Raka berdiri terpaku di depan lukisan. Napasnya memburu, dan matanya tidak bisa lepas dari pandangan sosok Andi yang terjebak di dalam bingkai. Wajah Andi yang penuh ketakutan dan mata perempuan yang tampak hidup membuat suasana semakin mencekam.
Tiba-tiba, cahaya di lorong mulai redup, dan rumah itu terasa lebih dingin. Raka berbalik, berniat lari keluar, tetapi pintu yang dia masuki tadi kini menghilang, digantikan oleh dinding kosong. Panik, dia mencoba mencari jalan lain, tapi lorong rumah Andi terasa seperti labirin.
“Ini tidak mungkin…” gumamnya, peluh membasahi dahinya.
Langkah kakinya semakin cepat, tapi setiap belokan hanya membawanya kembali ke lorong yang sama, dengan lukisan itu tergantung di tengah-tengah. Setiap kali dia melewatinya, mata Andi di dalam lukisan seolah memohon, sementara perempuan itu hanya tersenyum puas.
"Apa yang kau mau dariku?!" Raka berteriak dengan marah.
Lorong itu menjawab dengan bisikan lembut. "Bergabunglah… kami butuh lebih banyak teman."
Dari sudut matanya, Raka melihat sesuatu bergerak. Bayangan perempuan dalam lukisan itu keluar perlahan dari bingkai, langkah-langkahnya nyaris tidak terdengar. Dengan rambut panjang yang acak-acakan dan senyuman bengkok, dia mendekati Raka.
Raka mundur, tubuhnya gemetar. Dia meraih sebuah vas dari meja dekat lorong dan melemparkannya ke arah perempuan itu. Tetapi vas itu menembus tubuhnya, seolah-olah dia bukan makhluk fisik. Perempuan itu hanya tertawa pelan, semakin mendekat.
“Jangan mendekat!” teriak Raka.
Dia ingat sesuatu. Andi pernah menyebut bahwa lukisan itu dibeli di pasar barang bekas. Jika lukisan ini memiliki energi jahat, mungkin ada sesuatu yang bisa mematahkan kutukan ini. Tanpa berpikir panjang, Raka meraih pisau dari dapur dan kembali ke lorong.
Dia berdiri di depan lukisan, memandangi sosok Andi yang terjebak di dalamnya. Dengan tangan gemetar, dia menggoreskan pisau ke kanvas, berharap itu bisa menghentikan semuanya.
Namun, sesuatu yang tidak dia duga terjadi. Darah mulai mengalir dari goresan di kanvas, dan jeritan perempuan itu memenuhi seluruh lorong. Raka menjatuhkan pisaunya, tetapi lukisan itu mulai berubah—sosok perempuan itu keluar sepenuhnya, tubuhnya kini nyata dan jauh lebih menyeramkan.
“Kamu tidak akan pergi ke mana-mana,” bisiknya, matanya menatap langsung ke dalam jiwa Raka.
Raka mencoba melawan, tetapi lorong itu mulai memudar di sekelilingnya. Dia merasa tubuhnya diseret ke dalam kegelapan, ke tempat di mana suara Andi dan banyak suara lain berbisik, memohon untuk dibebaskan.
Beberapa hari kemudian, rumah Andi tetap sunyi. Namun, seorang tetangga yang penasaran masuk dan menemukan sebuah lukisan baru di lorong. Kali ini, ada tiga sosok di dalamnya: perempuan dengan senyum menyeramkan, Andi, dan seorang pria lain yang berdiri di sudut dengan ekspresi putus asa.
Tetangga itu merasa ngeri tetapi tidak bisa mengalihkan pandangannya. Saat dia mendekat, mata ketiga sosok itu bergerak serentak, menatap langsung ke arahnya.
"Kami butuh lebih banyak teman…"


No comments:
Post a Comment