1. Bus Malam
Yuda naik ke bus malam jurusan Bandung – Semarang, keberangkatan pukul 23.30. Ia duduk di bangku paling belakang, dekat toilet—tempat yang biasanya dihindari orang karena bau.
Penumpangnya hanya sekitar 10 orang. Lampu bus diredupkan, hanya menyisakan cahaya biru redup dari atas. Udara terasa dingin, bukan karena AC saja, tapi seperti hawa dari tempat lain.
2. Sosok Tanpa Suara
Saat bus melaju melewati daerah Subang yang sunyi, Yuda melihat seseorang berdiri di lorong tengah bus. Lelaki tinggi, berjaket hitam dan mengenakan topi lusuh. Wajahnya tak kelihatan.
Anehnya, tak ada suara langkah, tak ada derit lantai, tak juga hembusan napas. Hanya diam. Ia berdiri menghadap ke arah depan bus.
Yuda berkedip. Dalam sekejap, sosok itu sudah duduk di salah satu kursi deretan tengah.
Namun, saat lampu jalan menyorot, Yuda menyadari—tak ada bayangan dari tubuh itu. Tak seperti penumpang lain.
3. Sopir Diam, Kondektur Tahu
Yuda maju perlahan ke arah sopir, pura-pura mau buang air.
“Pak... yang duduk di tengah itu siapa ya?”
Sopir menoleh sejenak, lalu kembali memandang jalan.
“Mas duduk tenang aja ya. Jangan dilihatin.”
Seketika kondektur membisik dari belakang:
“Kalau Mas lihat dia, berarti Mas sudah dipilih.”
“Dipilih apaan?”
“Buat nemenin dia... biar dia nggak sendirian di jalan pulang.”
4. Tanda Penumpang Terakhir
Yuda kembali ke kursinya. Penumpang di sampingnya masih tertidur. Tapi kini… sosok itu duduk di sebelahnya.
Rambutnya panjang. Tubuhnya dingin. Wajahnya kosong.
“Mas...” bisiknya lirih,
“Aku belum sempat turun waktu itu... Aku kedinginan...”
Yuda tercekat. Matanya mulai berat. Suhu tubuhnya mulai turun. Tangannya gemetar.
“Temenin aku... sebentar aja…”
5. Pagi Tanpa Pulang
Pagi harinya, bus sampai di terminal Semarang. Semua penumpang turun. Tapi satu orang tetap duduk diam di bangkunya, tak bergerak.
Yuda… sudah membeku.
Matanya terbuka. Mulutnya setengah tersenyum. Di bangku sampingnya, ada bekas duduk basah, seperti habis ditempati oleh... sesuatu.
Sopir hanya menatap sekilas, lalu berbisik ke kondektur:
“Tiap malam... selalu ada satu yang digantikan.”
No comments:
Post a Comment