π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Tuesday, June 24, 2025

Bukan Oleh-Oleh dari Bangkok



Jakarta - Seorang wanita yang bernama Lia, 28 tahun, karyawan swasta di Jakarta .

“Setiap negara punya kepercayaan masing-masing. Tapi kalau kamu bawa pulang sesuatu yang bukan milikmu... hati-hati, bisa jadi itu ingin pulang.”

Bangkok, Awalnya Hanya Liburan

Lia baru saja kembali dari liburan tiga hari di Bangkok bersama dua sahabatnya. Ia mengunjungi pasar Chatuchak, kuil Wat Arun, dan sempat membeli oleh-oleh unik: sebuah boneka kecil berpakaian tradisional Thailand, duduk bersila dan tersenyum aneh. Ia membelinya dari kios kecil yang dijaga oleh wanita tua bermata kosong.

"Ini Guman Thong," kata penjual itu.

"Rawat dia baik-baik... dia akan ikut kamu."

Lia mengira itu hanya gimmick turis. Ia tertawa, membayar 300 baht, dan membawanya pulang sebagai hiasan rak.

Jakarta: Awal Gangguan

Malam pertama di apartemennya, Lia merasa ada yang aneh. Boneka itu ia taruh di meja dekat TV, tapi saat ia bangun esok paginya, boneka itu sudah berpindah ke rak buku.

Ia pikir mungkin ia lupa. Tapi kejadian itu terus berulang — berpindah tempat, menghadap ke arah tempat tidurnya, bahkan ditemukan duduk di depan pintu kamar mandi.

Mimpi Buruk & Suara Bisikan

"C̄hαΊ‘n xyāk klαΊ‘b b̂ān (Aku ingin pulang...)

Lia tak mengerti maksudnya. Tapi tiap bangun, dadanya sesak, dan boneka itu selalu berpindah tempat.

Puncaknya: malam itu, ia terbangun karena ada tangan kecil mencakar pintu kamarnya dari dalam.

Konsultasi ke Paranormal

Saking takutnya, Lia menghubungi seorang teman yang kenal dukun spiritual. Dukun itu langsung bertanya:

“Kamu bawa pulang Guman Thong, ya?”

Lia terdiam.

Paranormal itu menjelaskan, Guman Thong bukan boneka biasa. Dalam tradisi okultisme Thailand, Guman Thong adalah wadah arwah anak kecil yang meninggal tidak wajar. Mereka bisa diberi "tempat tinggal" dalam boneka dan harus dipuja, diberi makanan, dupa, dan doa.

Kalau diabaikan… mereka marah.

Puncak Teror: Malam Berdarah

Lia memutuskan membuang boneka itu ke tempat sampah tengah malam. Tapi saat ia pulang ke kamar...

Boneka itu sudah ada di tempat tidur.

Tangannya kotor, penuh tanah. Dan di dinding kamarnya, tercoret tulisan darah:

"AKU BILANG... AKU INGIN PULANG."

Lia menjerit. Lampu padam. Dari balik cermin, sosok anak kecil muncul perlahan — bukan boneka — tapi wujud nyata, dengan mata hitam, kulit hangus, dan mulut menganga.

“Kau membawaku ke sini. Kau yang harus memulangkanku... atau kau yang akan tinggal bersamaku selamanya.”

Ritual Pemulangan

Dengan bantuan dukun, Lia akhirnya melakukan ritual pemulangan arwah ke Thailand. Boneka itu harus dibawa kembali ke tanah asalnya — dibakar di bawah pohon suci, dan diberikan persembahan susu serta dupa.

Ia kembali ke Bangkok sendirian.

Di kuil kecil terpencil, dukun lokal membakar boneka itu sambil membaca mantra. Api menyala hebat, dan suara anak kecil menangis terdengar dari dalam api.

Lia pingsan.

Penutup

Sejak saat itu, hidup Lia tenang. Tapi ia tidak pernah lagi membeli oleh-oleh mistik. Ia percaya — ada hal yang tak boleh dibawa pulang, meski hanya seharga 300 baht.

Dan kadang, kalau malam terlalu sunyi, ia masih bermimpi...

anak itu berdiri di bandara, tersenyum, dan berkata:

“Terima kasih... sudah mengantarku pulang.”

Catatan: Guman Thong adalah kepercayaan nyata di Thailand. Meski tidak selalu negatif, jika tidak dirawat sesuai ritual, dipercaya bisa menimbulkan gangguan.


Pintu di Lorong Sunyi

 Jakarta, Mei 1998

Langit berwarna kelabu. Asap hitam membumbung dari kejauhan. Kota ini seperti luka yang baru saja disayat—panas, lengket, dan bergetar oleh kemarahan. Semua orang takut, kecuali lelaki tua penjaga gedung ruko tua di ujung Glodok, yang tetap duduk di kursi rotannya, memandangi sebuah pintu besi di ujung lorong.

Namanya Pak Anwar. Ia sudah tinggal di sana sejak era Presiden Soekarno. Ia tahu gedung itu lebih baik dari siapa pun—termasuk tentang pintu besi yang tak pernah dibuka sejak kerusuhan besar tahun 1998.

“Kalau kau mendengar suara ketukan dari pintu itu, jangan dijawab. Kalau kau dengar suara gadis kecil memanggil-manggil ibunya dari dalam… lari.”

Begitu katanya pada siapa pun yang menginap.


Cerita dimulai...

Tahun 2023, seorang mahasiswa sejarah bernama Arvin datang untuk meneliti sisa-sisa tragedi kerusuhan Mei 1998. Ia menginap di lantai dua ruko yang disewa murah. Di malam pertama, ia sudah merasa ada yang aneh.

Lorong menuju kamarnya selalu gelap, meski lampu menyala. Setiap malam, tepat jam 2:00 dini hari, ia mendengar suara berbisik dalam bahasa Mandarin, lalu disusul ketukan pelan... tiga kali.

Tok... tok... tok...

Awalnya ia kira halusinasi. Tapi suara itu terlalu nyata. Bahkan semakin hari, suara itu semakin jelas: suara anak kecil perempuan.

"Mama... buka pintunya, gelap di dalam sini..."


Rasa ingin tahu

Arvin tidak tahan. Suatu malam, ia memberanikan diri menyusuri lorong itu. Di ujung lorong, ada pintu besi tua penuh karat, dengan tulisan pudar:
"Toko Emas Sinar Baru"

Ia memegang gagang pintu. Dingin seperti es. Saat ia nyaris memutarnya...
tiba-tiba suara tua membentaknya dari belakang.

“JANGAN dibuka! Kalau kamu buka, kamu tak akan bisa keluar!”
Itu suara Pak Anwar.


Pengakuan Penjaga Tua

Pak Anwar akhirnya bercerita. Saat kerusuhan 1998, ruko itu menjadi tempat persembunyian satu keluarga Tionghoa: sepasang suami istri dan anak perempuan mereka bernama Xiao Mei, berumur 7 tahun. Saat massa menyerbu dan membakar, hanya ayahnya yang sempat melarikan diri. Ibu dan Xiao Mei terkunci dalam toko.

Mereka tak pernah ditemukan. Hanya sisa arang dan potongan boneka panda yang terbakar. Setelah itu, warga sering mendengar suara tangisan dan jeritan dari balik pintu itu. Tapi pintu itu tak bisa dibuka. Bahkan oleh tukang kunci.


Malam Terakhir

Arvin, yang tetap penasaran, memasang kamera dan alat perekam suara. Ia ingin membuktikan bahwa semuanya hanya efek psikologis, trauma kolektif.

Tapi malam itu, kameranya menangkap sesuatu yang mengerikan:
bayangan kecil berdiri di depan pintu besi.
Wajahnya tidak punya mata, hanya cekungan hitam mengalir darah.
Tangan kecilnya menempel ke pintu, dan terdengar jelas dari alat perekam:

“Aku masih di sini. Mama belum pulang...”

Ketika Arvin melihat rekaman itu, ia muntah. Dan keesokan harinya, ia hilang.


Penutup

Pak Anwar menemukan kamar Arvin kosong. Tapi di lorong, di depan pintu besi itu, ada jejak kaki kecil berwarna hitam terbakar, mengarah ke pintu… lalu lenyap di bawahnya.

Tak ada yang pernah melihat Arvin lagi. Tapi sejak hari itu, ketukan dari balik pintu datang lebih sering.

Tok... Tok... Tok...

“Mama... mereka belum datang kan…?”

Sunday, June 22, 2025

Arwah di Bawah Masjid Tua Palestina

Di sebuah desa kecil di wilayah Palestina yang telah lama hancur akibat perang, berdiri sebuah masjid tua — nyaris runtuh, dengan menara yang miring dan cat yang mengelupas. Warga menyebutnya Masjid Al-Maut, atau Masjid Kematian. Tak seorang pun berani mendekatinya setelah matahari terbenam.

Konon, di bawah masjid itu terdapat lorong rahasia yang dulunya digunakan pejuang untuk bersembunyi. Namun setelah sebuah serangan udara menghancurkan bagian bawah tanahnya, lorong itu tertimbun... dan bersama dengannya terkuburlah puluhan tubuh syuhada dan warga sipil yang tidak sempat keluar.

Awal Teror

Suatu malam, seorang remaja yatim bernama Yassir, yang kehilangan keluarganya dalam konflik, mencari tempat berteduh. Ia nekat bermalam di dalam masjid tua itu. “Tak ada tempat lain, dan Tuhan akan melindungiku,” ucapnya lirih sambil membuka pintu kayu yang sudah reot.

Namun sejak ia melangkah masuk, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Jam dinding tua yang tak berdetik sejak bertahun-tahun, tiba-tiba berdentang dua kali. Lalu azan terdengar… tapi suara itu serak dan pelan, seperti berasal dari dalam tanah.

Saat malam makin larut, Yassir mendengar suara langkah kaki… tapi tak ada siapa-siapa. Lalu terdengar tangisan anak kecil, memanggil “Abi… Abi…” dari ruang bawah mihrab. Saat ia mencoba memeriksa, lantai tiba-tiba retak, dan tanah di bawahnya ambruk sedikit.

Yassir melihat sebuah ruang gelap berisi tulang-tulang manusia, sebagian masih memakai baju tempur, sebagian lainnya seperti wanita dan anak-anak. Tapi yang membuatnya gemetar adalah wajah-wajah mereka yang perlahan menoleh ke arahnya, tanpa mata, namun seolah melihat langsung ke jiwanya.

Arwah yang Belum Tenang

Yassir terjatuh dan tak sadarkan diri. Dalam mimpinya, para arwah itu berbicara padanya. Mereka tidak marah, tapi mereka menangis, meminta dibacakan doa dan menyampaikan pesan kepada keluarga mereka yang masih hidup.

Salah satu dari mereka, seorang gadis kecil bernama Leena, memegang tangan Yassir dan berbisik:
"Katakan pada dunia… kami bukan hantu. Kami hanya ingin dikenang, bukan dilupakan."

Ketika Yassir bangun keesokan paginya, ia berada di luar masjid, dengan debu dan darah mengering di pakaiannya. Tapi anehnya, lorong tempat ia jatuh tidak ditemukan lagi, seolah-olah tertutup sepenuhnya oleh bumi.

Akhir yang Tak Tuntas

Sejak malam itu, Yassir mulai mengumpulkan warga dan membacakan doa bersama setiap malam Jumat di halaman masjid tua itu. Anehnya, tiap kali mereka selesai berdoa, suara tangisan dan jeritan yang biasanya terdengar dari dalam masjid... menghilang satu demi satu.

Namun, hingga kini… satu suara masih terdengar jelas setiap malam:
"Abi… Abi… pulanglah..."
Dan siapa pun yang tidur di dekat masjid itu, pasti akan bermimpi tentang Leena... gadis kecil dengan mata hitam kosong yang terus mencari ayahnya di tengah reruntuhan.

Jalan Sunyi Alas Roban

Malam itu, Egy memacu motornya melewati jalan berkelok di tengah hutan Alas Roban. Udara lembab menusuk kulit, dan kabut tipis mulai turun meski jarum jam belum menyentuh tengah malam. Ia baru pulang dari rumah temannya di Kendal, dan memilih jalan pintas melewati Alas Roban—sebuah keputusan yang segera ia sesali. Hutan itu terkenal angker. Banyak cerita tentang truk yang tiba-tiba rem blong, penampakan tanpa kepala, dan suara wanita menangis yang menggema dari balik pohon jati. Tapi Egy bukan tipe yang percaya begituan. “Itu cuma sugesti orang kampung,” pikirnya sambil menyalakan rokok. Saat sampai di tikungan tajam, mesinnya tiba-tiba brebet. Lampu motor berkedip sebentar, lalu padam. Rem mendadak berat, dan suara jangkrik menghilang begitu saja. Egy turun dan mencoba menghidupkan kembali motornya. Seketika itu juga, ia mendengar langkah kaki… pelan… berat… seakan seseorang menyeret kakinya di atas tanah berkerikil. Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Tapi hawa dingin menyeruak, seperti ada yang berdiri tepat di belakangnya. “Maaf, saya cuma lewat,” katanya pelan. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Bajunya lusuh dan compang-camping. Ia menatap Egy dari kejauhan. Tapi yang membuat darah Egy beku—wanita itu melayang. Egy berusaha menyalakan motornya. Berkali-kali ia mengengkol, tapi sia-sia. Sosok itu semakin dekat… lalu terdengar suara berbisik: "Kau juga akan tinggal di sini..." Egy menjerit dan akhirnya berhasil menyalakan motor. Ia langsung tancap gas, tak berani menoleh. Tapi sepanjang perjalanan keluar dari hutan, kaca spionnya memperlihatkan bayangan wanita itu duduk di jok belakangnya. Ia tak berhenti hingga fajar menyingsing dan mendapati dirinya di pom bensin seberang alas. Sudah tiga hari sejak Egy melewati Alas Roban. Tubuhnya masih lelah, tapi yang lebih parah adalah pikirannya. Ia selalu merasa diikuti. Setiap kali berkaca, ada perasaan seperti seseorang mengawasinya. Bahkan saat tidur pun, ia kerap terbangun karena mimpi buruk—selalu mimpi yang sama: sosok wanita itu berdiri di ujung tempat tidurnya, memanggil namanya perlahan... “Egy…” Ia mulai merasa kehilangan akal. Malam keempat, saat ia mencuci motornya di halaman, ia menyadari sesuatu yang mengerikan—di kaca spion kanan, ada bekas tangan… seperti telapak yang menempel dari dalam. Tapi saat ia menyentuhnya, tidak ada bekas apapun. Kaca bersih. Keesokan harinya, Egy memutuskan untuk bertanya ke seorang dukun tua di desa sebelah, yang dikenal bisa “melihat” yang tak kasat mata. Dukun itu hanya menatap motor Egy lama. Wajahnya mulai pucat. “Kamu tidak sendirian waktu pulang dari Alas Roban itu, Nak,” gumamnya lirih. “Dia ikut… dan sekarang dia belum mau pergi.” Egy gemetar. “Siapa dia, Mbah?” Dukun itu kemudian menyuruh Egy duduk dan membakar dupa. Asap tebal memenuhi ruangan, dan tiba-tiba terdengar suara tangisan… lirih, seperti dari dalam kepalanya sendiri. “Namanya Sri. Ia meninggal di tikungan Alas Roban, dijatuhkan kekasihnya dari motor karena hamil di luar nikah. Arwahnya tak diterima bumi, dan dia masih mencari ‘teman’ agar tidak sendirian.” Egy merasakan tubuhnya dingin seperti es. Dukun itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, “Kalau kamu tidak mengembalikan dia ke tempat dia berasal… kamu akan digantikan.” Malam itu, langit tertutup awan. Egy kembali ke Alas Roban, ditemani dukun tua bernama Mbah Parto. Di tangannya tergenggam seikat bunga kantil dan segenggam tanah dari kuburan Sri—yang ternyata tak jauh dari tikungan tempat Egy berhenti malam itu. Motor Egy berjalan pelan, lampunya menyinari jalan berkelok dan sunyi. Kabut turun perlahan, seolah menyambut mereka kembali. “Ingat, jangan menoleh… apa pun yang kamu dengar atau lihat,” pesan Mbah Parto sambil meletakkan bunga kantil di jok belakang motor. Mereka berhenti di tikungan maut itu. Angin berhenti. Suara malam hilang. Mbah Parto mulai membaca doa. Asap kemenyan membumbung. Lalu terdengar suara langkah… seperti malam itu. Berat. Pelan. Diikuti suara tangisan perempuan. Egy menggenggam erat stang motor, jantungnya berdetak liar. Tiba-tiba, dari arah belakang, suara perempuan itu kembali memanggil: “Egy…” Tapi kali ini, ia tak menoleh. Ia hanya menunduk, menahan napas. Tubuhnya gemetar, tapi ia terus mendengarkan doa dari Mbah Parto yang semakin cepat dan berat. Suara tangisan itu berubah jadi jeritan. Lalu senyap. Bunga kantil di jok belakang terbakar dengan sendirinya, lalu menghitam. Kemenyan padam. Mbah Parto berdiri perlahan. “Dia sudah pergi…” Egy perlahan menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi udara terasa jauh lebih ringan. Sudah setahun sejak malam itu. Egy tak pernah melihat bayangan di spion lagi. Mimpi buruknya berhenti. Tapi ia tak pernah lagi lewat Alas Roban, bahkan di siang hari. Motor lamanya sudah ia jual. Setiap kali ada yang tanya kenapa, ia hanya tersenyum tipis dan berkata: “Kadang, yang menumpang… tidak selalu terlihat.” Dan di dalam laci kamarnya, masih tersimpan selembar foto lama yang diberikan Mbah Parto. Wajah seorang gadis muda, tersenyum tipis di pinggir jalan. Di balik foto itu tertulis: "Sri – Tikungan Alas Roban, 1987." Sejak hari itu, Egy tak pernah mau menyebut kata “Alas Roban” lagi—bahkan untuk bercanda.

Monday, April 28, 2025

Penghuni Rumah Sebelah

Sudah dua minggu Arman pindah ke rumah barunya, sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Lingkungannya tenang, terlalu tenang malah. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tampak tua, dan jarang terlihat orang keluar-masuk. Tapi bagi Arman, itu sempurna. Ia mencari ketenangan setelah patah hati besar yang membuatnya ingin hidup jauh dari keramaian.

Suatu malam, ketika ia sedang membaca buku di ruang tamu, terdengar suara ketukan dari arah rumah sebelah. Pelan, seperti seseorang yang mengetuk kaca jendela dengan ujung jarinya.

Tok... tok... tok...

Arman mengintip dari tirai. Rumah sebelah, yang konon sudah lama kosong, tampak gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia menggelengkan kepala, berpikir mungkin itu hanya suara pohon atau hewan kecil.

Malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Tok-tok-tok, seperti irama aneh, seakan ada pola. Arman merasa bulu kuduknya berdiri. Dengan keberanian setengah hati, ia keluar rumah, membawa senter.

Pintu rumah sebelah sedikit terbuka, berderit pelan tertiup angin malam. Ia menyorotkan senter ke dalam. Debu tebal menutupi lantai, furnitur lama membusuk di sudut-sudut. Tapi ada sesuatu yang membuat Arman terpaku.

Jejak kaki.

Jejak-jejak kecil, seperti jejak kaki anak-anak, tercetak jelas di atas debu, menuju tangga kayu yang mengarah ke lantai dua.

"Siapa di sana?" teriak Arman. Tidak ada jawaban.

Pintu depan tiba-tiba menutup dengan keras. Arman berlari kembali ke rumahnya sendiri, jantung berdegup tak karuan.

Esok paginya, ia menceritakan kejadian itu pada Pak Darto, satu-satunya tetangga yang pernah menyapanya.

Pak Darto menghela napas berat. "Rumah itu... sudah lama kosong, Mas Arman. Pemilik sebelumnya, sepasang suami-istri, meninggal di sana. Tidak wajar."

"Meninggal tidak wajar?"

Pak Darto mengangguk perlahan. "Mereka ditemukan di kamar atas, katanya... seperti dicekik, tapi tidak ada tanda-tanda orang masuk. Lebih aneh lagi, orang-orang bilang mereka sering mendengar suara anak kecil, padahal mereka tidak punya anak."

Arman tertawa gugup. "Mungkin hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang baru."

Pak Darto menatapnya serius. "Kalau malam, jangan keluar. Jangan lihat ke rumah itu terlalu lama."

Arman mengangguk, tapi di dalam hatinya, rasa ingin tahu malah semakin membuncah.

Malam itu, hujan turun deras. Arman sedang berusaha tidur ketika suara ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini, bukan dari rumah sebelah. Suara itu berasal dari jendela kamarnya sendiri.

Tok... tok... tok...

Arman mematung. Suara itu pelan, sabar, seperti menunggu sesuatu. Dengan perlahan, ia menarik selimutnya, berharap suara itu berhenti. Namun, setelah beberapa menit, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Ia membuka matanya dan melirik ke arah jendela.

Seseorang berdiri di luar.

Bukan, lebih tepatnya... sesuatu.

Wajahnya pucat, matanya hitam legam tanpa bola mata, bibirnya tersenyum aneh. Tubuhnya kecil, seperti anak-anak. Sosok itu mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tangannya, yang tampak kurus kering, menggores kaca jendela, meninggalkan bekas putih.

Arman mundur perlahan. Tapi suara ketukan mulai terdengar dari arah pintu depan, pintu belakang, bahkan dari dalam lemari.

Tok... tok... tok...

Seolah-olah seluruh rumah dikepung suara itu.

Dalam kepanikan, Arman mengunci semua pintu dan jendela, lalu bersembunyi di bawah meja. Ia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengabaikan suara-suara itu. Lama sekali ia berdiam diri, sampai akhirnya suara itu perlahan menghilang.

Keesokan harinya, Arman memutuskan untuk pergi. Ia tak peduli dengan uang muka yang sudah dibayarkan untuk rumah itu. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.

Saat berkemas, ia menemukan sesuatu di bawah meja tempat ia bersembunyi semalam. Sebuah foto tua, lusuh dan hampir pudar.

Dalam foto itu, tampak pasangan suami istri tersenyum bahagia, dengan seorang anak kecil di tengah mereka. Anak kecil itu mengenakan pakaian putih, wajahnya... sama persis dengan sosok yang Arman lihat tadi malam.

Di belakang foto, ada tulisan tangan:

"Bersama selamanya, tak akan membiarkanmu pergi."

Arman gemetar. Ia membuang foto itu dan bergegas keluar.

Tapi saat hendak mengunci pintu, ia melihat sesuatu di lantai ruang tamu.

Jejak kaki kecil, basah oleh air hujan, bertebaran ke seluruh rumah, menuju ke belakangnya.

Sebuah bisikan terdengar di telinganya.

"Main... lagi...?"

Arman berbalik, namun dunia gelap seketika.

Rumah itu kembali sunyi, seolah tak pernah ada yang tinggal di dalamnya.

Beberapa minggu kemudian, seorang agen properti memasang tanda "DIJUAL" di depan rumah Arman. Ia tersenyum puas, lalu memandang ke arah rumah sebelah.

Dari jendela lantai dua, sepasang mata kecil memperhatikannya.

Mereka menunggu penghuni baru.

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...