Peninggalan Nenek
Setelah neneknya meninggal, Lila diwarisi rumah tua di pinggiran kota Bogor. Rumah itu sudah lama kosong, dengan dinding berjamur dan aroma kayu lapuk yang menyesakkan. Tapi yang paling menarik perhatian Lila adalah sebuah cermin besar berbingkai ukiran Jawa, berdiri menjulang di sudut kamar tidur utama.
“Jangan buang cermin itu,” pesan almarhum neneknya dulu. “Dia yang menjaga rumah ini.”
Lila menganggap itu cuma mitos. Tapi sejak hari pertama ia tidur di sana, hal-hal aneh mulai terjadi.
Malam itu, Lila terbangun jam 2 pagi. Ia mendengar suara seperti ketukan dari dalam cermin. Pelan, tapi berirama. Seperti kode morse yang mendesak.
Tok... tok... tok-tok... tok...
Dengan jantung berdegup, ia menyalakan senter dan menyorot ke arah cermin. Tak ada apa-apa. Tapi saat ia mendekat, bayangannya tidak mengikuti gerakannya dengan sempurna. Ketika ia mengangkat tangan kiri, bayangannya mengangkat tangan kanan... tapi terlambat setengah detik.
Lila mundur perlahan. Ia menyentuh permukaan cermin—dingin seperti es. Tapi dari dalam, ia bisa melihat bekas telapak tangan menempel di balik kaca.
Dan kemudian, suara bisikan terdengar pelan, nyaris tak terdengar:
“Keluar… aku ingin keluar...”
No comments:
Post a Comment