Kegelapan menyelimuti rumah Andi, membuatnya sulit bernapas. Di dalam kegelapan, terdengar suara tawa pelan dari perempuan itu, membuat bulu kuduknya meremang. Dengan napas tersengal, Andi meraba-raba di sekitarnya, mencoba mencari jalan keluar.
Tiba-tiba, lampu kembali menyala, tetapi rumah itu tidak lagi seperti biasanya. Lorong tempat dia berdiri tampak memanjang, seolah tak berujung, dan dinding-dindingnya dipenuhi dengan lukisan serupa. Semua lukisan itu menampilkan perempuan yang sama—dengan pose berbeda, tetapi tatapan mata yang sama menyeramkan.
Andi menyadari bahwa dia tidak berada di rumahnya lagi. Dia mencoba berteriak, tetapi suara itu hanya terpantul di lorong panjang yang sunyi. Langkah kakinya bergetar saat dia berjalan, mencoba mencari jalan keluar. Namun, setiap kali dia berbalik, dia merasa perempuan dalam lukisan itu bergerak mendekat, sedikit demi sedikit.
Di ujung lorong, Andi menemukan sebuah pintu tua. Dia mendekatinya dengan cepat, tetapi sebelum dia bisa menyentuh kenop pintu, suara perempuan itu terdengar di belakangnya.
"Kenapa buru-buru pergi, Andi? Bukankah kamu yang membawaku ke sini?"
Andi berbalik dengan ketakutan, dan perempuan itu kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Wajahnya berubah menjadi lebih menyeramkan—kulitnya tampak retak seperti kanvas tua, dan matanya yang tajam kini berubah hitam seluruhnya.
“Apa yang kamu mau dari aku?!” teriak Andi.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Kamu sudah mengambilku dari tempatku. Jadi sekarang… kamu akan menggantikanku.”
Sebelum Andi sempat bergerak, perempuan itu mengangkat tangannya, dan tubuh Andi terasa kaku. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Perlahan, dia merasakan sesuatu yang aneh: tubuhnya terasa dingin, seperti berubah menjadi sesuatu yang keras dan kaku. Saat dia menunduk, kulitnya mulai berubah menjadi tekstur kanvas.
“Tidak… tidak mungkin!” pikir Andi. Dia ingin melawan, tetapi tubuhnya tidak mendengarkan. Matanya yang terakhir menangkap adalah perempuan itu berjalan ke lukisan besar yang tergantung di ujung lorong. Dia masuk ke dalamnya, dan Andi merasakan dirinya ditarik ke dalam bingkai yang kosong.
Esok harinya, Raka yang penasaran dengan keanehan lukisan itu datang ke rumah Andi. Dia mengetuk pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk menggunakan kunci cadangan yang dia miliki.
Di lorong rumah itu, dia menemukan lukisan yang tergantung di dinding. Namun, kali ini lukisan itu berbeda. Ada dua sosok di dalamnya—perempuan muda dengan senyuman menyeramkan dan seorang pria yang wajahnya tampak ketakutan.
Raka mengenali pria itu. Itu adalah Andi.
Saat Raka mundur ketakutan, mata kedua sosok dalam lukisan itu bergerak, menatap langsung ke arahnya.
"Giliranmu berikutnya," suara pelan terdengar dari arah lukisan.


No comments:
Post a Comment