Dita baru saja pindah ke sebuah kos murah di pinggiran kota. Ia seorang mahasiswa yang sedang mencari tempat tinggal dekat kampusnya. Kos itu tampak tua, tapi pemiliknya mengatakan bahwa semua kamar sudah terisi, kecuali satu kamar di pojok lantai dua.
Malam pertama di kamar itu terasa aneh. Saat sedang membaca buku, Dita mendengar suara langkah kaki di luar kamarnya. Ia mengira itu penghuni lain, tapi ketika mengintip ke luar, lorong itu kosong. Ia mengabaikannya dan kembali tidur.
Malam berikutnya, suara aneh kembali terdengar, kali ini lebih jelas—suara seseorang berbisik di dekat telinganya. Dita langsung terbangun dan melihat bayangan hitam berdiri di sudut kamar. Ia mencoba menyalakan lampu, tetapi lampu tidak berfungsi. Saat itulah bayangan itu bergerak mendekat dengan wajah yang samar dan mata kosong.
Dita menjerit dan berlari keluar kamar. Ia mengetuk kamar ibu kos dengan panik. Setelah beberapa saat, ibu kos membukakan pintu dengan wajah pucat.
"Kamu tidur di kamar pojok, ya?" tanyanya dengan suara lirih.
Dita mengangguk ketakutan.
"Kamar itu... dulunya dihuni oleh seorang gadis. Dia meninggal di sana karena bunuh diri. Sejak saat itu, banyak penghuni yang merasa terganggu sampai akhirnya tidak ada yang berani tinggal di sana lagi…"
Dita tak bisa berkata apa-apa. Keesokan paginya, ia segera mengemasi barang dan meninggalkan kos tersebut. Tapi sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah jendela kamarnya—dan di sana, ia melihat sosok gadis berambut panjang berdiri, menatapnya dengan senyum menyeramkan.
Dita langsung berlari keluar dari area kos tanpa menoleh lagi. Ia tak peduli meski hujan turun deras malam itu. Langkahnya terus membawanya menjauh, napasnya tersengal-sengal, dan jantungnya masih berdetak kencang.
Ia memutuskan menginap di rumah temannya, Rina, yang tidak jauh dari sana. Dengan tubuh gemetar, ia menceritakan semuanya kepada Rina.
"Kamu yakin melihat sosok itu?" tanya Rina dengan mata membelalak.
"Aku yakin! Dia berdiri di jendela dan menatapku!" jawab Dita dengan suara bergetar.
Mendengar itu, Rina tampak berpikir sejenak sebelum berkata, "Aku pernah dengar cerita tentang kamar itu. Katanya, gadis yang bunuh diri di sana dulu punya dendam. Dia selalu menghantui orang yang tidur di kamarnya."
Dita terdiam. Ia berpikir keras. Jika benar sosok itu masih ada, apakah ia akan terus diganggu meski sudah keluar dari kos itu?
Malam berikutnya…
Dita tertidur di kamar Rina, tetapi tidurnya gelisah. Dalam mimpinya, ia kembali berada di kamar kos tersebut. Kali ini, sosok perempuan itu duduk di ujung kasur dengan rambut menutupi wajahnya.
"Kenapa kamu pergi...?"
Suara itu menggema di telinganya. Dita tak bisa bergerak, seolah tubuhnya terjebak di dalam mimpi buruk. Tiba-tiba, sosok itu mengangkat wajahnya—bola matanya hitam pekat, dan bibirnya menyeringai menyeramkan.
"Kamu tidak bisa lari..."
Dita menjerit dan terbangun. Napasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Rina yang tidur di sampingnya ikut terbangun.
"Kamu kenapa?!" tanya Rina panik.
Dita gemetar, "Dia masih mengejarku… Aku harus kembali ke kos itu."
Meskipun takut, Dita merasa bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan mimpi buruk ini adalah menghadapi sosok tersebut. Dengan keberanian yang tersisa, ia dan Rina kembali ke kos tua itu keesokan malamnya.
Di kamar kos…
Dita duduk bersila di tengah kamar dengan lilin menyala. Ia mencoba berkomunikasi dengan arwah yang menghantui tempat itu.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" bisiknya pelan.
Ruangan tiba-tiba menjadi dingin, dan suara isakan terdengar dari sudut kamar. Samar-samar, bayangan itu muncul kembali. Kali ini, Dita melihat wajahnya lebih jelas—sosok itu tampak sedih, bukan menakutkan seperti sebelumnya.
"Aku... kesepian..."
Dita menelan ludah. Ia sadar, roh gadis itu tidak ingin mencelakainya—ia hanya merasa sendiri dan terlupakan.
"Aku bisa membantumu," ujar Dita lembut. "Tapi kamu harus pergi dengan tenang."
Seketika, udara di dalam kamar berubah. Bayangan itu perlahan memudar, dan lilin yang menyala tiba-tiba padam dengan sendirinya.
Setelah kejadian itu, Dita tidak lagi diganggu. Kamar itu tetap kosong, tetapi kos tersebut tidak lagi terasa menyeramkan. Mungkin… arwah gadis itu akhirnya menemukan ketenangan.

No comments:
Post a Comment