π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Wednesday, February 12, 2025

Bisikan di Kamar Kos

 

Dina baru saja pindah ke kamar kos baru, sebuah rumah tua di pinggiran kota yang katanya murah tapi nyaman. Malam pertama berjalan biasa saja, meski hawa di kamar terasa sedikit dingin. Namun, di malam kedua, ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh.

Sekitar pukul 2 pagi, Dina terbangun karena mendengar suara bisikan samar. Awalnya ia mengira itu suara dari kamar sebelah, tetapi setelah ia benar-benar mendengarkan, suara itu terdengar jelas di kamarnya sendiri.

"Kamu suka kamarnya?"

Dina langsung merinding. Ia menyalakan lampu dan mencari sumber suara, tapi tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya mimpi, pikirnya. Ia mencoba tidur lagi.

Namun, malam berikutnya, suara itu datang lagi. Kali ini lebih dekat.

"Dulu aku juga tinggal di sini..."

Dina membeku. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera mengambil ponsel dan menyalakan senter, menyusuri setiap sudut kamar. Saat ia mengarahkan senter ke cermin besar di sudut ruangan, bulu kuduknya berdiri. Ada bayangan samar seorang wanita berdiri di belakangnya, tersenyum aneh.

Dina menjerit dan lari keluar kamar. Ia mengetuk kamar pemilik kos dengan panik. Setelah beberapa saat, ibu kos akhirnya membukakan pintu dengan wajah mengantuk.

"Ada apa, Dina?"

Dina bercerita dengan suara gemetar. Wajah ibu kos berubah pucat.

"Kamar yang kamu tempati dulu milik seorang gadis yang menghilang tanpa jejak. Sampai sekarang, dia belum ditemukan…"

Dina langsung merinding. Sejak malam itu, ia tak pernah kembali ke kamar itu lagi.

Dina tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya duduk di ruang tamu rumah kos, menunggu pagi dengan tubuh gemetar. Ibu kos sudah memberinya segelas teh hangat, tapi tangannya terlalu lemah untuk memegangnya dengan benar.

“Apa… apa maksud Ibu? Gadis yang menghilang?” tanya Dina dengan suara bergetar.

Ibu kos menghela napas panjang. “Namanya Sari. Dia tinggal di kamar itu sekitar setahun yang lalu. Orangnya pendiam, jarang bergaul. Suatu malam, dia tiba-tiba menghilang. Polisi sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada jejak sama sekali.”

Dina menggigit bibirnya. Pikirannya dipenuhi ketakutan. Ia teringat bayangan di cermin. Apakah itu Sari?

“Kamu dengar suaranya?” tanya ibu kos dengan wajah serius.

Dina mengangguk pelan. “Dia bilang dulu juga tinggal di sana…”

Ibu kos terdiam sejenak. Lalu, seolah memutuskan sesuatu, ia berdiri. “Ayo, kita ke kamarmu. Aku ingin melihat sesuatu.”

Dina langsung menolak. “Bu, saya nggak mau masuk ke sana lagi.”

“Tapi ini penting,” kata ibu kos.

Akhirnya, dengan langkah berat dan jantung berdebar, Dina mengikuti ibu kos ke kamarnya. Pintu kamar masih terbuka, lampu masih menyala. Semua tampak normal, kecuali hawa dingin yang terasa lebih menusuk.

Ibu kos berjalan ke sudut ruangan, tepat ke arah cermin besar. Ia menatap pantulan mereka berdua untuk beberapa detik, lalu meraba sisi cermin. Tanpa diduga, ia menekan bagian bawah cermin dan—klik!—cermin itu bergerak, bergeser sedikit ke depan.

Dina terbelalak. Di balik cermin ada ruang kosong kecil, seperti lemari tersembunyi. Namun, yang membuat perutnya mual adalah bau busuk yang langsung menyengat dari dalamnya.

Ibu kos menutup hidung. Dengan tangan gemetar, ia menyorotkan senter ke dalam ruang rahasia itu.

Lalu, mereka melihatnya.

Sebuah sosok manusia, sudah mengering dan hampir tinggal tulang. Pakaian yang dikenakannya terlihat lusuh dan lapuk. Di sekitar tubuhnya ada bekas cakaran di dinding sempit itu, seolah seseorang pernah mencoba keluar dari dalamnya.

Dina menjerit.

Ibu kos langsung mundur, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. “Ya Tuhan… Sari…”

Dina merasa tubuhnya melemas. Jadi selama ini, suara bisikan itu bukan hanya hantu yang menghantuinya, tapi suara seorang gadis yang benar-benar pernah terkunci di balik cermin itu. Sari tidak menghilang—dia dikurung, mati perlahan dalam kegelapan.

Pihak kepolisian segera dipanggil. Setelah penyelidikan, terungkap bahwa Sari bukan menghilang secara misterius—dia adalah korban dari penghuni kos sebelumnya, seorang pria yang kini sudah pindah dan tidak pernah ditemukan lagi. Motifnya masih misteri, tapi dugaan sementara, pria itu menyukai Sari dan saat ditolak, ia mengurungnya di ruang rahasia itu tanpa ada jalan keluar.

Kamar kos itu akhirnya dikosongkan. Cermin dihancurkan. Tidak ada lagi yang menempati ruangan itu. Namun, bagi Dina, suara bisikan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.

"Dulu aku juga tinggal di sini…"

Sari tidak benar-benar pergi.



No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...