Dina adalah seorang mahasiswi yang baru saja pindah ke sebuah kamar kos di dekat kampusnya. Kosan itu murah dan cukup nyaman, meskipun sedikit tua dan agak sepi. Dina tidak terlalu memikirkan hal itu—baginya, yang penting bisa fokus belajar.
Malam pertama berjalan biasa saja, sampai sekitar pukul 2 pagi, Dina terbangun oleh suara lirih seperti seseorang berbisik. Ia membuka matanya dan melihat ke sekeliling kamar. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya suara dari luar, pikirnya. Ia kembali tidur.
Namun, malam berikutnya, hal yang sama terjadi lagi. Kali ini suara itu lebih jelas, seperti seseorang sedang berbisik di sudut kamar. Dina menyalakan lampu, tetapi tidak melihat apa pun. Ia mulai merasa tidak nyaman.
Malam ketiga, Dina memutuskan untuk merekam suara di kamarnya menggunakan ponsel. Saat suara bisikan muncul lagi, ia menekan tombol rekam. Keesokan paginya, ia memutar rekaman itu. Awalnya hanya terdengar suara angin pelan, tetapi setelah beberapa saat, terdengar suara wanita berbisik:
"Tolong... aku di sini..."
Dina merinding. Ia segera mencari tahu tentang kamar kosnya. Ternyata, beberapa tahun lalu, ada seorang perempuan yang pernah tinggal di kamar itu dan menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Sejak saat itu, Dina tidak berani tinggal di kamar tersebut lagi. Ia pindah ke kos lain, meninggalkan misteri yang tak terpecahkan—siapakah sosok yang berbisik di malam hari?
Dina akhirnya memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang penghuni lama kamar itu. Ia bertanya kepada pemilik kos, tetapi wanita tua itu hanya menggeleng dan berkata dengan wajah sedikit pucat,
"Sudah lama tidak ada yang menanyakan tentang itu. Kalau kamu merasa tidak nyaman, lebih baik pindah saja."
Tidak puas dengan jawaban tersebut, Dina bertanya kepada tetangga kos yang sudah lama tinggal di sana. Salah satu dari mereka, seorang perempuan bernama Rina, akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Dulu ada seorang mahasiswi bernama Sinta yang tinggal di kamarmu. Ia pendiam dan jarang bergaul. Suatu hari, dia tiba-tiba menghilang. Pemilik kos bilang dia pindah tanpa memberi tahu siapa pun, tapi beberapa orang bilang mereka pernah mendengar tangisan dari kamarnya sebelum dia menghilang. Sejak saat itu, tidak ada yang betah tinggal di kamar itu lebih dari beberapa bulan."
Dina semakin merinding. Malam itu, ia mencoba tidur lebih awal, tetapi kembali terbangun pada pukul 2 pagi. Kali ini, bisikan itu berubah menjadi suara tangisan. Tidak tahan lagi, ia menyalakan lampu dan melihat sesuatu yang membuatnya hampir berteriak.
Di sudut kamar, ada seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat dan mata kosong menatapnya. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, dan bibirnya bergetar seperti sedang berusaha berbicara.
"Tolong... aku di sini..."
Dina gemetar, tetapi entah kenapa ia merasa bahwa hantu itu tidak berniat menyakitinya. Dengan suara bergetar, ia mencoba berbicara,
"Siapa kamu? Apa yang terjadi padamu?"
Hantu itu menunjuk ke lantai dekat lemari. Seketika, lampu kamar berkedip-kedip dan tubuhnya perlahan menghilang.
Paginya, dengan rasa penasaran bercampur takut, Dina memberanikan diri untuk memindahkan lemari tersebut. Betapa terkejutnya ia saat menemukan ubin yang sedikit retak di bawahnya. Ia segera menghubungi pemilik kos dan meminta agar lantai itu diperiksa.
Saat ubin dibongkar, semua orang yang hadir terkejut. Di bawahnya, ada tulang belulang manusia yang sudah lama terkubur.
Polisi segera dipanggil, dan setelah penyelidikan lebih lanjut, terungkap bahwa tulang itu adalah milik Sinta, penghuni lama kamar tersebut. Ia ternyata bukan pergi, melainkan dibunuh dan tubuhnya disembunyikan di bawah lantai.
Pelaku sebenarnya? Tak lain adalah pemilik kos sendiri, yang ternyata pernah memiliki dendam pribadi terhadap Sinta. Akhirnya, wanita tua itu ditangkap dan dihukum.
Sejak saat itu, tidak ada lagi gangguan di kamar kos tersebut. Dina pindah ke tempat lain dengan perasaan lega, meskipun sesekali ia masih teringat wajah pucat Sinta. Ia tahu bahwa arwah itu hanya ingin ditemukan, agar bisa pergi dengan tenang.



