π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Sunday, June 22, 2025

Arwah di Bawah Masjid Tua Palestina

Di sebuah desa kecil di wilayah Palestina yang telah lama hancur akibat perang, berdiri sebuah masjid tua — nyaris runtuh, dengan menara yang miring dan cat yang mengelupas. Warga menyebutnya Masjid Al-Maut, atau Masjid Kematian. Tak seorang pun berani mendekatinya setelah matahari terbenam.

Konon, di bawah masjid itu terdapat lorong rahasia yang dulunya digunakan pejuang untuk bersembunyi. Namun setelah sebuah serangan udara menghancurkan bagian bawah tanahnya, lorong itu tertimbun... dan bersama dengannya terkuburlah puluhan tubuh syuhada dan warga sipil yang tidak sempat keluar.

Awal Teror

Suatu malam, seorang remaja yatim bernama Yassir, yang kehilangan keluarganya dalam konflik, mencari tempat berteduh. Ia nekat bermalam di dalam masjid tua itu. “Tak ada tempat lain, dan Tuhan akan melindungiku,” ucapnya lirih sambil membuka pintu kayu yang sudah reot.

Namun sejak ia melangkah masuk, hawa dingin menyelimuti tubuhnya. Jam dinding tua yang tak berdetik sejak bertahun-tahun, tiba-tiba berdentang dua kali. Lalu azan terdengar… tapi suara itu serak dan pelan, seperti berasal dari dalam tanah.

Saat malam makin larut, Yassir mendengar suara langkah kaki… tapi tak ada siapa-siapa. Lalu terdengar tangisan anak kecil, memanggil “Abi… Abi…” dari ruang bawah mihrab. Saat ia mencoba memeriksa, lantai tiba-tiba retak, dan tanah di bawahnya ambruk sedikit.

Yassir melihat sebuah ruang gelap berisi tulang-tulang manusia, sebagian masih memakai baju tempur, sebagian lainnya seperti wanita dan anak-anak. Tapi yang membuatnya gemetar adalah wajah-wajah mereka yang perlahan menoleh ke arahnya, tanpa mata, namun seolah melihat langsung ke jiwanya.

Arwah yang Belum Tenang

Yassir terjatuh dan tak sadarkan diri. Dalam mimpinya, para arwah itu berbicara padanya. Mereka tidak marah, tapi mereka menangis, meminta dibacakan doa dan menyampaikan pesan kepada keluarga mereka yang masih hidup.

Salah satu dari mereka, seorang gadis kecil bernama Leena, memegang tangan Yassir dan berbisik:
"Katakan pada dunia… kami bukan hantu. Kami hanya ingin dikenang, bukan dilupakan."

Ketika Yassir bangun keesokan paginya, ia berada di luar masjid, dengan debu dan darah mengering di pakaiannya. Tapi anehnya, lorong tempat ia jatuh tidak ditemukan lagi, seolah-olah tertutup sepenuhnya oleh bumi.

Akhir yang Tak Tuntas

Sejak malam itu, Yassir mulai mengumpulkan warga dan membacakan doa bersama setiap malam Jumat di halaman masjid tua itu. Anehnya, tiap kali mereka selesai berdoa, suara tangisan dan jeritan yang biasanya terdengar dari dalam masjid... menghilang satu demi satu.

Namun, hingga kini… satu suara masih terdengar jelas setiap malam:
"Abi… Abi… pulanglah..."
Dan siapa pun yang tidur di dekat masjid itu, pasti akan bermimpi tentang Leena... gadis kecil dengan mata hitam kosong yang terus mencari ayahnya di tengah reruntuhan.

Jalan Sunyi Alas Roban

Malam itu, Egy memacu motornya melewati jalan berkelok di tengah hutan Alas Roban. Udara lembab menusuk kulit, dan kabut tipis mulai turun meski jarum jam belum menyentuh tengah malam. Ia baru pulang dari rumah temannya di Kendal, dan memilih jalan pintas melewati Alas Roban—sebuah keputusan yang segera ia sesali. Hutan itu terkenal angker. Banyak cerita tentang truk yang tiba-tiba rem blong, penampakan tanpa kepala, dan suara wanita menangis yang menggema dari balik pohon jati. Tapi Egy bukan tipe yang percaya begituan. “Itu cuma sugesti orang kampung,” pikirnya sambil menyalakan rokok. Saat sampai di tikungan tajam, mesinnya tiba-tiba brebet. Lampu motor berkedip sebentar, lalu padam. Rem mendadak berat, dan suara jangkrik menghilang begitu saja. Egy turun dan mencoba menghidupkan kembali motornya. Seketika itu juga, ia mendengar langkah kaki… pelan… berat… seakan seseorang menyeret kakinya di atas tanah berkerikil. Ia menoleh cepat. Tak ada siapa-siapa. Tapi hawa dingin menyeruak, seperti ada yang berdiri tepat di belakangnya. “Maaf, saya cuma lewat,” katanya pelan. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Bajunya lusuh dan compang-camping. Ia menatap Egy dari kejauhan. Tapi yang membuat darah Egy beku—wanita itu melayang. Egy berusaha menyalakan motornya. Berkali-kali ia mengengkol, tapi sia-sia. Sosok itu semakin dekat… lalu terdengar suara berbisik: "Kau juga akan tinggal di sini..." Egy menjerit dan akhirnya berhasil menyalakan motor. Ia langsung tancap gas, tak berani menoleh. Tapi sepanjang perjalanan keluar dari hutan, kaca spionnya memperlihatkan bayangan wanita itu duduk di jok belakangnya. Ia tak berhenti hingga fajar menyingsing dan mendapati dirinya di pom bensin seberang alas. Sudah tiga hari sejak Egy melewati Alas Roban. Tubuhnya masih lelah, tapi yang lebih parah adalah pikirannya. Ia selalu merasa diikuti. Setiap kali berkaca, ada perasaan seperti seseorang mengawasinya. Bahkan saat tidur pun, ia kerap terbangun karena mimpi buruk—selalu mimpi yang sama: sosok wanita itu berdiri di ujung tempat tidurnya, memanggil namanya perlahan... “Egy…” Ia mulai merasa kehilangan akal. Malam keempat, saat ia mencuci motornya di halaman, ia menyadari sesuatu yang mengerikan—di kaca spion kanan, ada bekas tangan… seperti telapak yang menempel dari dalam. Tapi saat ia menyentuhnya, tidak ada bekas apapun. Kaca bersih. Keesokan harinya, Egy memutuskan untuk bertanya ke seorang dukun tua di desa sebelah, yang dikenal bisa “melihat” yang tak kasat mata. Dukun itu hanya menatap motor Egy lama. Wajahnya mulai pucat. “Kamu tidak sendirian waktu pulang dari Alas Roban itu, Nak,” gumamnya lirih. “Dia ikut… dan sekarang dia belum mau pergi.” Egy gemetar. “Siapa dia, Mbah?” Dukun itu kemudian menyuruh Egy duduk dan membakar dupa. Asap tebal memenuhi ruangan, dan tiba-tiba terdengar suara tangisan… lirih, seperti dari dalam kepalanya sendiri. “Namanya Sri. Ia meninggal di tikungan Alas Roban, dijatuhkan kekasihnya dari motor karena hamil di luar nikah. Arwahnya tak diterima bumi, dan dia masih mencari ‘teman’ agar tidak sendirian.” Egy merasakan tubuhnya dingin seperti es. Dukun itu menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, “Kalau kamu tidak mengembalikan dia ke tempat dia berasal… kamu akan digantikan.” Malam itu, langit tertutup awan. Egy kembali ke Alas Roban, ditemani dukun tua bernama Mbah Parto. Di tangannya tergenggam seikat bunga kantil dan segenggam tanah dari kuburan Sri—yang ternyata tak jauh dari tikungan tempat Egy berhenti malam itu. Motor Egy berjalan pelan, lampunya menyinari jalan berkelok dan sunyi. Kabut turun perlahan, seolah menyambut mereka kembali. “Ingat, jangan menoleh… apa pun yang kamu dengar atau lihat,” pesan Mbah Parto sambil meletakkan bunga kantil di jok belakang motor. Mereka berhenti di tikungan maut itu. Angin berhenti. Suara malam hilang. Mbah Parto mulai membaca doa. Asap kemenyan membumbung. Lalu terdengar suara langkah… seperti malam itu. Berat. Pelan. Diikuti suara tangisan perempuan. Egy menggenggam erat stang motor, jantungnya berdetak liar. Tiba-tiba, dari arah belakang, suara perempuan itu kembali memanggil: “Egy…” Tapi kali ini, ia tak menoleh. Ia hanya menunduk, menahan napas. Tubuhnya gemetar, tapi ia terus mendengarkan doa dari Mbah Parto yang semakin cepat dan berat. Suara tangisan itu berubah jadi jeritan. Lalu senyap. Bunga kantil di jok belakang terbakar dengan sendirinya, lalu menghitam. Kemenyan padam. Mbah Parto berdiri perlahan. “Dia sudah pergi…” Egy perlahan menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi udara terasa jauh lebih ringan. Sudah setahun sejak malam itu. Egy tak pernah melihat bayangan di spion lagi. Mimpi buruknya berhenti. Tapi ia tak pernah lagi lewat Alas Roban, bahkan di siang hari. Motor lamanya sudah ia jual. Setiap kali ada yang tanya kenapa, ia hanya tersenyum tipis dan berkata: “Kadang, yang menumpang… tidak selalu terlihat.” Dan di dalam laci kamarnya, masih tersimpan selembar foto lama yang diberikan Mbah Parto. Wajah seorang gadis muda, tersenyum tipis di pinggir jalan. Di balik foto itu tertulis: "Sri – Tikungan Alas Roban, 1987." Sejak hari itu, Egy tak pernah mau menyebut kata “Alas Roban” lagi—bahkan untuk bercanda.

Monday, April 28, 2025

Penghuni Rumah Sebelah

Sudah dua minggu Arman pindah ke rumah barunya, sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Lingkungannya tenang, terlalu tenang malah. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tampak tua, dan jarang terlihat orang keluar-masuk. Tapi bagi Arman, itu sempurna. Ia mencari ketenangan setelah patah hati besar yang membuatnya ingin hidup jauh dari keramaian.

Suatu malam, ketika ia sedang membaca buku di ruang tamu, terdengar suara ketukan dari arah rumah sebelah. Pelan, seperti seseorang yang mengetuk kaca jendela dengan ujung jarinya.

Tok... tok... tok...

Arman mengintip dari tirai. Rumah sebelah, yang konon sudah lama kosong, tampak gelap gulita. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia menggelengkan kepala, berpikir mungkin itu hanya suara pohon atau hewan kecil.

Malam berikutnya, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Tok-tok-tok, seperti irama aneh, seakan ada pola. Arman merasa bulu kuduknya berdiri. Dengan keberanian setengah hati, ia keluar rumah, membawa senter.

Pintu rumah sebelah sedikit terbuka, berderit pelan tertiup angin malam. Ia menyorotkan senter ke dalam. Debu tebal menutupi lantai, furnitur lama membusuk di sudut-sudut. Tapi ada sesuatu yang membuat Arman terpaku.

Jejak kaki.

Jejak-jejak kecil, seperti jejak kaki anak-anak, tercetak jelas di atas debu, menuju tangga kayu yang mengarah ke lantai dua.

"Siapa di sana?" teriak Arman. Tidak ada jawaban.

Pintu depan tiba-tiba menutup dengan keras. Arman berlari kembali ke rumahnya sendiri, jantung berdegup tak karuan.

Esok paginya, ia menceritakan kejadian itu pada Pak Darto, satu-satunya tetangga yang pernah menyapanya.

Pak Darto menghela napas berat. "Rumah itu... sudah lama kosong, Mas Arman. Pemilik sebelumnya, sepasang suami-istri, meninggal di sana. Tidak wajar."

"Meninggal tidak wajar?"

Pak Darto mengangguk perlahan. "Mereka ditemukan di kamar atas, katanya... seperti dicekik, tapi tidak ada tanda-tanda orang masuk. Lebih aneh lagi, orang-orang bilang mereka sering mendengar suara anak kecil, padahal mereka tidak punya anak."

Arman tertawa gugup. "Mungkin hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang baru."

Pak Darto menatapnya serius. "Kalau malam, jangan keluar. Jangan lihat ke rumah itu terlalu lama."

Arman mengangguk, tapi di dalam hatinya, rasa ingin tahu malah semakin membuncah.

Malam itu, hujan turun deras. Arman sedang berusaha tidur ketika suara ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini, bukan dari rumah sebelah. Suara itu berasal dari jendela kamarnya sendiri.

Tok... tok... tok...

Arman mematung. Suara itu pelan, sabar, seperti menunggu sesuatu. Dengan perlahan, ia menarik selimutnya, berharap suara itu berhenti. Namun, setelah beberapa menit, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.

Ia membuka matanya dan melirik ke arah jendela.

Seseorang berdiri di luar.

Bukan, lebih tepatnya... sesuatu.

Wajahnya pucat, matanya hitam legam tanpa bola mata, bibirnya tersenyum aneh. Tubuhnya kecil, seperti anak-anak. Sosok itu mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Tangannya, yang tampak kurus kering, menggores kaca jendela, meninggalkan bekas putih.

Arman mundur perlahan. Tapi suara ketukan mulai terdengar dari arah pintu depan, pintu belakang, bahkan dari dalam lemari.

Tok... tok... tok...

Seolah-olah seluruh rumah dikepung suara itu.

Dalam kepanikan, Arman mengunci semua pintu dan jendela, lalu bersembunyi di bawah meja. Ia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba mengabaikan suara-suara itu. Lama sekali ia berdiam diri, sampai akhirnya suara itu perlahan menghilang.

Keesokan harinya, Arman memutuskan untuk pergi. Ia tak peduli dengan uang muka yang sudah dibayarkan untuk rumah itu. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.

Saat berkemas, ia menemukan sesuatu di bawah meja tempat ia bersembunyi semalam. Sebuah foto tua, lusuh dan hampir pudar.

Dalam foto itu, tampak pasangan suami istri tersenyum bahagia, dengan seorang anak kecil di tengah mereka. Anak kecil itu mengenakan pakaian putih, wajahnya... sama persis dengan sosok yang Arman lihat tadi malam.

Di belakang foto, ada tulisan tangan:

"Bersama selamanya, tak akan membiarkanmu pergi."

Arman gemetar. Ia membuang foto itu dan bergegas keluar.

Tapi saat hendak mengunci pintu, ia melihat sesuatu di lantai ruang tamu.

Jejak kaki kecil, basah oleh air hujan, bertebaran ke seluruh rumah, menuju ke belakangnya.

Sebuah bisikan terdengar di telinganya.

"Main... lagi...?"

Arman berbalik, namun dunia gelap seketika.

Rumah itu kembali sunyi, seolah tak pernah ada yang tinggal di dalamnya.

Beberapa minggu kemudian, seorang agen properti memasang tanda "DIJUAL" di depan rumah Arman. Ia tersenyum puas, lalu memandang ke arah rumah sebelah.

Dari jendela lantai dua, sepasang mata kecil memperhatikannya.

Mereka menunggu penghuni baru.

Wednesday, February 12, 2025

Bisikan di Kamar Kos

 

Dina baru saja pindah ke kamar kos baru, sebuah rumah tua di pinggiran kota yang katanya murah tapi nyaman. Malam pertama berjalan biasa saja, meski hawa di kamar terasa sedikit dingin. Namun, di malam kedua, ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh.

Sekitar pukul 2 pagi, Dina terbangun karena mendengar suara bisikan samar. Awalnya ia mengira itu suara dari kamar sebelah, tetapi setelah ia benar-benar mendengarkan, suara itu terdengar jelas di kamarnya sendiri.

"Kamu suka kamarnya?"

Dina langsung merinding. Ia menyalakan lampu dan mencari sumber suara, tapi tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya mimpi, pikirnya. Ia mencoba tidur lagi.

Namun, malam berikutnya, suara itu datang lagi. Kali ini lebih dekat.

"Dulu aku juga tinggal di sini..."

Dina membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera mengambil ponsel dan menyalakan senter, menyusuri setiap sudut kamar. Saat ia mengarahkan senter ke cermin besar di sudut ruangan, bulu kuduknya berdiri. Ada bayangan samar seorang wanita berdiri di belakangnya, tersenyum aneh.

Dina menjerit dan lari keluar kamar. Ia mengetuk kamar pemilik kos dengan panik. Setelah beberapa saat, ibu kos akhirnya membukakan pintu dengan wajah mengantuk.

"Ada apa, Dina?"

Dina bercerita dengan suara gemetar. Wajah ibu kos berubah pucat.

"Kamar yang kamu tempati dulu milik seorang gadis yang menghilang tanpa jejak. Sampai sekarang, dia belum ditemukan…"

Dina langsung merinding. Sejak malam itu, ia tak pernah kembali ke kamar itu lagi.

Dina tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya duduk di ruang tamu rumah kos, menunggu pagi dengan tubuh gemetar. Ibu kos sudah memberinya segelas teh hangat, tapi tangannya terlalu lemah untuk memegangnya dengan benar.

“Apa… apa maksud Ibu? Gadis yang menghilang?” tanya Dina dengan suara bergetar.

Ibu kos menghela napas panjang. “Namanya Sari. Dia tinggal di kamar itu sekitar setahun yang lalu. Orangnya pendiam, jarang bergaul. Suatu malam, dia tiba-tiba menghilang. Polisi sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada jejak sama sekali.”

Dina menggigit bibirnya. Pikirannya dipenuhi ketakutan. Ia teringat bayangan di cermin. Apakah itu Sari?

“Kamu dengar suaranya?” tanya ibu kos dengan wajah serius.

Dina mengangguk pelan. “Dia bilang dulu juga tinggal di sana…”

Ibu kos terdiam sejenak. Lalu, seolah memutuskan sesuatu, ia berdiri. “Ayo, kita ke kamarmu. Aku ingin melihat sesuatu.”

Dina langsung menolak. “Bu, saya nggak mau masuk ke sana lagi.”

“Tapi ini penting,” kata ibu kos.

Akhirnya, dengan langkah berat dan jantung berdebar, Dina mengikuti ibu kos ke kamarnya. Pintu kamar masih terbuka, lampu masih menyala. Semua tampak normal, kecuali hawa dingin yang terasa lebih menusuk.

Ibu kos berjalan ke sudut ruangan, tepat ke arah cermin besar. Ia menatap pantulan mereka berdua untuk beberapa detik, lalu meraba sisi cermin. Tanpa diduga, ia menekan bagian bawah cermin dan—klik!—cermin itu bergerak, bergeser sedikit ke depan.

Dina terbelalak. Di balik cermin ada ruang kosong kecil, seperti lemari tersembunyi. Namun, yang membuat perutnya mual adalah bau busuk yang langsung menyengat dari dalamnya.

Ibu kos menutup hidung. Dengan tangan gemetar, ia menyorotkan senter ke dalam ruang rahasia itu.

Lalu, mereka melihatnya.

Sebuah sosok manusia, sudah mengering dan hampir tinggal tulang. Pakaian yang dikenakannya terlihat lusuh dan lapuk. Di sekitar tubuhnya ada bekas cakaran di dinding sempit itu, seolah seseorang pernah mencoba keluar dari dalamnya.

Dina menjerit.

Ibu kos langsung mundur, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. “Ya Tuhan… Sari…”

Dina merasa tubuhnya melemas. Jadi selama ini, suara bisikan itu bukan hanya hantu yang menghantuinya, tapi suara seorang gadis yang benar-benar pernah terkunci di balik cermin itu. Sari tidak menghilang—dia dikurung, mati perlahan dalam kegelapan.

Pihak kepolisian segera dipanggil. Setelah penyelidikan, terungkap bahwa Sari bukan menghilang secara misterius—dia adalah korban dari penghuni kos sebelumnya, seorang pria yang kini sudah pindah dan tidak pernah ditemukan lagi. Motifnya masih misteri, tapi dugaan sementara, pria itu menyukai Sari dan saat ditolak, ia mengurungnya di ruang rahasia itu tanpa ada jalan keluar.

Kamar kos itu akhirnya dikosongkan. Cermin dihancurkan. Tidak ada lagi yang menempati ruangan itu. Namun, bagi Dina, suara bisikan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.

"Dulu aku juga tinggal di sini…"

Sari tidak benar-benar pergi.



Tuesday, February 11, 2025

Malam Terakhir di Villa Tua

Dina dan teman-temannya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah villa tua di pinggir hutan. Villa itu sudah lama kosong, tapi pemiliknya mengatakan bahwa tempat itu masih layak dihuni. Mereka tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita aneh yang beredar tentang villa itu—bagi mereka, ini hanya tempat sempurna untuk bersenang-senang.

Malam pertama berjalan biasa saja. Namun, pada tengah malam, Dina terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya. Ia berpikir itu salah satu temannya, jadi ia mengabaikannya. Namun, suara itu semakin lama semakin jelas, seolah-olah seseorang sedang berjalan mondar-mandir di lorong.

Saat ia mengintip dari celah pintu, tak ada siapa-siapa. Namun, yang membuat bulu kuduknya merinding adalah suara napas berat yang terdengar di balik pintunya.

Dina membangunkan temannya, Rina, yang tidur di ranjang sebelahnya. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rina tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan kosong dan berkata, "Kita tidak seharusnya ada di sini."

Dina terdiam. Ia berusaha membangunkan teman-temannya yang lain, tapi tak ada yang merespons. Ketika ia menoleh lagi ke arah Rina, gadis itu sudah duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, matanya kosong, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.

Dina mundur perlahan, meraih ponselnya, dan mencoba menyalakan senter. Saat cahayanya menyala, ia melihat bayangan hitam berdiri di sudut kamar, tubuhnya tinggi, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seolah-olah berbisik sesuatu.

Tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip, dan suara ketukan bergema di seluruh villa. Dina menjerit, membangunkan yang lain. Semua berlari keluar kamar, tetapi saat sampai di ruang tamu, mereka semua terdiam.

Di depan mereka, pintu utama sudah terbuka lebar, dan di luar, berdiri seorang wanita tua dengan wajah pucat. Ia menatap mereka dengan tatapan tajam dan berkata pelan:

"Pergi... sebelum dia mengambil kalian juga."

Keesokan harinya, saat mereka bertanya kepada penjaga villa, pria itu hanya menunduk dan berkata pelan, "Kalian beruntung bisa keluar hidup-hidup. Tidak semua tamu seberuntung kalian."Dina dan teman-temannya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah villa tua di pinggir hutan. Villa itu sudah lama kosong, tapi pemiliknya mengatakan bahwa tempat itu masih layak dihuni. Mereka tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita aneh yang beredar tentang villa itu—bagi mereka, ini hanya tempat sempurna untuk bersenang-senang.

Malam pertama berjalan biasa saja. Namun, pada tengah malam, Dina terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya. Ia berpikir itu salah satu temannya, jadi ia mengabaikannya. Namun, suara itu semakin lama semakin jelas, seolah-olah seseorang sedang berjalan mondar-mandir di lorong.

Saat ia mengintip dari celah pintu, tak ada siapa-siapa. Namun, yang membuat bulu kuduknya merinding adalah suara napas berat yang terdengar di balik pintunya.

Dina membangunkan temannya, Rina, yang tidur di ranjang sebelahnya. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rina tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan kosong dan berkata, "Kita tidak seharusnya ada di sini."

Dina terdiam. Ia berusaha membangunkan teman-temannya yang lain, tapi tak ada yang merespons. Ketika ia menoleh lagi ke arah Rina, gadis itu sudah duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, matanya kosong, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.

Dina mundur perlahan, meraih ponselnya, dan mencoba menyalakan senter. Saat cahayanya menyala, ia melihat bayangan hitam berdiri di sudut kamar, tubuhnya tinggi, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seolah-olah berbisik sesuatu.

Tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip, dan suara ketukan bergema di seluruh villa. Dina menjerit, membangunkan yang lain. Semua berlari keluar kamar, tetapi saat sampai di ruang tamu, mereka semua terdiam.

Di depan mereka, pintu utama sudah terbuka lebar, dan di luar, berdiri seorang wanita tua dengan wajah pucat. Ia menatap mereka dengan tatapan tajam dan berkata pelan:

"Pergi... sebelum dia mengambil kalian juga."

Keesokan harinya, saat mereka bertanya kepada penjaga villa, pria itu hanya menunduk dan berkata pelan, "Kalian beruntung bisa keluar hidup-hidup. Tidak semua tamu seberuntung kalian."

Dina dan teman-temannya tidak bisa tidur setelah kejadian malam itu. Mereka memutuskan untuk mengemasi barang dan pergi saat fajar tiba. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan masih menunggu mereka.

Saat mereka hendak keluar, Rina tiba-tiba berhenti di depan cermin besar di ruang tamu. Matanya melebar, tubuhnya gemetar, dan tiba-tiba ia tersenyum… tapi bukan dengan wajahnya sendiri.

Refleksi di cermin tidak mengikuti gerakannya.

"Kita tidak bisa pergi," kata Rina dengan suara yang bukan miliknya.

Dina mundur selangkah, sementara yang lain mulai panik. Tiba-tiba, lampu di villa itu padam, dan suara berbisik kembali terdengar di seluruh ruangan. Suara itu seperti berasal dari segala arah, mengucapkan sesuatu yang tidak mereka mengerti.

Tiba-tiba, Rina berbalik dengan cepat dan menatap mereka dengan mata kosong. Tangannya bergerak seperti dipaksa oleh sesuatu yang tidak terlihat, dan ia mulai berjalan ke arah mereka dengan langkah tersentak-sentak.

"KITA TIDAK BISA PERGI!"

Tiba-tiba, pintu depan villa menutup sendiri dengan keras. Angin dingin bertiup, membuat tubuh mereka menggigil. Dina dan teman-temannya menjerit, berusaha menarik Rina pergi, tetapi gadis itu seperti terikat oleh sesuatu yang kuat.

Dalam kepanikan, salah satu teman mereka, Reza, ingat sesuatu yang dikatakan penjaga villa sebelum mereka masuk. “Jangan lihat ke cermin saat tengah malam.”

Tanpa berpikir panjang, Reza meraih batu dari meja dan menghantam cermin itu sekuat tenaga.

Cermin itu pecah berkeping-keping… dan saat itu juga, Rina menjerit keras. Tubuhnya terangkat ke udara, lalu jatuh ke lantai dengan lemas. Semua suara bisikan berhenti. Pintu villa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.

Tanpa berpikir panjang, mereka mengangkat Rina yang pingsan dan berlari keluar. Mereka tidak berani melihat ke belakang.

Begitu mereka mencapai mobil, mereka segera tancap gas. Saat mereka melihat villa itu dari kejauhan, sesuatu yang mengerikan terjadi—bayangan hitam yang mereka lihat semalam berdiri di depan villa, menatap mereka pergi.

Namun, yang membuat mereka tak bisa tidur hingga sekarang adalah… bayangan itu tersenyum.

Sampai hari ini, mereka tidak pernah tahu siapa atau apa yang menghuni villa tua itu. Tapi satu hal yang pasti—mereka tidak akan pernah kembali ke sana lagi.

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...