lebih lambat dari dirinya.
Ia mulai mimpi buruk tentang wanita tua dengan rambut panjang yang selalu berkata:
“Cermin itu bukan untuk manusia biasa…”
π Naskah Tua
Laras menemukan buku catatan milik neneknya. Di dalamnya, tertulis:
“Jangan biarkan pantulan itu memandang lebih dari tiga kali. Jika dia tersenyum… maka waktu di sini dan di sana mulai menyatu.”
Laras mulai menyadari: cermin itu bukan sekadar benda mati, tapi gerbang.
π©Έ Puncak Teror
Pada malam Jumat Kliwon, Laras terbangun dan melihat dirinya sendiri berdiri di luar cermin, sementara tubuhnya tak bisa bergerak.
Cermin itu bergetar. Sosok “dirinya” di dalam cermin mulai tersenyum lebar, matanya merah, dan perlahan…
Ia keluar dari cermin.
Sosok itu mendekat, berbisik:
“Sekarang giliranmu… kamu tinggal di sini. Aku bebas.”



