Dina dan teman-temannya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah villa tua di pinggir hutan. Villa itu sudah lama kosong, tapi pemiliknya mengatakan bahwa tempat itu masih layak dihuni. Mereka tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita aneh yang beredar tentang villa itu—bagi mereka, ini hanya tempat sempurna untuk bersenang-senang.
Malam pertama berjalan biasa saja. Namun, pada tengah malam, Dina terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya. Ia berpikir itu salah satu temannya, jadi ia mengabaikannya. Namun, suara itu semakin lama semakin jelas, seolah-olah seseorang sedang berjalan mondar-mandir di lorong.
Saat ia mengintip dari celah pintu, tak ada siapa-siapa. Namun, yang membuat bulu kuduknya merinding adalah suara napas berat yang terdengar di balik pintunya.
Dina membangunkan temannya, Rina, yang tidur di ranjang sebelahnya. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rina tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan kosong dan berkata, "Kita tidak seharusnya ada di sini."
Dina terdiam. Ia berusaha membangunkan teman-temannya yang lain, tapi tak ada yang merespons. Ketika ia menoleh lagi ke arah Rina, gadis itu sudah duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, matanya kosong, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.
Dina mundur perlahan, meraih ponselnya, dan mencoba menyalakan senter. Saat cahayanya menyala, ia melihat bayangan hitam berdiri di sudut kamar, tubuhnya tinggi, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seolah-olah berbisik sesuatu.
Tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip, dan suara ketukan bergema di seluruh villa. Dina menjerit, membangunkan yang lain. Semua berlari keluar kamar, tetapi saat sampai di ruang tamu, mereka semua terdiam.
Di depan mereka, pintu utama sudah terbuka lebar, dan di luar, berdiri seorang wanita tua dengan wajah pucat. Ia menatap mereka dengan tatapan tajam dan berkata pelan:
"Pergi... sebelum dia mengambil kalian juga."
Keesokan harinya, saat mereka bertanya kepada penjaga villa, pria itu hanya menunduk dan berkata pelan, "Kalian beruntung bisa keluar hidup-hidup. Tidak semua tamu seberuntung kalian."Dina dan teman-temannya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah villa tua di pinggir hutan. Villa itu sudah lama kosong, tapi pemiliknya mengatakan bahwa tempat itu masih layak dihuni. Mereka tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita aneh yang beredar tentang villa itu—bagi mereka, ini hanya tempat sempurna untuk bersenang-senang.
Malam pertama berjalan biasa saja. Namun, pada tengah malam, Dina terbangun karena mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya. Ia berpikir itu salah satu temannya, jadi ia mengabaikannya. Namun, suara itu semakin lama semakin jelas, seolah-olah seseorang sedang berjalan mondar-mandir di lorong.
Saat ia mengintip dari celah pintu, tak ada siapa-siapa. Namun, yang membuat bulu kuduknya merinding adalah suara napas berat yang terdengar di balik pintunya.
Dina membangunkan temannya, Rina, yang tidur di ranjang sebelahnya. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Rina tiba-tiba membuka matanya dengan tatapan kosong dan berkata, "Kita tidak seharusnya ada di sini."
Dina terdiam. Ia berusaha membangunkan teman-temannya yang lain, tapi tak ada yang merespons. Ketika ia menoleh lagi ke arah Rina, gadis itu sudah duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, matanya kosong, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu.
Dina mundur perlahan, meraih ponselnya, dan mencoba menyalakan senter. Saat cahayanya menyala, ia melihat bayangan hitam berdiri di sudut kamar, tubuhnya tinggi, matanya kosong, dan mulutnya terbuka seolah-olah berbisik sesuatu.
Tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip, dan suara ketukan bergema di seluruh villa. Dina menjerit, membangunkan yang lain. Semua berlari keluar kamar, tetapi saat sampai di ruang tamu, mereka semua terdiam.
Di depan mereka, pintu utama sudah terbuka lebar, dan di luar, berdiri seorang wanita tua dengan wajah pucat. Ia menatap mereka dengan tatapan tajam dan berkata pelan:
"Pergi... sebelum dia mengambil kalian juga."
Keesokan harinya, saat mereka bertanya kepada penjaga villa, pria itu hanya menunduk dan berkata pelan, "Kalian beruntung bisa keluar hidup-hidup. Tidak semua tamu seberuntung kalian."
Dina dan teman-temannya tidak bisa tidur setelah kejadian malam itu. Mereka memutuskan untuk mengemasi barang dan pergi saat fajar tiba. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan masih menunggu mereka.
Saat mereka hendak keluar, Rina tiba-tiba berhenti di depan cermin besar di ruang tamu. Matanya melebar, tubuhnya gemetar, dan tiba-tiba ia tersenyum… tapi bukan dengan wajahnya sendiri.
Refleksi di cermin tidak mengikuti gerakannya.
"Kita tidak bisa pergi," kata Rina dengan suara yang bukan miliknya.
Dina mundur selangkah, sementara yang lain mulai panik. Tiba-tiba, lampu di villa itu padam, dan suara berbisik kembali terdengar di seluruh ruangan. Suara itu seperti berasal dari segala arah, mengucapkan sesuatu yang tidak mereka mengerti.
Tiba-tiba, Rina berbalik dengan cepat dan menatap mereka dengan mata kosong. Tangannya bergerak seperti dipaksa oleh sesuatu yang tidak terlihat, dan ia mulai berjalan ke arah mereka dengan langkah tersentak-sentak.
"KITA TIDAK BISA PERGI!"
Tiba-tiba, pintu depan villa menutup sendiri dengan keras. Angin dingin bertiup, membuat tubuh mereka menggigil. Dina dan teman-temannya menjerit, berusaha menarik Rina pergi, tetapi gadis itu seperti terikat oleh sesuatu yang kuat.
Dalam kepanikan, salah satu teman mereka, Reza, ingat sesuatu yang dikatakan penjaga villa sebelum mereka masuk. “Jangan lihat ke cermin saat tengah malam.”
Tanpa berpikir panjang, Reza meraih batu dari meja dan menghantam cermin itu sekuat tenaga.
Cermin itu pecah berkeping-keping… dan saat itu juga, Rina menjerit keras. Tubuhnya terangkat ke udara, lalu jatuh ke lantai dengan lemas. Semua suara bisikan berhenti. Pintu villa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Tanpa berpikir panjang, mereka mengangkat Rina yang pingsan dan berlari keluar. Mereka tidak berani melihat ke belakang.
Begitu mereka mencapai mobil, mereka segera tancap gas. Saat mereka melihat villa itu dari kejauhan, sesuatu yang mengerikan terjadi—bayangan hitam yang mereka lihat semalam berdiri di depan villa, menatap mereka pergi.
Namun, yang membuat mereka tak bisa tidur hingga sekarang adalah… bayangan itu tersenyum.
Sampai hari ini, mereka tidak pernah tahu siapa atau apa yang menghuni villa tua itu. Tapi satu hal yang pasti—mereka tidak akan pernah kembali ke sana lagi.

No comments:
Post a Comment