π‘Ίπ™€π‘³π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘» π‘«π˜Όπ‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π˜Ώπ‘° π‘―π™Šπ‘Ήπ™Šπ‘Ήπ™”π‘Όπ™† π™π‘¨π™Žπ‘¨π™†π‘¨π™‰ π™Žπ‘¬π™‰π‘Ίπ˜Όπ‘Ίπ™„ π™ˆπ‘¬π™π‘°π™‰π‘«π™„π‘΅π™‚ π˜Ώπ‘¨π™‰ π™‰π‘¨π™ˆπ‘©π˜Όπ‘― π‘·π™€π‘΄π˜Όπ‘―π˜Όπ‘΄π˜Όπ‘΅ π‘²π˜Όπ‘³π™„π‘¨π™‰ π™π‘¬π™‰π‘»π˜Όπ‘΅π™‚ π™‡π‘¬π™‚π‘¬π™‰π‘«π˜Ό

Klik (x) untuk menutup
BONUS FREE 20 K HANYA DI PEDRO4D , 100 % DI JAMIN JACKPOT

Friday, February 7, 2025

Bayangan di Jendela



Malam itu, hujan turun deras, menciptakan irama samar di atap rumah tua peninggalan kakek saya. Saya baru saja pindah ke rumah itu, sendirian, setelah bertahun-tahun kosong. Tetangga sekitar sering memperingatkan saya tentang "penghuni lama" di rumah itu, tapi saya menganggapnya hanya mitos belaka.

Namun, malam itu, sesuatu terasa berbeda. Saat sedang membaca di ruang tamu, saya mendengar suara ketukan pelan di jendela. Tok... tok... tok... Saya menoleh, tapi yang terlihat hanya bayangan samar di balik kaca. Saya berpikir mungkin itu ranting pohon yang tertiup angin.

Lalu, tiba-tiba listrik padam. Suasana menjadi sunyi. Yang terdengar hanya bunyi derasnya hujan di luar. Saya meraba-raba ponsel saya untuk menyalakan senter. Saat cahayanya menyorot ke arah jendela, darah saya seketika membeku.

Di sana, di balik kaca yang berembun, ada bekas telapak tangan. Besar. Menempel di kaca seperti seseorang baru saja berdiri di sana, mengawasi saya. Saya mundur perlahan, jantung berdegup kencang. Kemudian, suara itu datang lagi. Tok... tok... tok... Tapi kali ini, bukan dari jendela.

Suara itu berasal dari dalam rumah.

Saya berdiri terpaku. Suara ketukan yang tadinya berasal dari jendela kini terdengar dari dalam rumah. Tok… tok… tok… Samar, teratur, dan semakin dekat.

Saya mengarahkan senter ke sekeliling ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Hanya perabot tua dan bayangan yang menari di dinding karena cahaya senter.

Dengan napas tertahan, saya melangkah perlahan ke arah asal suara—ruang makan. Begitu sampai, saya mendapati sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri.

Kursi makan yang sebelumnya tertata rapi kini menghadap ke arah yang sama—ke arah saya, seolah-olah ada yang duduk di sana, memperhatikan saya.

Saya merasakan udara menjadi lebih dingin. Kemudian, terdengar bisikan. Pelan, serak, seperti seseorang berbisik di telinga saya:

"Pergi… sebelum terlambat."

Saya menelan ludah, merinding dari ujung kepala sampai kaki. Tapi saya masih mencoba berpikir logis. Mungkin ini hanya sugesti, pikir saya. Saya menenangkan diri dan mencoba mengabaikan semuanya.

Saya memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Tapi begitu saya berbalik—saya melihatnya.

Sosok hitam tinggi berdiri di lorong, tepat di depan kamar saya. Tidak memiliki wajah, hanya bayangan gelap dengan mata merah redup yang berkilat di tengah kegelapan.

Saya ingin berteriak, tapi suara saya tercekat. Sosok itu melangkah maju. Saya gemetar ketakutan, mundur perlahan, sampai punggung saya menyentuh dinding.

Kemudian, lampu tiba-tiba menyala. Sosok itu menghilang. Seolah-olah tidak pernah ada.

Saya terengah-engah. Jantung berdegup kencang. Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mengambil keputusan. Saya berlari ke kamar, mengambil barang seadanya, lalu keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang.

Pagi harinya, saya kembali bersama seorang teman. Kami menemukan sesuatu yang membuat saya bersyukur telah pergi tadi malam.

Di kaca jendela ruang tamu, tempat saya pertama kali melihat bayangan, ada tulisan samar—seperti dicoret dengan jari pada kaca berembun.

"Aku hanya ingin berteman."

Rumah itu kini kosong. Saya tidak pernah kembali lagi. Dan saya harap, saya tidak pernah benar-benar tahu siapa atau apa yang ada di sana malam itu.

No comments:

Post a Comment

Mereka ada dimana-mana

Penghuni Belakang

  Andi baru saja pindah ke rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Rumah itu murah sekali, jauh lebih murah daripada harga pasaran. Pemili...