Di sebuah kota kecil, terdapat sebuah sekolah asrama tua yang telah berdiri sejak zaman kolonial. Bangunannya sudah usang, dengan dinding penuh lumut dan jendela kayu yang sering berderit ditiup angin malam. Para siswa yang tinggal di sana sering mendengar berbagai cerita seram tentang asrama tersebut, tetapi mereka menganggapnya hanya sebagai mitos untuk menakut-nakuti anak baru.
Suatu malam, seorang siswi bernama Maya terbangun karena haus. Ia bangun dari tempat tidurnya, mengambil senter, lalu berjalan keluar kamar menuju dapur yang berada di ujung koridor. Koridor itu sepi dan gelap, hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu tua yang berkedip-kedip.
Saat berjalan melewati ruang tamu asrama, Maya mendengar sesuatu.
"Maya..."
Langkahnya terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Suara itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan, tetapi jelas memanggil namanya. Maya menoleh ke sekeliling, tetapi tidak melihat siapa pun. Ia menelan ludah dan memutuskan untuk mengabaikannya.
Ketika sampai di dapur, Maya membuka keran dan mulai minum air dari gelas. Namun, saat ia hendak kembali ke kamarnya, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.
"Maya... Tolong aku..."
Maya menahan napas. Suara itu berasal dari belakangnya. Perlahan, ia menoleh ke arah lemari tua di sudut dapur.
Lemari itu sedikit terbuka. Gelap di dalamnya.
Dengan tangan gemetar, Maya mengarahkan senter ke dalam lemari. Tidak ada apa-apa di sana. Hanya rak kayu kosong yang berdebu. Namun, ketika ia hendak menutupnya kembali...
Sebuah tangan pucat keluar dari dalam lemari dan menariknya masuk!
Maya menjerit, tetapi suaranya tertahan. Gelap. Dingin. Nafasnya memburu. Dalam kegelapan, ia bisa merasakan sesuatu... atau seseorang berbisik di telinganya.
"Sekarang kau juga bersamaku..."
Keesokan paginya, teman-teman Maya menyadari bahwa ia menghilang. Mereka mencari ke seluruh asrama, tetapi tidak menemukannya. Hingga akhirnya, salah seorang siswa menemukan senter milik Maya tergeletak di lantai dapur—tepat di depan lemari tua yang kini... sudah tertutup rapat.
Sejak malam menghilangnya Maya, suasana asrama berubah. Teman-temannya tidak bisa tidur nyenyak. Mereka merasa ada yang mengawasi dari bayang-bayang. Beberapa dari mereka mulai mendengar suara bisikan di malam hari—bisikan yang memanggil nama mereka, sama seperti yang didengar Maya sebelum ia lenyap.
Salah satu teman dekat Maya, Rina, merasa ada yang janggal. Ia yakin Maya tidak mungkin pergi begitu saja. Dengan rasa takut bercampur penasaran, Rina mengajak tiga temannya—Doni, Siska, dan Jefri—untuk menyelidiki dapur tempat terakhir Maya terlihat.
Malam itu, mereka berkumpul di dapur, membawa senter dan keberanian yang tersisa. Lemari tua yang sebelumnya tertutup kini sedikit terbuka, seolah menunggu seseorang untuk membukanya lebih lebar.
"Apa ini jebakan?" bisik Doni.
"Atau mungkin Maya ada di dalam?" Rina berusaha berpikir positif, meski tubuhnya bergetar.
Dengan hati-hati, Jefri mengulurkan tangan dan menarik pintu lemari perlahan. Engselnya berdecit nyaring. Yang mereka temukan hanyalah ruang kosong dan gelap. Namun, tiba-tiba, udara menjadi lebih dingin.
Terdengar suara napas dari dalam lemari.
Kemudian...
"Tolong aku..."
Suara itu suara Maya!
Tanpa berpikir panjang, Rina menyinari bagian dalam lemari dengan senter. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat bayangan sosok Maya, duduk di dalam, wajahnya pucat, matanya kosong.
"Maya!!" Rina hampir menangis melihat temannya.
Namun, sebelum mereka bisa menarik Maya keluar, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Wajah Maya tiba-tiba berubah. Matanya menjadi hitam pekat, mulutnya menyeringai lebar hingga ke pipi, dan tubuhnya mencengkeram sisi lemari.
"Sekarang... kalian juga akan bersamaku..."
Seketika, tangan-tangan pucat muncul dari dalam lemari dan menarik mereka masuk!
Satu per satu, mereka menjerit, mencoba melawan, tapi kekuatan mengerikan itu jauh lebih kuat. Hanya Doni yang berhasil berlari keluar sebelum pintu lemari menutup sendiri dengan keras.
Setelah kejadian itu, Doni menceritakan semuanya kepada kepala sekolah. Namun, saat mereka membuka lemari tersebut keesokan harinya...
Tidak ada apa-apa di dalamnya.
Tidak ada Maya. Tidak ada Rina. Tidak ada Jefri atau Siska.
Mereka semua lenyap.
Lemari tua itu akhirnya dipaku rapat dan tidak pernah dibuka lagi. Namun, bisikan-bisikan itu masih terdengar di malam hari...




