π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Thursday, January 2, 2025

Seni yang Terhenti ( Hantu Lukisan TAMAT )


Bu Ratna, tetangga sebelah rumah Andi, adalah seorang perempuan tua yang gemar berkebun dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Dia sudah curiga ada sesuatu yang tidak beres dengan rumah Andi sejak melihat lampu rumah itu terus menyala sepanjang malam, meski Andi tidak terlihat keluar selama berhari-hari.

Suatu pagi, Bu Ratna memberanikan diri masuk ke rumah Andi. Pintu rumah itu ternyata tidak terkunci, dan suasana di dalamnya terasa dingin serta mencekam. Dia memeriksa satu per satu ruangan hingga akhirnya sampai di lorong.

Di sana, dia melihat lukisan yang besar tergantung di dinding. Lukisan itu menampilkan seorang perempuan muda dengan senyum menyeramkan, serta dua pria yang terlihat sangat akrab baginya—Andi, pemilik rumah, dan Raka, teman Andi.

Bu Ratna mendekat, matanya terpaku pada lukisan tersebut. Tanpa disadari, tatapan ketiga sosok dalam lukisan itu mengikuti setiap gerakannya. Namun, alih-alih merasa takut, Bu Ratna hanya mendesah panjang.

“Yah, ini pasti kerjaan setan iseng lagi,” gumamnya sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan botol kecil yang berisi air putih dan secarik daun pandan. Itu adalah air rendaman daun pandan yang biasa dia gunakan untuk menyiram tanamannya. Tanpa ragu, dia mencelupkan jarinya ke dalam botol itu, lalu memercikkan air tersebut ke lukisan sambil mengucapkan doa yang diajarkan ibunya dulu.

Lukisan itu mulai bergetar, dan suara jeritan melengking memenuhi lorong. Sosok perempuan dalam lukisan itu tampak panik, berusaha keluar dari bingkai, tetapi tubuhnya memudar sedikit demi sedikit. Wajahnya berubah menjadi penuh amarah saat dia memandang Bu Ratna.

“Kamu pikir ini akan menghentikanku, perempuan tua?!”

Bu Ratna hanya tersenyum kecil. “Nak, sudah berapa lama kamu terjebak di sini? Pergilah, jangan ganggu orang lagi.”

Dia menuangkan sisa air dari botol itu ke lukisan. Begitu air itu membasahi permukaan kanvas, lukisan tersebut terbakar dengan api biru terang. Dalam hitungan detik, lukisan itu menghilang, meninggalkan dinding kosong.

Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar di sekitar Bu Ratna. Dari udara yang dingin, dua bayangan samar muncul—Andi dan Raka. Wajah mereka tampak lega dan penuh rasa terima kasih. Mereka tersenyum pada Bu Ratna sebelum perlahan menghilang, seperti debu yang ditiup angin.

Bu Ratna mengangguk pelan. “Kalian sudah bebas sekarang.”

Dia kembali ke rumahnya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika tetangga lain bertanya tentang rumah Andi, dia hanya berkata, “Ah, itu hanya masalah kecil. Rumahnya sekarang sudah aman.”

Epilog

Rumah Andi tetap kosong selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada lagi keanehan yang terjadi di sana. Bu Ratna melanjutkan kehidupannya dengan tenang, menyiram tanaman dengan air rendaman pandan seperti biasa. Namun, setiap kali dia melewati lorong rumahnya sendiri, dia selalu tersenyum kecil, seolah tahu bahwa dia telah menyelesaikan sesuatu yang besar dengan cara yang sederhana.

TAMAT.

No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...